مشاركة

Bab 4

مؤلف: Loka
Keesokan harinya, Grup Perusahaan Pelayaran mengadakan jamuan kecil untuk menyambut kapal Wimar yang bersandar di pelabuhan.

Ibu mertua meneleponku pagi-pagi dan menyuruhku datang.

"Kalau kamu nggak datang, orang-orang bakal memandang Wimar seperti apa?"

Aku bertanya, "Dia bawa Luna?"

Ibu mertua menjawab dengan tidak sabar.

"Luna itu rekan mitra kerja, tentu dia datang. Jangan kekanak-kanakan."

Aku datang.

Aku mengenakan gaun hitam panjang tanpa memakai cincin pernikahan.

Jamuan diadakan di hotel pelabuhan.

Saat aku masuk ke ruang jamuan, Luna duduk di sebelah kiri Wimar.

Dia mengenakan gaun putih, dengan kalung berbentuk ombak yang terpasang di lehernya.

Antingnya juga terpasang.

Satu set lengkap.

Begitu melihatku, ibu mertua langsung melambaikan tangan.

"Icha, cepat ke sini. Kamu duduk di sana saja, dekat pintu biar gampang waktu hidangan disajikan."

Wimar tidak membantah.

Luna mengangkat kepala dan tersenyum tipis.

"Nyonya Rijaya, jangan salah paham. Perhiasan ini dipakai buat foto hari ini. Wimar bilang, untuk sementara biar aku yang menyimpannya."

Orang-orang di meja langsung bersorak menggoda.

"Kapten Wimar memang punya selera bagus. Model ombak ini cocok banget dengan Nona Luna."

"Namanya juga kapten kapal. Cuma orang yang paham laut yang bisa memahaminya."

"Nyonya Rijaya juga jangan cemburu. Nona Luna itu orang sendiri."

Wimar mengangkat gelas.

"Sudahlah, jangan asal bicara."

Katanya jangan asal bicara, tapi sudut bibirnya malah terangkat.

Aku duduk di dekat pintu. Pelayan meletakkan hidangan dingin di depanku.

Lambungku bermasalah, jadi aku tidak bisa makan makanan laut dingin.

Dulu Wimar tahu soal itu.

Sekarang, dia malah sedang mengambilkan makanan hangat untuk Luna.

Luna membawa gelas anggur dan berjalan menghampiriku.

"Nyonya Rijaya, aku bersulang buatmu. Dulu, Wimar sering bilang kamu begitu sabar merawat orang tua di rumah. Aku cukup kagum padamu."

Aku menatap kalungnya.

"Dia juga bilang apa?"

Mata Luna tampak tersenyum.

"Dia selalu bilang kamu serba sempurna, cuma saja kamu nggak bisa memahami lautan di dalam hatinya."

Seluruh ruangan sempat hening. Seseorang langsung tertawa untuk mencairkan suasana.

"Namanya juga keluarga pelaut. Jarang bertemu, jadi harus saling memahami."

Ibu mertua berbisik di sampingku.

"Minum. Jangan bikin malu."

Wimar menatapku.

"Icha, kalau ada masalah, kita bicarakan berdua nanti. Jangan kehilangan harga diri di depan semua orang."

Aku mengangkat gelas.

Namun, tidak meminumnya.

Aku menuangkan anggur dari gelasku ke pot bunga di samping.

Wajah Luna langsung berubah.

Ibu mertua berdiri dengan kasar.

"Icha!"

Wimar juga berdiri dan mengulurkan tangan hendak menarikku.

Saat itu, istri mualim satu, Riana Yarda, mendorong pintu dari luar dan masuk.

Wajahnya merah karena mabuk. Di tangannya ada selembar kertas yang terlipat.

"Kak, aku cari kamu dari tadi."

Dia menyelipkan kertas itu ke tanganku, suaranya tidak bisa ditahan.

"Kiriman titipan Marsey itu bukan cuma perhiasan berlian, tapi juga ada surat kuasa penerimaan. Nama yang tertulis di sana namamu, tapi aku ingat kamu sama sekali nggak pernah tanda tangan."

