Compartir

Bab 4

Autor: Jessica
Beberapa hari setelahnya, Jack tak pernah sekali pun meneleponku.

Pada hari keempat setelah operasi, aku baru saja pulang dari pemeriksaan ulang di rumah sakit. Perutku masih terasa lumayan nyeri.

Jack meletakkan sebuah termos di depanku.

“Tina dengar kamu kurang nafsu makan belakangan ini, jadi dia sengaja memasakkan sup ayam untukmu.”

Aku membuka tutup termos itu dan aroma ginseng yang sangat menyengat langsung tercium.

Dokter sudah berpesan bahwa aku baru saja selesai operasi, jadi tak boleh sembarangan mengonsumsi bahan herbal pemacu sirkulasi darah.

Tina mendalami biologi, bukan kedokteran klinis, jadi wajar saja kalau tidak tahu.

Namun, seharusnya Jack tahu.

Petunjuk hal-hal yang harus diperhatikan setelah operasi dari rumah sakit tergeletak jelas di meja ruang tamu, tapi dia tak pernah melihatnya sekali pun.

Aku menutup kembali termos itu.

“Nggak perlu.”

Tina yang berdiri di samping berbicara dengan nada sedih,

“Bu Wenny, aku sudah memasaknya selama tiga jam.”

“Kalau begitu kamu makan saja sendiri.”

Seketika, wajah Jack langsung memuram.

“Wenny, haruskah kamu selalu menginjak-injak niat baik orang lain seperti ini?”

Aku mendongak.

“Kamu tahu nggak kenapa aku nggak bisa makan ini?”

“Nggak masalah kalau nggak mau makan, nggak perlu cari-cari alasan.”

“Jack.”

Aku memanggil namanya.

“Bayinya sudah nggak ada.”

Seketika, suasana di ruang tamu menjadi hening.

Tas yang dipegang Tina terjatuh ke lantai.

Jack seperti tak mengerti apa maksudku, dia berdiri mematung di tempatnya sambil menatapku cukup lama.

“Apa kamu bilang?”

“Aku sudah melakukan operasi aborsi tiga hari yang lalu.”

Wajahnya langsung memucat.

Detik berikutnya, dia menerjang maju dan mencengkeram pergelangan tanganku erat-erat.

“Coba kamu ulangi sekali lagi.”

Cengkeramannya sangat kuat, tepat menekan bekas memar infus.

Aku meringis kesakitan sambil mengerutkan kening, tapi tak berusaha memberontak.

“Bayinya sudah nggak ada.”

“Kenapa?”

Matanya memerah dan suaranya terdengar serak,

“Wenny, kenapa kamu nggak kasih tahu aku?”

Aku menatapnya, lalu mendadak merasa kalimat itu sangat konyol.

“Saat aku tanda tangan surat persetujuan aborsi, kamu berdiri tepat di luar pintu.”

Tangannya membeku.

“Bukannya yang kamu tanda tangan itu formulir pemeriksaan kandungan?”

“Kamu pernah bertanya padaku?”

Bibirnya terbuka beberapa kali, tapi tak ada satu kata pun yang keluar.

Aku menarik tanganku kembali, lalu menyerahkan rekam medis yang sudah kusiapkan sejak awal padanya.

“Janin mengalami kelainan pertumbuhan. Melanjutkan kehamilan resikonya sangat tinggi dan dokter menyarankan untuk segera diaborsi.”

Jack mengambil laporan itu. Tangannya gemetaran sampai tak bisa memegang lembaran itu dengan stabil.

“Tapi tetap saja harus kita putuskan bersama.”

“Aku sudah pernah memberimu kesempatan.”

“Kapan?”

“Pertama kali saat kita melakukan pemeriksaan kandungan, aku bilang dokter ingin bicara denganmu, tapi kamu bilang Tina harus melaporkan data.”

“Kedua kali saat aku mengalami pendarahan. Aku meneleponmu sebanyak 12 kali, tapi ponselmu mati karena sedang menemani Tina menghadiri forum industri.”

“Ketiga kali saat hari pemeriksaan kandungan kemarin. Aku bertanya bisakah kamu tinggal untuk menemaniku, tapi dirimu bilang proyek nggak bisa jalan tanpamu.”

Setiap kalimat yang kuucapkan membuat wajahnya semakin memucat.

