Begitu pilihan itu selesai diubah, sistem menampilkan satu baris tulisan berwarna hijau, perubahan berhasil.Aku menatap tulisan itu, mataku terasa perih.Tinggal satu menit sebelum sistem ditutup.Saat itu, ponsel di atas meja tiba-tiba bergetar.Renaldy Wijaya.Aku mengangkatnya. Suaranya terdengar dari seberang sambungan, disertai tawa."Clarissa, pilihan universitasmu sudah diisi, 'kan? Aku sudah nggak sabar menantikan kehidupan kuliah kita bersama nanti."Aku terdiam sejenak."Kamu benar-benar menantikannya?"Tanyaku."Tentu saja," jawabnya. Nada suaranya ringan, seolah itu sudah sewajarnya. "Kita sudah berjanji sejak kecil, bukan?"Aku tidak tahan lagi dan langsung memutuskan telepon.Ibuku dan ibu Renaldy adalah teman sekamar saat kuliah, bahkan mereka merupakan sahabat baik.Karena itu, sejak lahir aku dan Renaldy selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan.Sejak kecil, dia selalu berkata bahwa kami akan terus bersama.Bersama sejak taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah me
Read more