Share

Bab 2

Author: Nadin
Freya berdiri patuh di sampingnya.

Keduanya bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, seakan benar-benar datang untuk merayakan bersama sahabat baik.

"Clarissa, cepat coba. Aku sampai mengantre setengah jam baru berhasil membelinya."

Aku duduk di sofa, memperhatikan mereka melepas sepatu lalu masuk dengan santainya, seolah-olah sedang pulang ke rumah sendiri.

Renaldy duduk di sebelahku dan menyenggol lenganku dengan sikunya. "Kenapa kemarin kamu memutuskan teleponku?"

"Sinyalnya buruk," jawabku.

"Kenapa setelah itu kamu nggak membalas pesanku?"

"Lupa."

Dia hanya bergumam, lalu tidak bertanya lagi.

Di meja makan, Renaldy terus bercerita bahwa orang tuanya sedang membereskan barang-barang dan berencana pindah ke Beijia untuk menemaninya belajar begitu surat penerimaannya keluar.

Freya berkata bahwa orang tuanya bahkan sudah melihat-lihat rumah di daerah Haedian.

Ibuku menyahut, "Kalau Clarissa juga berhasil masuk Universitas Cynhua, alangkah baiknya kalau keluarga kita bisa berkumpul di Beijia."

Renaldy menoleh kepadaku. "Clarissa pasti lolos."

Freya juga tersenyum. "Benar. Kita bertiga kuliah di Universitas Cynhua bersama. Membayangkannya saja sudah membuatku nggak sabar."

Aku menunduk sambil menyantap nasi, sendokku terus mengaduk butiran nasi di mangkuk.

Setelah makan, ibuku pergi mencuci piring, sementara Renaldy berdiri dan pergi ke kamar mandi.

Di ruang tamu hanya tersisa aku dan Freya.

Udara hening selama tiga detik.

Kemudian, Freya meletakkan kulit jeruk di atas meja dan tiba-tiba tersenyum.

"Clarissa, kamu tahu? Akhir-akhir ini, aku membaca sebuah novel."

"Ada seorang tokoh wanita antagonis yang mengandalkan hubungannya sebagai teman masa kecil pemeran utama pria, lalu berkhayal bisa lebih dulu mendapatkan cintanya karena kedekatan mereka. Tapi, kemudian pemeran utama wanita muncul secara tiba-tiba dan menjalin hubungan dengan pemeran utama pria."

"Demi membuat pemeran utama wanita merasa tenang, pemeran utama pria mengubah pilihan universitas tokoh wanita antagonis itu, membuatnya tetap tinggal di daerah setempat, sementara dia dan pemeran utama wanita pergi kuliah di tempat lain."

Dia memiringkan kepalanya dan menatapku. "Menurutmu, bagaimana novel ini?"

Aku menatap matanya.

Sepasang mata itu sangat indah. Bulu matanya panjang dan lebat. Ketika tersenyum, matanya melengkung seperti bulan sabit.

"Menurutku, pemeran utama pria dan wanita sama-sama sakit."

Kataku.

Senyumnya sempat membeku.

"Seorang pria yang nggak mampu memberikan rasa aman yang cukup kepada pacarnya adalah sampah."

"Masih harus menghancurkan masa depan orang lain buat membuktikan kalau dirinya begitu setia, berarti otaknya bermasalah."

"Pemeran utama wanitanya juga sama. Dia sendiri nggak punya rasa aman, tapi bukannya mencari tahu masalah pacarnya, malah mencari masalah dengan orang lain."

"Orang seperti ini, bahkan kalau pacarnya adalah sampah yang nggak disukai siapa pun, tetap bakal menganggapnya sebagai harta."

"Lagian," kataku sambil melihat wajah Freya yang perlahan berubah muram, "kalau pemeran utama wanita merasa pacarnya bakal berselingkuh, bukannya itu berarti laki-lakinya yang bermasalah?"

Aku tersenyum.

"Kalau menurutku, dua orang gila ini sebaiknya dikunci bersama selamanya. Jangan sampai mereka keluar dan mencelakakan orang lain."

Bibir Freya terkatup rapat.

"Lagian, kalau aku tokoh wanita antagonis itu, setelah menyimpan semua bukti, aku bakal langsung melaporkan kedua orang bodoh itu."

