Compartir

Bab 3

Autor: Jessica
Awal mulanya aku dan Jack berkenalan saat kami sama-sama masih menjadi mahasiswa S3 di fakultas ilmu kehidupan Universitas Tanji.

Jack fokus di bidang algoritma, sementara aku di bidang imunologi kanker.

Yang satu tidak paham eksperimen basah, yang satu lagi tak bisa membuat program. Tapi anehnya, kami malah dipasangkan dalam proyek gabungan bentukan dosen pembimbing kami.

Waktu itu Jack miskin sekali, bahkan untuk beli laptop yang layak saja tak mampu. Dia harus menenteng mesin tua yang butuh waktu 10 menit hanya untuk menyala demi menjalankan data setiap harinya.

Pertama kali melihatnya, dia sedang berjongkok di koridor gedung laboratorium sambil memperbaiki laptop.

Layar laptopnya mendadak menjadi biru dan wajahnya pun ikut memucat.

Aku meminjamkan laptop cadanganku padanya dan dia menggunakannya selama tiga bulan penuh.

Saat dikembalikan, terselip sebuah surat tulisan tangan dan sebutir permen stroberi di dalam tas laptop itu.

Isi suratnya hanya satu kalimat.

[Wenny, kalau nanti sudah punya uang, aku akan traktir kamu makan di tempat paling mahal di dunia.]

Setelah itu, dia benar-benar jadi orang kaya.

Hanya saja, dia sudah lama tak pernah lagi menemaniku makan malam dengan sungguh-sungguh.

Masa-masa paling berat dari proyek itu terjadi saat laboratorium mengalami kegagalan 17 kali berturut-turut.

Pagi hari aku mengembangbiakkan sel, malam harinya merevisi rancangan eksperimen. Jika mengantuk, aku hanya tidur dua jam di ranjang lipat.

Jack menemaniku makan mi instan selama tiga bulan.

Malam ketika eksperimen ke-18 akhirnya berhasil, kami duduk di depan pintu laboratorium sambil berbagi satu cup mi instan rasa sayur asin yang mi-nya sudah lembek.

Tiba-tiba, dia bertanya padaku,

“Wenny, kamu mau menghabiskan waktu seumur hidup denganku?”

Aku yang masih mengunyah mi instan menjawab tidak jelas,

“Modal lamaranmu ini murah sekali?”

Dia menggenggam tanganku, lalu menyerahkan satu-satunya kartu bank yang dirinya punya.

“Sekarang memang murah, ke depannya semuanya akan kutebus padamu.”

Aku percaya pada kata ke depannya yang dia bilang.

Aku mengundurkan diri dari pekerjaan di lembaga penelitian luar negeri, ikut dengannya pulang ke tanah air untuk mendirikan Bioteknologi Tunas Baru.

Tina adalah mahasiswa bimbingan pertama yang kupegang setelah kembali ke dalam negeri.

Latar belakang keluarganya kurang mampu. Saat tahun pertama S2, dia bahkan tak rela beli jas laboratorium tambahan.

Melihat kegigihannya dalam bekerja, aku memasukkannya ke dalam tim inti Tunas Baru.

Setelah itu, saat dia mengajukan beasiswa, mendaftar predikat lulusan terbaik, hingga mengirimkan publikasi jurnal pertamanya, akulah yang membimbing dan merapikan semua berkasnya berkali-kali.

Saat usia kehamilanku memasuki minggu ke-10, terjadi kebocoran skala kecil di laboratorium.

Meskipun dosis zat yang terpapar padaku sangat rendah, dokter tetap menyarankan agar aku menjauh sejenak dari lingkungan beresiko tinggi.

Aku tak ingin pergi.

‘Tunas Baru’ baru saja memasuki tahap kritis uji coba pada hewan. Sedikit saja penyimpangan data bisa menghancurkan seluruh hasil akumulasi kerja keras kami selama lima tahun terakhir.

Namun, Jack malah marah besar di rapat perusahaan untuk pertama kalinya.

“Kita masih bisa ulang lagi kalau proyeknya gagal, tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu pada anak kita?!”