Sampai di kalimat terakhir, dia menundukkan kepala, bahkan tak punya keberanian lagi untuk sekedar menatap mataku.

Tina memungut tasnya dan berkata pelan,

“Bu Wenny, ini nggak bisa menyalahkan Kak Jack. Dia melakukan ini semua juga demi perusahaan.”

Aku menoleh menatapnya.

“Aku sedang bicara dengan suamiku, apa hakmu untuk ikut menjelaskan?”

Dia menggigit bibirnya dan air mata langsung menetes.

Jack pun reflek menoleh menatapnya.

Gerakan itu sangat tipis, tapi berhasil memutus harapan terakhir yang tersisa di hatiku.

Bayi kami baru saja tiada.

Aku berdiri di hadapannya, menunjukkan satu per satu laporan rekam medisku.

Namun, ternyata reaksi pertamanya adalah takut Tina merasa tersudutkan.

Aku tersenyum dan berkata,

“Jack, kita cerai saja.”

Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App

Último capítulo

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 9

    Suasana di balik telepon menjadi hening.Beberapa detik kemudian, terdengar suara tawa sinisnya.“Bu Wenny, kalau memang nggak siap kalah, bilang saja terus terang.”“Kak Jack memilih aku untuk menggantikan kamu bukan karena diriku merebutnya darimu, tapi memang dirimu sudah nggak sanggup mengejar ritme proyek ini.”“Sejak hamil, kamu jadi curigaan setiap hari. Bahkan satu kelompok data yang normal saja harus kamu periksa berulang kali.”“Memang benar yang Kak Jack bilang, kondisimu yang seperti ini sama sekali nggak cocok untuk berkecimpung di dunia penelitian.”Mendengar itu, aku tak marah.“Tina.”“Apa?”“Gambar fluoresensi mentah hari keenam dari kelompok penelitian nomor tujuh, kok kamu pakai gambar milik kelompok nomor lima?”Seketika, napasnya tertahan.Aku melanjutkannya lagi.“Data faktor inflamasi di sampel nomor tiga, kok kamu hapus angka tertingginya?”“Lalu tentang kematian nggak wajar pada mencit nomor dua, kamu tulis di catatan bahwa itu akibat kesalahan operasional. Pad

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 8

    Jack berdiri mematung di tempat. Rona terakhir di wajahnya pun sirna sepenuhnya.Setelah terdiam cukup lama, dia pun berkata pelan, “Aku dan Tina nggak pernah melewati batas.”“Itu sudah nggak penting lagi.”“Kami benaran nggak pernah.”Dia melangkah maju selangkah dengan panik.“Jam tangan itu hanya dia pinjam sebentar waktu eksperimen, kemeja itu juga hanya nggak sengaja. Aku nggak pernah sekali pun menyentuhnya.”Aku menatapnya tanpa ada sedikit pun gejolak emosi di hatiku.“Jack, kamu masih belum mengerti juga?”“Kalian pernah tidur bersama atau nggak, itu sudah nggak penting lagi.”“Saat kamu mementingkan dirinya dibanding diriku sekali, sepuluh kali, hingga seratus kali, pernikahan ini sudah berakhir.”Harapan di matanya perlahan hancur.“Aku hanya terlalu mementingkan proyek ini.”“Benarkah?”Aku mengeluarkan ponsel, lalu membuka berkas data mentah yang dikirimkan Kelvin.“Kalau begitu, coba kasih tahu aku kenapa kamu membantunya menghapus data?”Seketika, ekspresi wajah Jack m

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 7

    Aku menyalin semua berkas ke dalam hard disk eksternal, lalu menghubungi Kelvin.Saat panggilan tersambung dan mendengar suaraku, dia sempat terdiam selama belasan detik.“Bu Wenny, akhirnya kamu menghubungi aku juga.”Aku bertanya padanya seberapa banyak bukti yang dia pegang.Dia bilang sangat banyak.“Setelah Tina mengambil alih proyek, dia sudah mengubah data setidaknya empat kali. Pak Jack selalu menyuruh kami untuk menurut saja.”“Nggak ada yang protes?”“Orang-orang yang protes sudah dipindahtugaskan semuanya.”Aku memejamkan mata sejenak.“Kok sebelumnya kamu nggak langsung melaporkan ini?”Kelvin tersenyum getir.“Tim legal perusahaan bilang siapa pun yang membocorkan dokumen proyek akan dituntut sampai bangkrut.”“Bu Wenny adalah pendiri proyek ini, aku rasa kamu bisa mengurus ini.”“Tapi, setelah itu Pak Jack bilang kondisi mentalmu sedang nggak stabil karena hamil, jadi kami dilarang mengganggumu dengan urusan perusahaan.”Ternyata, bukan hanya aku yang mengira diriku sakit

