Share

Bab 2

Author: Jessica
Aku menyerahkan surat persetujuan operasi yang sudah kutandatangani kepada perawat.

Perawat itu menatap ke arah pintu sejenak, lalu beralih menatapku.

“Nggak ada keluarga yang mendampingi?”

Aku menjawab tak ada keluarga.

Langkah kaki Jack sempat terhenti sejenak di ujung koridor.

Aku tak tahu apakah dia mendengar ucapan itu atau tidak.

Detik berikutnya, Tina memanggil namanya dan dia langsung melangkah masuk ke dalam lift tanpa menoleh lagi.

Saat pintu lift tertutup rapat, sisa-sisa harapan terakhir di mataku pun ikut padam.

Akhirnya, bayi itu pun musnah tiga hari kemudian.

Bukan karena emosi sesaat, bukan pula demi membalas dendam pada siapa pun.

Dokter sudah memperingatkanku bahwa ada beberapa indikator janin yang tidak normal. Melanjutkan kehamilan bisa membahayakan tubuhku dan hasil akhirnya pun tidak ada jaminan.

Selama ini, aku sengaja menunda keputusan.

Karena Jack pernah berjanji apa pun kondisi anak ini nantinya, dia akan selalu mendampingiku untuk menanggungnya bersama.

Aku memercayainya.

Aku bahkan pernah berpikir, meskipun harus mengundurkan diri dari pekerjaan dan menghabiskan sisa hidupku bolak-balik ke rumah sakit demi anak ini, asalkan keluarga kami tetap utuh, diriku pasti sanggup bertahan.

Namun, akhirnya aku sadar di hari pemeriksaan itu.

Ketika saatnya benar-benar tiba untuk bertanggung jawab, Jack tidak pernah ada.

Bahkan menemaniku melakukan pemeriksaan USG 4D saja dia tak sanggup menemaniku sampai akhir, apalagi mendampingi proses pengobatan dan pemulihan yang tidak ada ujungnya.

Sebelum operasi dimulai, perawat bertanya sekali lagi padaku,

“Bu Wenny, kamu sudah yakin?”

Aku menatap lampu putih di langit-langit ruang operasi. Air mata menetes dari sudut mata, meresap perlahan ke sela-sela rambut.

“Yakin.”

Saat cairan anestesi disuntikkan ke dalam pembuluh darah, aku teringat kehamilan minggu ketujuh, saat Jack pertama kali mendengar detak jantung janin kami.

Pria yang biasanya dingin dan datar emosinya itu sempat berjongkok menangis di tangga rumah sakit selama sepuluh menit.

Dia menggenggam tanganku erat-erat dan berkata, “Wenny, terima kasih sudah memberiku sebuah rumah.”

Waktu itu, tak terbayang sedikit pun di benakku bahwa hanya dalam kurun waktu empat bulan, dia bisa berdiskusi santai dengan wanita lain mengenai nama anak kami.

Lebih tak kusangka lagi, saat diriku terbaring di ranjang operasi, dia malah sedang menemani wanita itu meratapi sekelompok data eksperimen yang gagal.

Saat tersadar kembali, ruang rawat terasa sangat hening.

Tergeletak segelas wedang jahe yang sudah dingin di meja samping ranjang. Itu adalah pemberian keluarga pasien sebelah yang merasa kasihan melihatku sendirian.

Ada tujuh belas pesan masuk di ponselku.

Lima belas pesan berasal dari grup proyek dan dua pesan dari Jack.

Pesan pertama dikirim jam 12 siang.

[Pemeriksaannya sudah selesai?]

Pesan kedua dikirim lima jam setelahnya.

[Aku nggak pulang untuk makan malam ini. Tina agak mual, aku mau antar dia ke rumah sakit.]

Aku mengelus perutku yang mulai mengempis, lalu membalas satu kata.

[Iya.]

Jack pun tak bertanya lagi.

Lima tahun menikah, hal yang kukuasai memang selalu mengiyakan ucapannya.

Saat dia bilang ingin memulai bisnis, aku mengiyakannya. Aku menjual rumah peninggalan orang tuaku dan menanamkan seluruh modal sebesar 7,6 miliar ke perusahaannya.

