مشاركة

Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri
Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri
مؤلف: Loka

Bab 1

مؤلف: Loka
Alamat penerima: Apartemen Lansa, Gedung 17, Unit 1203.

Catatan: Wajib diterima langsung oleh penerima. Tidak boleh diserahkan kepada anggota keluarga.

Aku menatap kalimat terakhir itu cukup lama.

Tidak boleh diserahkan kepada anggota keluarga.

Aku dan Wimar Rijaya sudah menikah selama enam tahun. Setiap kali hendak berlayar, dia selalu meletakkan kunci di laci kedua dekat pintu masuk.

Dia berkata, "Icha, rumah ini kuserahkan padamu."

Aku merawat kedua orang tuanya, mengurus dokumen pemeriksaan tahunan untuknya, dan membantu mengirim pemberitahuan ke grup keluarga para awak kapal.

Selama ini, aku selalu mengira diriku termasuk keluarga.

Ternyata dalam daftarnya, keluarga justru adalah orang yang tidak boleh menyentuh satu set perhiasan berlian itu.

Ponsel di atas meja bergetar.

Pesan dari Wimar masuk.

[Baru melewati Terusan Zuesh. Sinyalnya nggak stabil.]

Aku hanya membalas satu kata.

[Ya.]

Mungkin dia tidak menyangka jawabanku akan sesingkat itu. Dua menit kemudian, dia mengirim pesan lagi.

[Kenapa hari ini kamu nggak tanya aku sudah makan atau belum?]

Aku menutup buku catatan perjalanan kapal.

[Sudah makan?]

Dia membalas dengan cepat.

[Sudah.]

Aku menatap layar dan tersenyum tipis.

Orang yang katanya sinyalnya tidak stabil, ternyata cukup lancar saat membalas pesan ini.

Keesokan paginya, aku pergi ke Apartemen Lansa.

Itu adalah kawasan apartemen dengan pemandangan laut termahal di Pelabuhan Garma, hanya sepuluh menit berkendara dari dermaga.

Petugas keamanan bertanya siapa yang kucari.

Aku menyerahkan daftar pengiriman di ponsel kepadanya.

"Gedung 17, unit 1203. Pengecekan barang."

Begitu melihat catatan di sana, sikap petugas keamanan langsung menjadi lebih sopan.

"Mohon tunggu sebentar. Kebetulan Nona Luna dari unit 1203 lagi berada di rumah."

Nona Luna.

Aku mengingat nama itu baik-baik.

Saat lift bergerak naik, aku menerima panggilan video dari Wimar.

Aku tidak mengangkatnya.

Dia menelepon tiga kali berturut-turut.

Pada percobaan keempat, panggilan itu berubah menjadi pesan teks.

[Kamu di mana?]

Aku membalas, [Belanja bahan makanan.]

Dia mengirim pesan lagi, [Jangan pergi ke mana-mana. Aku nggak ada di rumah, banyak hal yang nggak bisa kamu tangani sendiri.]

Pintu lift terbuka.

Pintu unit 1203 di gedung 17 juga terbuka.

Seorang wanita mengenakan pakaian rumah berbahan sutra berdiri di sana. Di lehernya, terpasang kalung berlian berbentuk ombak itu.

Begitu melihatku, jemarinya menyentuh kalung tersebut.

"Kamu siapa?"

Aku menjawab, "Icha Amerta."

Senyum di wajahnya sempat terhenti sesaat, tetapi dengan cepat kembali seperti semula.

"Ternyata Nyonya Rijaya."

Dua kata "Nyonya Rijaya" keluar dari mulutnya tanpa sedikit pun rasa sungkan ataupun bersalah.

Luna Prama mempersilakanku masuk.

Di ruang tamu terdapat beberapa kotak paket yang sudah dibuka. Kertas pembungkus kerajinan tangan khas Prankhis masih tergeletak di atas meja.

Aku melihat sepasang anting-anting, gelang, dan sebuah kartu kecil.

Tulisan di kartu itu adalah tulisan tangan Wimar.

[Ombak seharusnya dikenakan oleh orang yang memahami laut.]

Pada tahun pertama pernikahan kami, Wimar pernah memberiku sebuah jam tangan pelaut.

Talinya keras dan membuat pergelangan tanganku lecet jika dipakai terlalu lama.

Saat itu dia berkata, "Istri seorang kapten kapal memang seharusnya punya sesuatu yang berhubungan dengan kapal."

Aku memakainya selama enam tahun.

