LOGIN
Suasana di balik telepon menjadi hening.Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa sinisnya.“Bu Wenny, kalau memang nggak siap kalah, bilang saja terus terang.”“Kak Jack memilih aku untuk menggantikan kamu bukan karena diriku merebutnya darimu, tapi memang dirimu sudah nggak sanggup mengejar ritme proyek ini.”“Sejak hamil, kamu jadi curigaan setiap hari. Bahkan satu kelompok data yang normal saja harus kamu periksa berulang kali.”“Memang benar yang Kak Jack bilang, kondisimu yang seperti ini sama sekali nggak cocok untuk berkecimpung di dunia penelitian.”Mendengar itu, aku tak marah.“Tina.”“Apa?”“Gambar fluoresensi mentah hari keenam dari kelompok penelitian nomor tujuh, kok kamu pakai gambar milik kelompok nomor lima?”Seketika, napasnya tertahan.Aku melanjutkannya lagi.“Data faktor inflamasi di sampel nomor tiga, kok kamu hapus angka tertingginya?”“Lalu tentang kematian nggak wajar pada mencit nomor dua, kamu tulis di catatan bahwa itu akibat kesalahan operasional. Pad
Jack berdiri mematung di tempat. Rona terakhir di wajahnya pun sirna sepenuhnya.Setelah terdiam cukup lama, dia pun berkata pelan, “Aku dan Tina nggak pernah melewati batas.”“Itu sudah nggak penting lagi.”“Kami benaran nggak pernah.”Dia melangkah maju selangkah dengan panik.“Jam tangan itu hanya dia pinjam sebentar waktu eksperimen, kemeja itu juga hanya nggak sengaja. Aku nggak pernah sekali pun menyentuhnya.”Aku menatapnya tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di hatiku.“Jack, kamu masih belum mengerti juga?”“Kalian pernah tidur bersama atau nggak, itu sudah nggak penting lagi.”“Saat kamu mementingkan dirinya dibanding diriku sekali, sepuluh kali, hingga seratus kali, pernikahan ini sudah berakhir.”Harapan di matanya perlahan hancur.“Aku hanya terlalu mementingkan proyek ini.”“Benarkah?”Aku mengeluarkan ponsel, lalu membuka berkas data mentah yang dikirimkan Kelvin.“Kalau begitu, coba kasih tahu aku kenapa kamu membantunya menghapus data?”Seketika, ekspresi wajah Jack m
Aku menyalin semua berkas ke dalam hard disk eksternal, lalu menghubungi Kelvin.Saat panggilan tersambung dan mendengar suaraku, dia sempat terdiam selama belasan detik.“Bu Wenny, akhirnya kamu menghubungi aku juga.”Aku bertanya padanya seberapa banyak bukti yang dia pegang.Dia bilang sangat banyak.“Setelah Tina mengambil alih proyek, dia sudah mengubah data setidaknya empat kali. Pak Jack selalu menyuruh kami untuk menurut saja.”“Nggak ada yang protes?”“Orang-orang yang protes sudah dipindahtugaskan semuanya.”Aku memejamkan mata sejenak.“Kok sebelumnya kamu nggak langsung melaporkan ini?”Kelvin tersenyum getir.“Tim legal perusahaan bilang siapa pun yang membocorkan dokumen proyek akan dituntut sampai bangkrut.”“Bu Wenny adalah pendiri proyek ini, aku rasa kamu bisa mengurus ini.”“Tapi, setelah itu Pak Jack bilang kondisi mentalmu sedang nggak stabil karena hamil, jadi kami dilarang mengganggumu dengan urusan perusahaan.”Ternyata, bukan hanya aku yang mengira diriku sakit
Untuk sementara, aku menginap di rumah temanku, si Lina.Lina adalah seorang dokter spesialis kandungan, sekaligus satu-satunya orang yang tahu kalau diriku menjalani operasi aborsi.Saat membuka pintu dan melihatku, dia tak bertanya apa-apa. Dia hanya mengambil koperku, lalu membawakan semangkuk bubur hangat.Baru makan dua suap, tiba-tiba perutku terasa mual.Saat berlari ke kamar mandi, aku muntah sampai seluruh tubuhku gemetaran.Lina berjongkok di sampingku sambil mengelus punggungku pelan.“Kalau mau menangis, menangis saja.”Aku bilang tak ingin menangis.Usai bicara, air mata malah menetes jatuh ke dalam wastafel.Malam itu, aku menangis cukup lama.Bukan karena merasa tak rela melepaskan Jack.Aku menangisi anak yang tak sempat melihat dunia itu, sekaligus menangisi diriku sendiri di masa lalu yang merasa dicintai selama sepuluh tahun ini.Saat terbangun keesokan harinya, ada 99 panggilan tak terjawab di ponselku.Semuanya dari Jack.Dia mengirimkan banyak pesan.[Kamu di mana
Dia langsung mendongak.“Apa kamu bilang?”Aku mengambil surat cerai dari dalam laci meja ruang tamu.Surat itu sudah lengkap dengan tanda tanganku.Rumah ini adalah aset pribadiku sebelum nikah, saham perusahaan diselesaikan sesuai perjanjian sebelum menikah dan sisa harta bersama lainnya kuserahkan pada pengacara untuk dibagi.Aku tak meminta lebih.Dan tak berminat meminta apa pun lagi.Jack menatap surat cerai itu. Tatapan matanya berubah dari terkejut menjadi amarah.“Kamu mau membalas dendam padaku gara-gara masalah anak?”“Bukan.”“Kalau begitu karena Tina?”“Bukan juga.”Aku menatap pria yang sudah kucintai selama sepuluh tahun ini. Nada suaraku terdengar sangat tenang, bahkan diriku sendiri juga heran. “Karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”Dia seperti baru saja dihantam pukulan keras tepat di dadanya.Beberapa detik kemudian, dia memaksakan sebuah senyuman kaku.“Wenny, kamu tahu nggak apa yang sedang kamu bicarakan?”“Tahu.”“Demi menikah denganku, kamu melepas karir di
Beberapa hari setelahnya, Jack tak pernah sekali pun meneleponku.Pada hari keempat setelah operasi, aku baru saja pulang dari pemeriksaan ulang di rumah sakit. Perutku masih terasa lumayan nyeri.Jack meletakkan sebuah termos di depanku.“Tina dengar kamu kurang nafsu makan belakangan ini, jadi dia sengaja memasakkan sup ayam untukmu.”Aku membuka tutup termos itu dan aroma ginseng yang sangat menyengat langsung tercium.Dokter sudah berpesan bahwa aku baru saja selesai operasi, jadi tak boleh sembarangan mengonsumsi bahan herbal pemacu sirkulasi darah.Tina mendalami biologi, bukan kedokteran klinis, jadi wajar saja kalau tidak tahu.Namun, seharusnya Jack tahu.Petunjuk hal-hal yang harus diperhatikan setelah operasi dari rumah sakit tergeletak jelas di meja ruang tamu, tapi dia tak pernah melihatnya sekali pun.Aku menutup kembali termos itu.“Nggak perlu.”Tina yang berdiri di samping berbicara dengan nada sedih, “Bu Wenny, aku sudah memasaknya selama tiga jam.”“Kalau begitu kam