Saat dia bilang proyeknya kekurangan penanggung jawab eksperimen biologi dan memintaku melepas posisi tetap di lembaga penelitian luar negeri dan pulang ke dalam negeri, aku mengiyakannya.

Saat dia bilang tak suka ada orang luar masuk ke rumah dan memintaku mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga sendirian, aku mengiyakannya.

Saat dia bilang ingin punya anak dan memintaku keluar sementara dari laboratorium, aku juga mengiyakannya.

Selama ini, aku selalu mengira bahwa cinta adalah saling melengkapi.

Setelah itu, aku baru sadar saling melengkapi yang dimaksud adalah diriku yang selalu mengalah dan Jack yang selalu dilengkapi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 9

    Suasana di balik telepon menjadi hening.Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa sinisnya.“Bu Wenny, kalau memang nggak siap kalah, bilang saja terus terang.”“Kak Jack memilih aku untuk menggantikan kamu bukan karena diriku merebutnya darimu, tapi memang dirimu sudah nggak sanggup mengejar ritme proyek ini.”“Sejak hamil, kamu jadi curigaan setiap hari. Bahkan satu kelompok data yang normal saja harus kamu periksa berulang kali.”“Memang benar yang Kak Jack bilang, kondisimu yang seperti ini sama sekali nggak cocok untuk berkecimpung di dunia penelitian.”Mendengar itu, aku tak marah.“Tina.”“Apa?”“Gambar fluoresensi mentah hari keenam dari kelompok penelitian nomor tujuh, kok kamu pakai gambar milik kelompok nomor lima?”Seketika, napasnya tertahan.Aku melanjutkannya lagi.“Data faktor inflamasi di sampel nomor tiga, kok kamu hapus angka tertingginya?”“Lalu tentang kematian nggak wajar pada mencit nomor dua, kamu tulis di catatan bahwa itu akibat kesalahan operasional. Pad

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 8

    Jack berdiri mematung di tempat. Rona terakhir di wajahnya pun sirna sepenuhnya.Setelah terdiam cukup lama, dia pun berkata pelan, “Aku dan Tina nggak pernah melewati batas.”“Itu sudah nggak penting lagi.”“Kami benaran nggak pernah.”Dia melangkah maju selangkah dengan panik.“Jam tangan itu hanya dia pinjam sebentar waktu eksperimen, kemeja itu juga hanya nggak sengaja. Aku nggak pernah sekali pun menyentuhnya.”Aku menatapnya tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di hatiku.“Jack, kamu masih belum mengerti juga?”“Kalian pernah tidur bersama atau nggak, itu sudah nggak penting lagi.”“Saat kamu mementingkan dirinya dibanding diriku sekali, sepuluh kali, hingga seratus kali, pernikahan ini sudah berakhir.”Harapan di matanya perlahan hancur.“Aku hanya terlalu mementingkan proyek ini.”“Benarkah?”Aku mengeluarkan ponsel, lalu membuka berkas data mentah yang dikirimkan Kelvin.“Kalau begitu, coba kasih tahu aku kenapa kamu membantunya menghapus data?”Seketika, ekspresi wajah Jack m

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 7

    Aku menyalin semua berkas ke dalam hard disk eksternal, lalu menghubungi Kelvin.Saat panggilan tersambung dan mendengar suaraku, dia sempat terdiam selama belasan detik.“Bu Wenny, akhirnya kamu menghubungi aku juga.”Aku bertanya padanya seberapa banyak bukti yang dia pegang.Dia bilang sangat banyak.“Setelah Tina mengambil alih proyek, dia sudah mengubah data setidaknya empat kali. Pak Jack selalu menyuruh kami untuk menurut saja.”“Nggak ada yang protes?”“Orang-orang yang protes sudah dipindahtugaskan semuanya.”Aku memejamkan mata sejenak.“Kok sebelumnya kamu nggak langsung melaporkan ini?”Kelvin tersenyum getir.“Tim legal perusahaan bilang siapa pun yang membocorkan dokumen proyek akan dituntut sampai bangkrut.”“Bu Wenny adalah pendiri proyek ini, aku rasa kamu bisa mengurus ini.”“Tapi, setelah itu Pak Jack bilang kondisi mentalmu sedang nggak stabil karena hamil, jadi kami dilarang mengganggumu dengan urusan perusahaan.”Ternyata, bukan hanya aku yang mengira diriku sakit