Kemudian, dia menghadiahkan perhiasan ombak kepada wanita lain dan berkata bahwa wanita itulah yang memahami laut.

Luna menuangkan segelas air untukku.

"Nyonya Rijaya datang buat mengambil barang?"

Aku tidak menyentuh gelas itu.

"Barang yang dibeli Wimar buatku dikirim ke tempatmu."

Dia tertawa.

"Nyonya Rijaya, soal itu sebaiknya kamu tanyakan langsung kepadanya. Barang itu milik siapa, bukannya cukup lihat alamat penerimanya?"

Aku berkata, "Aku sudah melihatnya."

Aku mengeluarkan ponsel dan memotret kartu di atas meja.

Luna mengulurkan tangan untuk menghalangiku.

"Perbuatanmu seperti ini kurang pantas."

Aku mengangkat pandangan menatapnya.

"Menerima perhiasan berlian dari pria yang sudah menikah, itu baru pantas?"

Wajahnya langsung muram.

"Wimar pernah bilang kepadamu, 'kan? Kami sudah saling mengenal jauh sebelum dia mengenalmu."

Aku mengangguk.

"Jadi kamu sudah menunggu selama enam tahun. Pasti melelahkan."

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 11

    Saat stempel resmi dijatuhkan, dia memejamkan mata.Setelah menerima surat cerai, aku melepas cincin pernikahan lama itu.Di bagian dalamnya terukir inisial nama kami yang sudah agak aus.Wimar melihatnya dan napasnya terdengar berat."Bolehkah aku menyimpan cincin itu?"Aku berkata, "Nggak."Setelah keluar, aku menjual cincin itu ke toko barang bekas.Uangnya tidak seberapa.Aku berbalik dan membelikan Riana sebuah gaun.Begitu menerimanya, matanya langsung memerah."Kak, aku nggak bisa menerimanya.""Buat merayakan suamimu yang sementara menggantikan posisi kapten Yuansa."Riana berkata pelan, "Dia nggak mau memanfaatkan masalah yang menimpa Kapten Wimar buat mengambil alih posisinya."Aku berkata, "Dia bukan menggantikan siapa pun karena memanfaatkan kesempatan. Dia mendapatkan pengakuan dari grup berkat kemampuannya."Tidak lama kemudian, pengumuman keputusan grup dikeluarkan.Wimar dicabut dari kesempatan untuk naik jabatan menjadi manajer armada, diwajibkan mengikuti pelatihan se

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 10

    Aku bilang tidak masalah.Hanya tiga puluh hari.Setiap hari dia mengirimkan sesuatu kepadaku.Bubur hangat, bunga, kotak obat, dan suvenir dari pelabuhan.Semua barang itu kukembalikan dalam keadaan utuh.Pada hari ketujuh, dia berdiri menungguku di depan hotel."Icha, dulu aku memang brengsek."Aku berjalan melewatinya.Dia segera menyusul."Bukannya dulu kamu paling berharap aku bisa berlabuh dengan selamat? Sekarang, aku sudah berada di darat. Apa kamu bahkan nggak mau melihatku?"Aku berhenti."Aku berharap kamu selamat bukan berarti aku harus menerimamu kembali."Wajahnya memucat."Kamu benar-benar sudah nggak mencintaiku?"Aku tidak menjawab.Cinta yang tersisa begitu sedikit hingga suatu hari nanti, tidak lagi bisa dihitung.Luna juga belum berhenti membuat masalah.Dia mengunggah tulisan panjang di akunnya.Dia mengaku sebagai mitra promosi pelabuhan yang menjadi sasaran keluarga kapten kapal.Dalam foto yang diunggahnya, bagian yang memperlihatkan perhiasan dipotong. Yang ter

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 9

    Bibir Wimar bergerak beberapa kali."Aku nggak menyuruhnya mengajukan ini."Penanggung jawab bertanya, "Akun ini milik Anda, kode verifikasinya dikirim ke ponsel pribadi Anda."Wimar terdiam.Aku menatapnya."Jadi, beberapa tahun ini aku dibuat tinggal di Lansa?""Luna bilang waktu itu dia nggak punya tempat tinggal. Aku cuma mau membantunya melewati masa itu."Aku tertawa."Dengan memakai namaku buat membantunya?"Dia menunduk."Kukira cuma beberapa kali menerima tunjangan. Nggak bakal ada yang memeriksanya."Wajah penanggung jawab langsung mengeras."Kapten Wimar, perhatikan ucapan Anda. Tunjangan keluarga berasal dari rekening khusus, bukan uang pribadi Anda."Barulah Wimar sadar bahwa dia telah salah bicara.Dia menatapku, lalu merendahkan suaranya."Icha, aku sungguh nggak bermaksud mencelakaimu."Aku bertanya, "Lalu, pernahkah kau memikirkanku?"Dia tidak menjawab.Karena jawabannya terlalu buruk untuk diucapkan.Pintu ruang rapat kembali terbuka.Luna dibawa masuk oleh staf.Beg