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 6

    Untuk sementara, aku menginap di rumah temanku, si Lina.Lina adalah seorang dokter spesialis kandungan, sekaligus satu-satunya orang yang tahu kalau diriku menjalani operasi aborsi.Saat membuka pintu dan melihatku, dia tak bertanya apa-apa. Dia hanya mengambil koperku, lalu membawakan semangkuk bubur hangat.Baru makan dua suap, tiba-tiba perutku terasa mual.Saat berlari ke kamar mandi, aku muntah sampai seluruh tubuhku gemetaran.Lina berjongkok di sampingku sambil mengelus punggungku pelan.“Kalau mau menangis, menangis saja.”Aku bilang tak ingin menangis.Usai bicara, air mata malah menetes jatuh ke dalam wastafel.Malam itu, aku menangis cukup lama.Bukan karena merasa tak rela melepaskan Jack.Aku menangisi anak yang tak sempat melihat dunia itu, sekaligus menangisi diriku sendiri di masa lalu yang merasa dicintai selama sepuluh tahun ini.Saat terbangun keesokan harinya, ada 99 panggilan tak terjawab di ponselku.Semuanya dari Jack.Dia mengirimkan banyak pesan.[Kamu di mana

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 5

    Dia langsung mendongak.“Apa kamu bilang?”Aku mengambil surat cerai dari dalam laci meja ruang tamu.Surat itu sudah lengkap dengan tanda tanganku.Rumah ini adalah aset pribadiku sebelum nikah, saham perusahaan diselesaikan sesuai perjanjian sebelum menikah dan sisa harta bersama lainnya kuserahkan pada pengacara untuk dibagi.Aku tak meminta lebih.Dan tak berminat meminta apa pun lagi.Jack menatap surat cerai itu. Tatapan matanya berubah dari terkejut menjadi amarah.“Kamu mau membalas dendam padaku gara-gara masalah anak?”“Bukan.”“Kalau begitu karena Tina?”“Bukan juga.”Aku menatap pria yang sudah kucintai selama sepuluh tahun ini. Nada suaraku terdengar sangat tenang, bahkan diriku sendiri juga heran. “Karena aku sudah nggak mencintaimu lagi.”Dia seperti baru saja dihantam pukulan keras tepat di dadanya.Beberapa detik kemudian, dia memaksakan sebuah senyuman kaku.“Wenny, kamu tahu nggak apa yang sedang kamu bicarakan?”“Tahu.”“Demi menikah denganku, kamu melepas karir di

  • Perjalanan ini, Aku Tak Akan Menemanimu Lagi   Bab 4

    Beberapa hari setelahnya, Jack tak pernah sekali pun meneleponku.Pada hari keempat setelah operasi, aku baru saja pulang dari pemeriksaan ulang di rumah sakit. Perutku masih terasa lumayan nyeri.Jack meletakkan sebuah termos di depanku.“Tina dengar kamu kurang nafsu makan belakangan ini, jadi dia sengaja memasakkan sup ayam untukmu.”Aku membuka tutup termos itu dan aroma ginseng yang sangat menyengat langsung tercium.Dokter sudah berpesan bahwa aku baru saja selesai operasi, jadi tak boleh sembarangan mengonsumsi bahan herbal pemacu sirkulasi darah.Tina mendalami biologi, bukan kedokteran klinis, jadi wajar saja kalau tidak tahu.Namun, seharusnya Jack tahu.Petunjuk hal-hal yang harus diperhatikan setelah operasi dari rumah sakit tergeletak jelas di meja ruang tamu, tapi dia tak pernah melihatnya sekali pun.Aku menutup kembali termos itu.“Nggak perlu.”Tina yang berdiri di samping berbicara dengan nada sedih, “Bu Wenny, aku sudah memasaknya selama tiga jam.”“Kalau begitu kam

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status