Di hadapan semua orang, dia mengambil kartu akses masukku dan menyuruhku segera pulang untuk beristirahat.

Usai rapat, dia memelukku dan bilang bahwa ini hanya untuk beberapa bulan saja. Begitu bayinya lahir, aku boleh kembali kapan saja.

Aku bertanya proyeknya mau diserahkan ke siapa?

Dia menjawab tanpa ragu sedikit pun,

“Tina itu hasil bimbinganmu sendiri. Dia yang paling paham jalan pikiranmu.”

Harus kuakui, Tina sangat cerdas dan memang cocok untuk mengambil alih pekerjaanku.

Pada akhirnya, aku pun mengalah.

Jack mengusap lembut rambutku.

“Fokus jaga kandungan saja dulu, nggak perlu banyak pikiran. Ada aku yang mengawasi.”

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi berinisiatif menanyakan perkembangan proyek tersebut.

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 9

    Suasana di balik telepon menjadi hening.Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa sinisnya.“Bu Wenny, kalau memang nggak siap kalah, bilang saja terus terang.”“Kak Jack memilih aku untuk menggantikan kamu bukan karena diriku merebutnya darimu, tapi memang dirimu sudah nggak sanggup mengejar ritme proyek ini.”“Sejak hamil, kamu jadi curigaan setiap hari. Bahkan satu kelompok data yang normal saja harus kamu periksa berulang kali.”“Memang benar yang Kak Jack bilang, kondisimu yang seperti ini sama sekali nggak cocok untuk berkecimpung di dunia penelitian.”Mendengar itu, aku tak marah.“Tina.”“Apa?”“Gambar fluoresensi mentah hari keenam dari kelompok penelitian nomor tujuh, kok kamu pakai gambar milik kelompok nomor lima?”Seketika, napasnya tertahan.Aku melanjutkannya lagi.“Data faktor inflamasi di sampel nomor tiga, kok kamu hapus angka tertingginya?”“Lalu tentang kematian nggak wajar pada mencit nomor dua, kamu tulis di catatan bahwa itu akibat kesalahan operasional. Pad

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 8

    Jack berdiri mematung di tempat. Rona terakhir di wajahnya pun sirna sepenuhnya.Setelah terdiam cukup lama, dia pun berkata pelan, “Aku dan Tina nggak pernah melewati batas.”“Itu sudah nggak penting lagi.”“Kami benaran nggak pernah.”Dia melangkah maju selangkah dengan panik.“Jam tangan itu hanya dia pinjam sebentar waktu eksperimen, kemeja itu juga hanya nggak sengaja. Aku nggak pernah sekali pun menyentuhnya.”Aku menatapnya tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di hatiku.“Jack, kamu masih belum mengerti juga?”“Kalian pernah tidur bersama atau nggak, itu sudah nggak penting lagi.”“Saat kamu mementingkan dirinya dibanding diriku sekali, sepuluh kali, hingga seratus kali, pernikahan ini sudah berakhir.”Harapan di matanya perlahan hancur.“Aku hanya terlalu mementingkan proyek ini.”“Benarkah?”Aku mengeluarkan ponsel, lalu membuka berkas data mentah yang dikirimkan Kelvin.“Kalau begitu, coba kasih tahu aku kenapa kamu membantunya menghapus data?”Seketika, ekspresi wajah Jack m

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 7

    Aku menyalin semua berkas ke dalam hard disk eksternal, lalu menghubungi Kelvin.Saat panggilan tersambung dan mendengar suaraku, dia sempat terdiam selama belasan detik.“Bu Wenny, akhirnya kamu menghubungi aku juga.”Aku bertanya padanya seberapa banyak bukti yang dia pegang.Dia bilang sangat banyak.“Setelah Tina mengambil alih proyek, dia sudah mengubah data setidaknya empat kali. Pak Jack selalu menyuruh kami untuk menurut saja.”“Nggak ada yang protes?”“Orang-orang yang protes sudah dipindahtugaskan semuanya.”Aku memejamkan mata sejenak.“Kok sebelumnya kamu nggak langsung melaporkan ini?”Kelvin tersenyum getir.“Tim legal perusahaan bilang siapa pun yang membocorkan dokumen proyek akan dituntut sampai bangkrut.”“Bu Wenny adalah pendiri proyek ini, aku rasa kamu bisa mengurus ini.”“Tapi, setelah itu Pak Jack bilang kondisi mentalmu sedang nggak stabil karena hamil, jadi kami dilarang mengganggumu dengan urusan perusahaan.”Ternyata, bukan hanya aku yang mengira diriku sakit