Wajah Wimar seketika pucat.

Dia mengulurkan tangan hendak merebutnya.

Aku mundur selangkah dan membuka kertas itu.

Di kolom tanda tangan paling bawah, tertulis jelas namaku.

Icha Amerta.

Itu bukan tulisanku.

استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق

أحدث فصل

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 11

    Saat stempel resmi dijatuhkan, dia memejamkan mata.Setelah menerima surat cerai, aku melepas cincin pernikahan lama itu.Di bagian dalamnya terukir inisial nama kami yang sudah agak aus.Wimar melihatnya dan napasnya terdengar berat."Bolehkah aku menyimpan cincin itu?"Aku berkata, "Nggak."Setelah keluar, aku menjual cincin itu ke toko barang bekas.Uangnya tidak seberapa.Aku berbalik dan membelikan Riana sebuah gaun.Begitu menerimanya, matanya langsung memerah."Kak, aku nggak bisa menerimanya.""Buat merayakan suamimu yang sementara menggantikan posisi kapten Yuansa."Riana berkata pelan, "Dia nggak mau memanfaatkan masalah yang menimpa Kapten Wimar buat mengambil alih posisinya."Aku berkata, "Dia bukan menggantikan siapa pun karena memanfaatkan kesempatan. Dia mendapatkan pengakuan dari grup berkat kemampuannya."Tidak lama kemudian, pengumuman keputusan grup dikeluarkan.Wimar dicabut dari kesempatan untuk naik jabatan menjadi manajer armada, diwajibkan mengikuti pelatihan se

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 10

    Aku bilang tidak masalah.Hanya tiga puluh hari.Setiap hari dia mengirimkan sesuatu kepadaku.Bubur hangat, bunga, kotak obat, dan suvenir dari pelabuhan.Semua barang itu kukembalikan dalam keadaan utuh.Pada hari ketujuh, dia berdiri menungguku di depan hotel."Icha, dulu aku memang brengsek."Aku berjalan melewatinya.Dia segera menyusul."Bukannya dulu kamu paling berharap aku bisa berlabuh dengan selamat? Sekarang, aku sudah berada di darat. Apa kamu bahkan nggak mau melihatku?"Aku berhenti."Aku berharap kamu selamat bukan berarti aku harus menerimamu kembali."Wajahnya memucat."Kamu benar-benar sudah nggak mencintaiku?"Aku tidak menjawab.Cinta yang tersisa begitu sedikit hingga suatu hari nanti, tidak lagi bisa dihitung.Luna juga belum berhenti membuat masalah.Dia mengunggah tulisan panjang di akunnya.Dia mengaku sebagai mitra promosi pelabuhan yang menjadi sasaran keluarga kapten kapal.Dalam foto yang diunggahnya, bagian yang memperlihatkan perhiasan dipotong. Yang ter

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 9

    Bibir Wimar bergerak beberapa kali."Aku nggak menyuruhnya mengajukan ini."Penanggung jawab bertanya, "Akun ini milik Anda, kode verifikasinya dikirim ke ponsel pribadi Anda."Wimar terdiam.Aku menatapnya."Jadi, beberapa tahun ini aku dibuat tinggal di Lansa?""Luna bilang waktu itu dia nggak punya tempat tinggal. Aku cuma mau membantunya melewati masa itu."Aku tertawa."Dengan memakai namaku buat membantunya?"Dia menunduk."Kukira cuma beberapa kali menerima tunjangan. Nggak bakal ada yang memeriksanya."Wajah penanggung jawab langsung mengeras."Kapten Wimar, perhatikan ucapan Anda. Tunjangan keluarga berasal dari rekening khusus, bukan uang pribadi Anda."Barulah Wimar sadar bahwa dia telah salah bicara.Dia menatapku, lalu merendahkan suaranya."Icha, aku sungguh nggak bermaksud mencelakaimu."Aku bertanya, "Lalu, pernahkah kau memikirkanku?"Dia tidak menjawab.Karena jawabannya terlalu buruk untuk diucapkan.Pintu ruang rapat kembali terbuka.Luna dibawa masuk oleh staf.Beg

