Share

Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi
Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi
Author: Jessica

Bab 1

Author: Jessica
Pada hari pemeriksaan kandungan, aku menandatangani surat persetujuan aborsi tepat di depan Jack.

Jack tak melihatnya. Dia terlalu sibuk berdiskusi dengan mahasiswaku, si Tina untuk membahas nama anak kami.

Perawat sudah memanggil namaku tiga kali, tapi tak satu pun dari mereka yang mendengarnya.

Saat aku berjalan ke hadapan Jack, barulah dia mendongak. Nada suaranya terdengar santai, seolah sedang menanyakan aku mau makan siang apa,

“Tina bilang dua nama ini lebih berwibawa. Kamu pilih saja salah satunya.”

Seketika, aku tersenyum tipis.

Anak yang sedang kukandung selama 23 minggu ini, namanya malah didiskusikan oleh suami dan mahasiswaku, sementara diriku hanya bertugas memilih salah satunya saja.

Masuk akal juga.

Bagaimanapun juga, selama setengah tahun terakhir, lagu musik klasik apa yang harus didengar si bayi, warna apa yang harus dicat untuk kamar bayi, sampai susu formula impor merek apa yang harus dibeli, semuanya sudah mereka putuskan untukku.

Aku membuka aplikasi catatan di ponselnya, lalu menambahkan satu baris kalimat di bawah kedua nama itu.

[Nggak perlu dipilih.]

Jack mengerutkan kening. Belum sempat dia bertanya, tiba-tiba ponsel Tina berdering.

Baru mendengarkan belasan detik, wajah Tina langsung berubah sangat muram.

“Kak Jack, kadar sitokin di sampel nomor tiga kembali meningkat secara nggak normal. Kemungkinan ada masalah pada vektornya.”

Jack langsung berdiri, bahkan hampir tak meraih mantelnya dengan benar.

“Ayo, balik ke laboratorium.”

Baru melangkah dua langkah, dia baru teringat kalau aku masih duduk di sana.

“Wenny, aku minta sopir mengantar kamu pulang, ya. Proyek lagi di tahap krusial, kamu lakukan pemeriksaan sendiri saja.”

Aku mengelus perutku yang mulai membuncit, lalu menanyakan satu hal padanya,

“Kamu masih ingat hari ini hari apa, nggak?”

Jack melirik layar ponselnya.

“Hari kamis.”

Aku tak berbicara lagi.

Hari ini adalah hari peringatan pernikahan kami yang kelima tahun, sekaligus hari yang dijadwalkan dokter untuk pemeriksaan USG 4D bayi kami.

Demi pemeriksaan ini, aku sudah menandai kalendernya sejak sebulan yang lalu.

Tadi malam sebelum tidur, aku bahkan sempat mengingatkannya, apa pun yang terjadi di laboratorium hari ini, jangan pernah tinggalkan diriku sendirian.

Saat itu, dia sedang membalas email dengan laptopnya, lalu menjawab ‘iya’ tanpa menoleh sedikit pun.

Sepertinya, dia memang tahu.

Hanya saja, dia tak peduli.

Tina berdiri di samping dengan wajah penuh penyesalan sambil menatapku.

“Bu Wenny, maaf sekali. Sekarang proyeknya nggak bisa jalan tanpa Kak Jack. Bagaimana kalau aku saja yang tinggal untuk menemanimu?”

Mulutnya berkata ingin tinggal, tapi tangannya sudah sigap mengambilkan jas untuk Jack.

Aku menatap jam tangan perak yang melingkar di pergelangan tangan Tina, cukup lama sampai tak bisa berpaling.

Itu hadiah ulang tahun ke-30 yang kuberikan untuk Jack.

Edisi terbatas di dunia dan di bagian belakang jarum jamnya terukir tanggal pertama kali kami bertemu.

Dua bulan lalu, Jack memberitahuku kalau jam itu sedang diservis.

Ternyata diservis sampai ke pergelangan tangan Tina.

Jack mengikuti arah pandanganku dan kilatan canggung langsung melintas di wajahnya.

“Dia kesulitan melihat ponsel kalau masuk ke ruang steril, jadi aku pinjamkan sebentar untuk mengukur waktu. Kamu jangan berpikir yang aneh-aneh.”

