LOGINSetelah hamil, aku melepas proyek biologi yang sudah kuteliti bertahun-tahun. Aku menyerahkan posisiku pada Tina, mahasiswa bimbinganku sendiri. Sejak saat itu, Tina jadi sering datang ke rumahku. Di meja makan, mereka berdua asik berdebat soal data proyek, sepenuhnya mengabaikan keberadaanku. Padahal proyek itu tadinya adalah hasil kerja kerasku, tapi sekarang diriku bahkan tak diberi kesempatan untuk ikut bicara. Saat hari pemeriksaan kandungan, mereka berdua malah sibuk meributkan nama bayi di luar ruang dokter. Suamiku menoleh melihatku dan berkata dengan santai, “Tina bilang dua nama ini lebih berwibawa. Kamu pilih saja salah satunya.” Aku tak menjawab, hanya berbalik dan menandatangani surat persetujuan aborsi. Jika kalian memang secocok itu… antara bayi ini dan dirimu, aku tak mau lagi semuanya.
View MoreSuasana di balik telepon menjadi hening.Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa sinisnya.“Bu Wenny, kalau memang nggak siap kalah, bilang saja terus terang.”“Kak Jack memilih aku untuk menggantikan kamu bukan karena diriku merebutnya darimu, tapi memang dirimu sudah nggak sanggup mengejar ritme proyek ini.”“Sejak hamil, kamu jadi curigaan setiap hari. Bahkan satu kelompok data yang normal saja harus kamu periksa berulang kali.”“Memang benar yang Kak Jack bilang, kondisimu yang seperti ini sama sekali nggak cocok untuk berkecimpung di dunia penelitian.”Mendengar itu, aku tak marah.“Tina.”“Apa?”“Gambar fluoresensi mentah hari keenam dari kelompok penelitian nomor tujuh, kok kamu pakai gambar milik kelompok nomor lima?”Seketika, napasnya tertahan.Aku melanjutkannya lagi.“Data faktor inflamasi di sampel nomor tiga, kok kamu hapus angka tertingginya?”“Lalu tentang kematian nggak wajar pada mencit nomor dua, kamu tulis di catatan bahwa itu akibat kesalahan operasional. Pad
Jack berdiri mematung di tempat. Rona terakhir di wajahnya pun sirna sepenuhnya.Setelah terdiam cukup lama, dia pun berkata pelan, “Aku dan Tina nggak pernah melewati batas.”“Itu sudah nggak penting lagi.”“Kami benaran nggak pernah.”Dia melangkah maju selangkah dengan panik.“Jam tangan itu hanya dia pinjam sebentar waktu eksperimen, kemeja itu juga hanya nggak sengaja. Aku nggak pernah sekali pun menyentuhnya.”Aku menatapnya tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di hatiku.“Jack, kamu masih belum mengerti juga?”“Kalian pernah tidur bersama atau nggak, itu sudah nggak penting lagi.”“Saat kamu mementingkan dirinya dibanding diriku sekali, sepuluh kali, hingga seratus kali, pernikahan ini sudah berakhir.”Harapan di matanya perlahan hancur.“Aku hanya terlalu mementingkan proyek ini.”“Benarkah?”Aku mengeluarkan ponsel, lalu membuka berkas data mentah yang dikirimkan Kelvin.“Kalau begitu, coba kasih tahu aku kenapa kamu membantunya menghapus data?”Seketika, ekspresi wajah Jack m
Aku menyalin semua berkas ke dalam hard disk eksternal, lalu menghubungi Kelvin.Saat panggilan tersambung dan mendengar suaraku, dia sempat terdiam selama belasan detik.“Bu Wenny, akhirnya kamu menghubungi aku juga.”Aku bertanya padanya seberapa banyak bukti yang dia pegang.Dia bilang sangat banyak.“Setelah Tina mengambil alih proyek, dia sudah mengubah data setidaknya empat kali. Pak Jack selalu menyuruh kami untuk menurut saja.”“Nggak ada yang protes?”“Orang-orang yang protes sudah dipindahtugaskan semuanya.”Aku memejamkan mata sejenak.“Kok sebelumnya kamu nggak langsung melaporkan ini?”Kelvin tersenyum getir.“Tim legal perusahaan bilang siapa pun yang membocorkan dokumen proyek akan dituntut sampai bangkrut.”“Bu Wenny adalah pendiri proyek ini, aku rasa kamu bisa mengurus ini.”“Tapi, setelah itu Pak Jack bilang kondisi mentalmu sedang nggak stabil karena hamil, jadi kami dilarang mengganggumu dengan urusan perusahaan.”Ternyata, bukan hanya aku yang mengira diriku sakit
Untuk sementara, aku menginap di rumah temanku, si Lina.Lina adalah seorang dokter spesialis kandungan, sekaligus satu-satunya orang yang tahu kalau diriku menjalani operasi aborsi.Saat membuka pintu dan melihatku, dia tak bertanya apa-apa. Dia hanya mengambil koperku, lalu membawakan semangkuk bubur hangat.Baru makan dua suap, tiba-tiba perutku terasa mual.Saat berlari ke kamar mandi, aku muntah sampai seluruh tubuhku gemetaran.Lina berjongkok di sampingku sambil mengelus punggungku pelan.“Kalau mau menangis, menangis saja.”Aku bilang tak ingin menangis.Usai bicara, air mata malah menetes jatuh ke dalam wastafel.Malam itu, aku menangis cukup lama.Bukan karena merasa tak rela melepaskan Jack.Aku menangisi anak yang tak sempat melihat dunia itu, sekaligus menangisi diriku sendiri di masa lalu yang merasa dicintai selama sepuluh tahun ini.Saat terbangun keesokan harinya, ada 99 panggilan tak terjawab di ponselku.Semuanya dari Jack.Dia mengirimkan banyak pesan.[Kamu di mana






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.