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 8

    "Dia yang mencariku.""Dia menangis tersedu-sedu. Katanya, kamu mengancamnya dengan rekaman."Aku membuka ponsel dan memutar rekaman di kafe.Mendengar ucapan Luna, "dia sudah nggak mencintaimu lagi", wajah Wimar tampak sangat muram.Ketika rekaman sampai pada kalimat, "aku nggak perlu melakukan apa pun, tapi berhasil mendapatkan rasa sayangnya", Wimar berkata pelan, "Matikan."Aku mematikannya.Dia duduk di sofa dan terdiam cukup lama.Aku kembali membereskan barang-barang ke dalam koper.Tiba-tiba dia bertanya, "Kamu mau pergi ke mana?""Pindah.""Ini rumah kita.""Sebentar lagi bukan."Dia berdiri."Icha, aku sudah bilang bakal mengurus Luna. Apa lagi yang kamu mau?"Aku menarik ritsleting koper hingga tertutup."Kamu nggak bisa mengatasinya.""Aku bisa.""Kamu nggak tega."Wajahnya memucat.Ponsel Wimar berdering.Luna.Wimar menatap layar, tetapi tidak mengangkatnya.Panggilan itu berhenti, lalu kembali berdering.Dia tetap tidak mengangkatnya.Aku menyeret koper menuju pintu.Wim

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 7

    "Aku tahu kamu memegang seluruh wewenang pemeriksaan kapal. Bisakah kamu mencabut pengajuan pemeriksaan ini?""Selama enam tahun, kamu nggak pernah peduli dengan usaha yang ditinggalkan ayahku. Sekarang, setelah terjadi masalah, kamu baru takut dengan wewenang yang kumiliki. Semuanya sudah terlambat."Wimar meletakkan surat pemberitahuan itu. Untuk pertama kalinya, kepanikan yang nyata tampak di wajahnya."Icha, kamu nggak boleh melanjutkan pemeriksaan ini."Aku berkata, "Takut memengaruhi kenaikan jabatanmu?""Bukan."Dia terdiam sejenak."Ini bakal memengaruhi seluruh kapal."Aku menatapnya."Jadi, sekarang kamu akhirnya tahu bahwa ada seluruh kapal yang harus dipikirkan."Dia menghampiriku dan mencengkeram bahuku."Dengarkan aku kali ini. Soal Luna bakal aku urus. Barang itu juga bakal kuambil kembali. Cabut pengajuanmu."Aku bertanya, "Setelah dicabut, lalu kamu tetap membubuhkan stempelku seperti biasa?"Wajahnya seketika pucat pasi."Aku salah."Itu pertama kalinya Wimar mengakui

  • Tak Jadi Pelabuhan Sunyi, Menyambut Angin Sendiri   Bab 6

    Malam itu, aku pindah ke kamar tamu.Wimar berdiri di depan pintu."Icha, jangan pisah kamar."Aku merapikan tempat tidur."Kamu sepuluh bulan di laut. Aku memang sudah terbiasa tidur sendiri."Wimar tidak bisa berkata apa-apa.Beberapa saat kemudian, nadanya melunak."Aku bakal menyuruh Luna mengembalikan perhiasan berlian itu.""Sudah kotor.""Kalau begitu, aku belikan yang baru.""Nggak perlu."Wimar masuk dan hendak mengambil sarung selimut dari tanganku.Aku menghindar.Raut marah muncul di wajahnya."Sebenarnya kamu mau apa? Aku sudah mengalah.""Aku mau cerai."Dia menatapku."Walau kamu punya hak buat melakukan pemeriksaan, kita sudah enam tahun menjadi suami istri. Apa harus sampai saling menghancurkan?"Aku merapikan bantal."Aku nggak perlu mengulang perkataanku."Wimar mencibir, merasa aku masih mencari gara-gara tanpa alasan. "Beginilah kenyataannya. Memangnya cuma karena kamu marah, keadaan bisa berubah?"Aku tidak lagi menghiraukannya.Melihat sikapku yang tegas, Wimar t

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status