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 8

    "Dia yang mencariku.""Dia menangis tersedu-sedu. Katanya, kamu mengancamnya dengan rekaman."Aku membuka ponsel dan memutar rekaman di kafe.Mendengar ucapan Luna, "dia sudah nggak mencintaimu lagi", wajah Wimar tampak sangat muram.Ketika rekaman sampai pada kalimat, "aku nggak perlu melakukan apa pun, tapi berhasil mendapatkan rasa sayangnya", Wimar berkata pelan, "Matikan."Aku mematikannya.Dia duduk di sofa dan terdiam cukup lama.Aku kembali membereskan barang-barang ke dalam koper.Tiba-tiba dia bertanya, "Kamu mau pergi ke mana?""Pindah.""Ini rumah kita.""Sebentar lagi bukan."Dia berdiri."Icha, aku sudah bilang bakal mengurus Luna. Apa lagi yang kamu mau?"Aku menarik ritsleting koper hingga tertutup."Kamu nggak bisa mengatasinya.""Aku bisa.""Kamu nggak tega."Wajahnya memucat.Ponsel Wimar berdering.Luna.Wimar menatap layar, tetapi tidak mengangkatnya.Panggilan itu berhenti, lalu kembali berdering.Dia tetap tidak mengangkatnya.Aku menyeret koper menuju pintu.Wim

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 7

    "Aku tahu kamu memegang seluruh wewenang pemeriksaan kapal. Bisakah kamu mencabut pengajuan pemeriksaan ini?""Selama enam tahun, kamu nggak pernah peduli dengan usaha yang ditinggalkan ayahku. Sekarang, setelah terjadi masalah, kamu baru takut dengan wewenang yang kumiliki. Semuanya sudah terlambat."Wimar meletakkan surat pemberitahuan itu. Untuk pertama kalinya, kepanikan yang nyata tampak di wajahnya."Icha, kamu nggak boleh melanjutkan pemeriksaan ini."Aku berkata, "Takut memengaruhi kenaikan jabatanmu?""Bukan."Dia terdiam sejenak."Ini bakal memengaruhi seluruh kapal."Aku menatapnya."Jadi, sekarang kamu akhirnya tahu bahwa ada seluruh kapal yang harus dipikirkan."Dia menghampiriku dan mencengkeram bahuku."Dengarkan aku kali ini. Soal Luna bakal aku urus. Barang itu juga bakal kuambil kembali. Cabut pengajuanmu."Aku bertanya, "Setelah dicabut, lalu kamu tetap membubuhkan stempelku seperti biasa?"Wajahnya seketika pucat pasi."Aku salah."Itu pertama kalinya Wimar mengakui

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 6

    Malam itu, aku pindah ke kamar tamu.Wimar berdiri di depan pintu."Icha, jangan pisah kamar."Aku merapikan tempat tidur."Kamu sepuluh bulan di laut. Aku memang sudah terbiasa tidur sendiri."Wimar tidak bisa berkata apa-apa.Beberapa saat kemudian, nadanya melunak."Aku bakal menyuruh Luna mengembalikan perhiasan berlian itu.""Sudah kotor.""Kalau begitu, aku belikan yang baru.""Nggak perlu."Wimar masuk dan hendak mengambil sarung selimut dari tanganku.Aku menghindar.Raut marah muncul di wajahnya."Sebenarnya kamu mau apa? Aku sudah mengalah.""Aku mau cerai."Dia menatapku."Walau kamu punya hak buat melakukan pemeriksaan, kita sudah enam tahun menjadi suami istri. Apa harus sampai saling menghancurkan?"Aku merapikan bantal."Aku nggak perlu mengulang perkataanku."Wimar mencibir, merasa aku masih mencari gara-gara tanpa alasan. "Beginilah kenyataannya. Memangnya cuma karena kamu marah, keadaan bisa berubah?"Aku tidak lagi menghiraukannya.Melihat sikapku yang tegas, Wimar t

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status