Padahal aku belum bertanya apa-apa, tapi Jack sudah buru-buru memberi penjelasan untuknya.

Tina bergegas melepas jam tangan itu dengan gerakan panik.

“Bu Wenny, jangan salah paham. Kak Jack yang memaksaku memakai ini.”

Kata ‘memaksa’ itu diucapkan dengan sangat pelan, tapi terdengar begitu nyaring di telingaku.

Aku mengambil jam tangan itu, lalu mengusap bagian permukaannya dengan jempolku.

Di sana masih tersisa aroma manis dari krim tangan Tina.

“Nggak salah paham, kok.”

Aku memasukkan jam tangan itu ke dalam tas, lalu melemparkan senyuman ke arah mereka.

“Kalian pergi saja, jangan sampai mengganggu eksperimennya.”

Jack tampak menghela napas lega.

“Wenny, akhirnya kamu bisa lebih pengertian kali ini.”

Seketika, aku mendadak merasakan pergerakan di dalam perutku.

Tampaknya bayiku menendangku.

Seolah sedang bertanya padaku, ibu, kamu mau bertahan sampai kapan lagi?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 9

    Suasana di balik telepon menjadi hening.Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa sinisnya.“Bu Wenny, kalau memang nggak siap kalah, bilang saja terus terang.”“Kak Jack memilih aku untuk menggantikan kamu bukan karena diriku merebutnya darimu, tapi memang dirimu sudah nggak sanggup mengejar ritme proyek ini.”“Sejak hamil, kamu jadi curigaan setiap hari. Bahkan satu kelompok data yang normal saja harus kamu periksa berulang kali.”“Memang benar yang Kak Jack bilang, kondisimu yang seperti ini sama sekali nggak cocok untuk berkecimpung di dunia penelitian.”Mendengar itu, aku tak marah.“Tina.”“Apa?”“Gambar fluoresensi mentah hari keenam dari kelompok penelitian nomor tujuh, kok kamu pakai gambar milik kelompok nomor lima?”Seketika, napasnya tertahan.Aku melanjutkannya lagi.“Data faktor inflamasi di sampel nomor tiga, kok kamu hapus angka tertingginya?”“Lalu tentang kematian nggak wajar pada mencit nomor dua, kamu tulis di catatan bahwa itu akibat kesalahan operasional. Pad

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 8

    Jack berdiri mematung di tempat. Rona terakhir di wajahnya pun sirna sepenuhnya.Setelah terdiam cukup lama, dia pun berkata pelan, “Aku dan Tina nggak pernah melewati batas.”“Itu sudah nggak penting lagi.”“Kami benaran nggak pernah.”Dia melangkah maju selangkah dengan panik.“Jam tangan itu hanya dia pinjam sebentar waktu eksperimen, kemeja itu juga hanya nggak sengaja. Aku nggak pernah sekali pun menyentuhnya.”Aku menatapnya tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di hatiku.“Jack, kamu masih belum mengerti juga?”“Kalian pernah tidur bersama atau nggak, itu sudah nggak penting lagi.”“Saat kamu mementingkan dirinya dibanding diriku sekali, sepuluh kali, hingga seratus kali, pernikahan ini sudah berakhir.”Harapan di matanya perlahan hancur.“Aku hanya terlalu mementingkan proyek ini.”“Benarkah?”Aku mengeluarkan ponsel, lalu membuka berkas data mentah yang dikirimkan Kelvin.“Kalau begitu, coba kasih tahu aku kenapa kamu membantunya menghapus data?”Seketika, ekspresi wajah Jack m

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 7

    Aku menyalin semua berkas ke dalam hard disk eksternal, lalu menghubungi Kelvin.Saat panggilan tersambung dan mendengar suaraku, dia sempat terdiam selama belasan detik.“Bu Wenny, akhirnya kamu menghubungi aku juga.”Aku bertanya padanya seberapa banyak bukti yang dia pegang.Dia bilang sangat banyak.“Setelah Tina mengambil alih proyek, dia sudah mengubah data setidaknya empat kali. Pak Jack selalu menyuruh kami untuk menurut saja.”“Nggak ada yang protes?”“Orang-orang yang protes sudah dipindahtugaskan semuanya.”Aku memejamkan mata sejenak.“Kok sebelumnya kamu nggak langsung melaporkan ini?”Kelvin tersenyum getir.“Tim legal perusahaan bilang siapa pun yang membocorkan dokumen proyek akan dituntut sampai bangkrut.”“Bu Wenny adalah pendiri proyek ini, aku rasa kamu bisa mengurus ini.”“Tapi, setelah itu Pak Jack bilang kondisi mentalmu sedang nggak stabil karena hamil, jadi kami dilarang mengganggumu dengan urusan perusahaan.”Ternyata, bukan hanya aku yang mengira diriku sakit