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 6

    Untuk sementara, aku menginap di rumah temanku, si Lina.Lina adalah seorang dokter spesialis kandungan, sekaligus satu-satunya orang yang tahu kalau diriku menjalani operasi aborsi.Saat membuka pintu dan melihatku, dia tak bertanya apa-apa. Dia hanya mengambil koperku, lalu membawakan semangkuk bubur hangat.Baru makan dua suap, tiba-tiba perutku terasa mual.Saat berlari ke kamar mandi, aku muntah sampai seluruh tubuhku gemetaran.Lina berjongkok di sampingku sambil mengelus punggungku pelan.“Kalau mau menangis, menangis saja.”Aku bilang tak ingin menangis.Usai bicara, air mata malah menetes jatuh ke dalam wastafel.Malam itu, aku menangis cukup lama.Bukan karena merasa tak rela melepaskan Jack.Aku menangisi anak yang tak sempat melihat dunia itu, sekaligus menangisi diriku sendiri di masa lalu yang merasa dicintai selama sepuluh tahun ini.Saat terbangun keesokan harinya, ada 99 panggilan tak terjawab di ponselku.Semuanya dari Jack.Dia mengirimkan banyak pesan.[Kamu di mana

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 5

    Dia langsung mendongak.“Apa kamu bilang?”Aku mengambil surat cerai dari dalam laci meja ruang tamu.Surat itu sudah lengkap dengan tanda tanganku.Rumah ini adalah aset pribadiku sebelum nikah, saham perusahaan diselesaikan sesuai perjanjian sebelum menikah dan sisa harta bersama lainnya kuserahkan pada pengacara untuk dibagi.Aku tak meminta lebih.Dan tak berminat meminta apa pun lagi.Jack menatap surat cerai itu. Tatapan matanya berubah dari terkejut menjadi amarah.“Kamu mau membalas dendam padaku gara-gara masalah anak?”“Bukan.”“Kalau begitu karena Tina?”“Bukan juga.”Aku menatap pria yang sudah kucintai selama sepuluh tahun ini. Nada suaraku terdengar sangat tenang, bahkan diriku sendiri juga heran. “Karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”Dia seperti baru saja dihantam pukulan keras tepat di dadanya.Beberapa detik kemudian, dia memaksakan sebuah senyuman kaku.“Wenny, kamu tahu nggak apa yang sedang kamu bicarakan?”“Tahu.”“Demi menikah denganku, kamu melepas karir di

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 4

    Beberapa hari setelahnya, Jack tak pernah sekali pun meneleponku.Pada hari keempat setelah operasi, aku baru saja pulang dari pemeriksaan ulang di rumah sakit. Perutku masih terasa lumayan nyeri.Jack meletakkan sebuah termos di depanku.“Tina dengar kamu kurang nafsu makan belakangan ini, jadi dia sengaja memasakkan sup ayam untukmu.”Aku membuka tutup termos itu dan aroma ginseng yang sangat menyengat langsung tercium.Dokter sudah berpesan bahwa aku baru saja selesai operasi, jadi tak boleh sembarangan mengonsumsi bahan herbal pemacu sirkulasi darah.Tina mendalami biologi, bukan kedokteran klinis, jadi wajar saja kalau tidak tahu.Namun, seharusnya Jack tahu.Petunjuk hal-hal yang harus diperhatikan setelah operasi dari rumah sakit tergeletak jelas di meja ruang tamu, tapi dia tak pernah melihatnya sekali pun.Aku menutup kembali termos itu.“Nggak perlu.”Tina yang berdiri di samping berbicara dengan nada sedih, “Bu Wenny, aku sudah memasaknya selama tiga jam.”“Kalau begitu kam

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status