Short
Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri

Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri

Oleh:  LokaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
11Bab
4Dibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Suamiku adalah kapten kapal kargo. Sepuluh bulan dalam setahun, dia menghabiskan waktunya di laut. Aku selalu sangat memercayainya. Hanya saja, diam-diam aku punya kebiasaan kecil yang tidak pernah diperhatikan siapa pun. Setiap kali kapalnya singgah di pelabuhan untuk mengisi perbekalan, aku selalu mengajak istri mualim satu minum bersama. Mualim satu adalah pria pendiam dan tidak banyak bicara, sedangkan istrinya sangat cerewet dan tidak kuat minum alkohol. Kami mengobrol tentang urusan rumah tangga, tentang berbagai hal di kapal. Saat minuman kami memasuki gelas ketiga, tiba-tiba dia mendekat dan berkata. "Suamimu romantis sekali. Bulan lalu, waktu kapalnya berlabuh di Marsey, dia sengaja mencari pengrajin setempat untuk membuat satu set perhiasan berlian bertema ombak. Ada kalung, gelang, dan anting-anting, lengkap semuanya. Dia bahkan menitipkannya lewat kapal pemasok untuk dibawa pulang. Benar-benar membuat iri." Aku berkata pelan, "Benarkah? Kenapa aku nggak menerimanya?" Aku tidak bertanya lebih lanjut, dia pun paham untuk mengganti topik pembicaraan. Malam itu, sesampainya di rumah, aku membuka buku catatan perjalanan kapal. Pada daftar barang yang dibawa dari Pelabuhan Marsey, alamat penerima di bagian perhiasan ternyata bukan rumahku. Laut penuh badai yang tidak menentu. Sudah waktunya aku turun dari kapal.

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

Alamat penerima: Apartemen Lansa, Gedung 17, Unit 1203.

Catatan: Wajib diterima langsung oleh penerima. Tidak boleh diserahkan kepada anggota keluarga.

Aku menatap kalimat terakhir itu cukup lama.

Tidak boleh diserahkan kepada anggota keluarga.

Aku dan Wimar Rijaya sudah menikah selama enam tahun. Setiap kali hendak berlayar, dia selalu meletakkan kunci di laci kedua dekat pintu masuk.

Dia berkata, "Icha, rumah ini kuserahkan padamu."

Aku merawat kedua orang tuanya, mengurus dokumen pemeriksaan tahunan untuknya, dan membantu mengirim pemberitahuan ke grup keluarga para awak kapal.

Selama ini, aku selalu mengira diriku termasuk keluarga.

Ternyata dalam daftarnya, keluarga justru adalah orang yang tidak boleh menyentuh satu set perhiasan berlian itu.

Ponsel di atas meja bergetar.

Pesan dari Wimar masuk.

[Baru melewati Terusan Zuesh. Sinyalnya nggak stabil.]

Aku hanya membalas satu kata.

[Ya.]

Mungkin dia tidak menyangka jawabanku akan sesingkat itu. Dua menit kemudian, dia mengirim pesan lagi.

[Kenapa hari ini kamu nggak tanya aku sudah makan atau belum?]

Aku menutup buku catatan perjalanan kapal.

[Sudah makan?]

Dia membalas dengan cepat.

[Sudah.]

Aku menatap layar dan tersenyum tipis.

Orang yang katanya sinyalnya tidak stabil, ternyata cukup lancar saat membalas pesan ini.

Keesokan paginya, aku pergi ke Apartemen Lansa.

Itu adalah kawasan apartemen dengan pemandangan laut termahal di Pelabuhan Garma, hanya sepuluh menit berkendara dari dermaga.

Petugas keamanan bertanya siapa yang kucari.

Aku menyerahkan daftar pengiriman di ponsel kepadanya.

"Gedung 17, unit 1203. Pengecekan barang."

Begitu melihat catatan di sana, sikap petugas keamanan langsung menjadi lebih sopan.

"Mohon tunggu sebentar. Kebetulan Nona Luna dari unit 1203 lagi berada di rumah."

Nona Luna.

Aku mengingat nama itu baik-baik.

Saat lift bergerak naik, aku menerima panggilan video dari Wimar.

Aku tidak mengangkatnya.

Dia menelepon tiga kali berturut-turut.

Pada percobaan keempat, panggilan itu berubah menjadi pesan teks.

[Kamu di mana?]

Aku membalas, [Belanja bahan makanan.]

Dia mengirim pesan lagi, [Jangan pergi ke mana-mana. Aku nggak ada di rumah, banyak hal yang nggak bisa kamu tangani sendiri.]

Pintu lift terbuka.

Pintu unit 1203 di gedung 17 juga terbuka.

Seorang wanita mengenakan pakaian rumah berbahan sutra berdiri di sana. Di lehernya, terpasang kalung berlian berbentuk ombak itu.

Begitu melihatku, jemarinya menyentuh kalung tersebut.

"Kamu siapa?"

Aku menjawab, "Icha Amerta."

Senyum di wajahnya sempat terhenti sesaat, tetapi dengan cepat kembali seperti semula.

"Ternyata Nyonya Rijaya."

Dua kata "Nyonya Rijaya" keluar dari mulutnya tanpa sedikit pun rasa sungkan ataupun bersalah.

Luna Prama mempersilakanku masuk.

Di ruang tamu terdapat beberapa kotak paket yang sudah dibuka. Kertas pembungkus kerajinan tangan khas Prankhis masih tergeletak di atas meja.

Aku melihat sepasang anting-anting, gelang, dan sebuah kartu kecil.

Tulisan di kartu itu adalah tulisan tangan Wimar.

[Ombak seharusnya dikenakan oleh orang yang memahami laut.]

Pada tahun pertama pernikahan kami, Wimar pernah memberiku sebuah jam tangan pelaut.

Talinya keras dan membuat pergelangan tanganku lecet jika dipakai terlalu lama.

Saat itu dia berkata, "Istri seorang kapten kapal memang seharusnya punya sesuatu yang berhubungan dengan kapal."

Aku memakainya selama enam tahun.

Kemudian, dia menghadiahkan perhiasan ombak kepada wanita lain dan berkata bahwa wanita itulah yang memahami laut.

Luna menuangkan segelas air untukku.

"Nyonya Rijaya datang buat mengambil barang?"

Aku tidak menyentuh gelas itu.

"Barang yang dibeli Wimar buatku dikirim ke tempatmu."

Dia tertawa.

"Nyonya Rijaya, soal itu sebaiknya kamu tanyakan langsung kepadanya. Barang itu milik siapa, bukannya cukup lihat alamat penerimanya?"

Aku berkata, "Aku sudah melihatnya."

Aku mengeluarkan ponsel dan memotret kartu di atas meja.

Luna mengulurkan tangan untuk menghalangiku.

"Perbuatanmu seperti ini kurang pantas."

Aku mengangkat pandangan menatapnya.

"Menerima perhiasan berlian dari pria yang sudah menikah, itu baru pantas?"

Wajahnya langsung muram.

"Wimar pernah bilang kepadamu, 'kan? Kami sudah saling mengenal jauh sebelum dia mengenalmu."

Aku mengangguk.

"Jadi kamu sudah menunggu selama enam tahun. Pasti melelahkan."

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Tidak ada komentar
11 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status