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 6

    Untuk sementara, aku menginap di rumah temanku, si Lina.Lina adalah seorang dokter spesialis kandungan, sekaligus satu-satunya orang yang tahu kalau diriku menjalani operasi aborsi.Saat membuka pintu dan melihatku, dia tak bertanya apa-apa. Dia hanya mengambil koperku, lalu membawakan semangkuk bubur hangat.Baru makan dua suap, tiba-tiba perutku terasa mual.Saat berlari ke kamar mandi, aku muntah sampai seluruh tubuhku gemetaran.Lina berjongkok di sampingku sambil mengelus punggungku pelan.“Kalau mau menangis, menangis saja.”Aku bilang tak ingin menangis.Usai bicara, air mata malah menetes jatuh ke dalam wastafel.Malam itu, aku menangis cukup lama.Bukan karena merasa tak rela melepaskan Jack.Aku menangisi anak yang tak sempat melihat dunia itu, sekaligus menangisi diriku sendiri di masa lalu yang merasa dicintai selama sepuluh tahun ini.Saat terbangun keesokan harinya, ada 99 panggilan tak terjawab di ponselku.Semuanya dari Jack.Dia mengirimkan banyak pesan.[Kamu di mana

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 5

    Dia langsung mendongak.“Apa kamu bilang?”Aku mengambil surat cerai dari dalam laci meja ruang tamu.Surat itu sudah lengkap dengan tanda tanganku.Rumah ini adalah aset pribadiku sebelum nikah, saham perusahaan diselesaikan sesuai perjanjian sebelum menikah dan sisa harta bersama lainnya kuserahkan pada pengacara untuk dibagi.Aku tak meminta lebih.Dan tak berminat meminta apa pun lagi.Jack menatap surat cerai itu. Tatapan matanya berubah dari terkejut menjadi amarah.“Kamu mau membalas dendam padaku gara-gara masalah anak?”“Bukan.”“Kalau begitu karena Tina?”“Bukan juga.”Aku menatap pria yang sudah kucintai selama sepuluh tahun ini. Nada suaraku terdengar sangat tenang, bahkan diriku sendiri juga heran. “Karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”Dia seperti baru saja dihantam pukulan keras tepat di dadanya.Beberapa detik kemudian, dia memaksakan sebuah senyuman kaku.“Wenny, kamu tahu nggak apa yang sedang kamu bicarakan?”“Tahu.”“Demi menikah denganku, kamu melepas karir di

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 4

    Beberapa hari setelahnya, Jack tak pernah sekali pun meneleponku.Pada hari keempat setelah operasi, aku baru saja pulang dari pemeriksaan ulang di rumah sakit. Perutku masih terasa lumayan nyeri.Jack meletakkan sebuah termos di depanku.“Tina dengar kamu kurang nafsu makan belakangan ini, jadi dia sengaja memasakkan sup ayam untukmu.”Aku membuka tutup termos itu dan aroma ginseng yang sangat menyengat langsung tercium.Dokter sudah berpesan bahwa aku baru saja selesai operasi, jadi tak boleh sembarangan mengonsumsi bahan herbal pemacu sirkulasi darah.Tina mendalami biologi, bukan kedokteran klinis, jadi wajar saja kalau tidak tahu.Namun, seharusnya Jack tahu.Petunjuk hal-hal yang harus diperhatikan setelah operasi dari rumah sakit tergeletak jelas di meja ruang tamu, tapi dia tak pernah melihatnya sekali pun.Aku menutup kembali termos itu.“Nggak perlu.”Tina yang berdiri di samping berbicara dengan nada sedih, “Bu Wenny, aku sudah memasaknya selama tiga jam.”“Kalau begitu kam

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status