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 6

    Untuk sementara, aku menginap di rumah temanku, si Lina.Lina adalah seorang dokter spesialis kandungan, sekaligus satu-satunya orang yang tahu kalau diriku menjalani operasi aborsi.Saat membuka pintu dan melihatku, dia tak bertanya apa-apa. Dia hanya mengambil koperku, lalu membawakan semangkuk bubur hangat.Baru makan dua suap, tiba-tiba perutku terasa mual.Saat berlari ke kamar mandi, aku muntah sampai seluruh tubuhku gemetaran.Lina berjongkok di sampingku sambil mengelus punggungku pelan.“Kalau mau menangis, menangis saja.”Aku bilang tak ingin menangis.Usai bicara, air mata malah menetes jatuh ke dalam wastafel.Malam itu, aku menangis cukup lama.Bukan karena merasa tak rela melepaskan Jack.Aku menangisi anak yang tak sempat melihat dunia itu, sekaligus menangisi diriku sendiri di masa lalu yang merasa dicintai selama sepuluh tahun ini.Saat terbangun keesokan harinya, ada 99 panggilan tak terjawab di ponselku.Semuanya dari Jack.Dia mengirimkan banyak pesan.[Kamu di mana

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 5

    Dia langsung mendongak.“Apa kamu bilang?”Aku mengambil surat cerai dari dalam laci meja ruang tamu.Surat itu sudah lengkap dengan tanda tanganku.Rumah ini adalah aset pribadiku sebelum nikah, saham perusahaan diselesaikan sesuai perjanjian sebelum menikah dan sisa harta bersama lainnya kuserahkan pada pengacara untuk dibagi.Aku tak meminta lebih.Dan tak berminat meminta apa pun lagi.Jack menatap surat cerai itu. Tatapan matanya berubah dari terkejut menjadi amarah.“Kamu mau membalas dendam padaku gara-gara masalah anak?”“Bukan.”“Kalau begitu karena Tina?”“Bukan juga.”Aku menatap pria yang sudah kucintai selama sepuluh tahun ini. Nada suaraku terdengar sangat tenang, bahkan diriku sendiri juga heran. “Karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”Dia seperti baru saja dihantam pukulan keras tepat di dadanya.Beberapa detik kemudian, dia memaksakan sebuah senyuman kaku.“Wenny, kamu tahu nggak apa yang sedang kamu bicarakan?”“Tahu.”“Demi menikah denganku, kamu melepas karir di

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 4

    Beberapa hari setelahnya, Jack tak pernah sekali pun meneleponku.Pada hari keempat setelah operasi, aku baru saja pulang dari pemeriksaan ulang di rumah sakit. Perutku masih terasa lumayan nyeri.Jack meletakkan sebuah termos di depanku.“Tina dengar kamu kurang nafsu makan belakangan ini, jadi dia sengaja memasakkan sup ayam untukmu.”Aku membuka tutup termos itu dan aroma ginseng yang sangat menyengat langsung tercium.Dokter sudah berpesan bahwa aku baru saja selesai operasi, jadi tak boleh sembarangan mengonsumsi bahan herbal pemacu sirkulasi darah.Tina mendalami biologi, bukan kedokteran klinis, jadi wajar saja kalau tidak tahu.Namun, seharusnya Jack tahu.Petunjuk hal-hal yang harus diperhatikan setelah operasi dari rumah sakit tergeletak jelas di meja ruang tamu, tapi dia tak pernah melihatnya sekali pun.Aku menutup kembali termos itu.“Nggak perlu.”Tina yang berdiri di samping berbicara dengan nada sedih, “Bu Wenny, aku sudah memasaknya selama tiga jam.”“Kalau begitu kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status