Pada hari pemeriksaan kandungan, aku menandatangani surat persetujuan aborsi tepat di depan Jack.Jack tak melihatnya. Dia terlalu sibuk berdiskusi dengan mahasiswaku, si Tina untuk membahas nama anak kami.Perawat sudah memanggil namaku tiga kali, tapi tak satu pun dari mereka yang mendengarnya.Saat aku berjalan ke hadapan Jack, barulah dia mendongak. Nada suaranya terdengar santai, seolah sedang menanyakan aku mau makan siang apa,“Tina bilang dua nama ini lebih berwibawa. Kamu pilih saja salah satunya.”Seketika, aku tersenyum tipis.Anak yang sedang kukandung selama 23 minggu ini, namanya malah didiskusikan oleh suami dan mahasiswaku, sementara diriku hanya bertugas memilih salah satunya saja.Masuk akal juga.Bagaimanapun juga, selama setengah tahun terakhir, lagu musik klasik apa yang harus didengar si bayi, warna apa yang harus dicat untuk kamar bayi, sampai susu formula impor merek apa yang harus dibeli, semuanya sudah mereka putuskan untukku.Aku membuka aplikasi catatan di p
Mehr lesen