Dia belum sempat menjawab.

Renaldy keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan tangannya dengan handuk. Dia melihatku, lalu melihat Freya. "Lagi membicarakan apa?"

Freya memaksakan senyum. "Nggak ada."

Aku bersandar di sofa. "Kami lagi membicarakan apa mengubah pilihan universitas orang lain secara diam-diam itu melanggar hukum atau nggak."

Wajah Renaldy seketika berubah.

Dia mengerutkan kening dan menatap Freya. Freya memalingkan wajah, kukunya menancap ke kulit jeruk hingga airnya membasahi tangannya.

Tidak lama kemudian, Renaldy berkata.

"Itu ... kami pergi dulu. Siang ini masih ada urusan."

Saat sampai di pintu dan sedang mengenakan sepatu, Renaldy menoleh dan menatapku.

Aku tidak memandangnya.

Begitu pintu tertutup, aku mendengar Freya mengatakan sesuatu di lorong dengan suara sangat pelan.

Aku tidak mendengarnya dengan jelas.

Namun, aku bisa menebak itu bukan sesuatu yang baik.

Selama dua hari berikutnya, Renaldy selalu mengirimiku tiga pesan setiap hari.

[Clarissa, kamu sudah mengonfirmasi pilihan universitasmu, 'kan?]

[Kamu benar-benar sudah mengisinya?]

[Nggak apa-apa, aku cuma bertanya.]

Aku membalasnya, [Kenapa?]

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Sahabat Adalah Maut   Bab 13

    Ibu membaliknya untuk memastikan tidak ada apa-apa di bagian belakang, lalu membaliknya lagi dan membacanya dari awal.Kemudian, ibuku melepas kacamatanya dan mengelapnya. Setelah melipat lembar transkrip nilai itu dengan rapi, dia masuk ke kamar tidurnya bersama ayahku, membuka laci paling atas meja samping tempat tidur, lalu menyimpannya jauh di dalam.Di dalam laci itu tersimpan semua kartu ujian pentingku sejak kecil, mulai dari olimpiade matematika saat SD hingga ujian masuk perguruan tinggi.Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikannya menyimpan kertas itu, lalu perlahan menutup laci.Saat makan malam, kami bertiga duduk mengelilingi meja. Suara alat makan yang beradu dengan mangkuk terdengar samar.Di tengah makan, ibuku tiba-tiba berkata."Keluarga Renaldy sudah pindah."Tanganku yang sedang mengambil lauk tidak berhenti."Bulan lalu ibunya datang buat pamit. Katanya, anaknya ikut ujian ulang dan berhasil masuk universitas negeri biasa. Dia pergi ke provinsi lain."Ibu berhent

  • Sahabat Adalah Maut   Bab 12

    Seragam militer itu dibawa ayahku pulang saat dia pensiun dari dinas militer. Tanda pangkat di bahunya sudah aus hingga memutih, satu kancing di kerahnya juga sudah lepas. Ibuku menjahitkan kancing baru dengan benang biru tua, jahitannya sangat rapi.Aku melipat seragam itu dengan rapi, lalu menekannya di bawah bantal.Saat berbaring, bantal terasa sedikit lebih tinggi dari biasanya.Ponselku kembali menyala.Di grup kelas, teman-teman sedang memamerkan foto kamar asrama universitas masing-masing.Seseorang mengirim foto pemandangan dari jendela Asrama Hayden Universitas Cynhua. Dari jendela besar itu terlihat pepohonan hijau dan gedung-gedung di kejauhan.Ada yang memotret asrama Universitas Wuhai yang dipenuhi bunga sakura. Dari jendelanya terlihat atap perpustakaan lama.Ada pula yang mengirim foto halaman rumput di depan Gedung Gwanva Universitas Fudera. Cahaya senja membentang miring di atasnya, menghadirkan suasana yang hangat.Aku bangkit dan berdiri di dekat jendela untuk memot

  • Sahabat Adalah Maut   Bab 11

    "Kamu sudah diterima di Universitas Teknologi Pertahanan Nasional! Kamu sudah mendapatkan semuanya! Kenapa masih mau menghancurkan kami?"Aku menarik lenganku kembali, lalu mundur setengah langkah. Kusen pintu menjadi pembatas antara aku dan mereka."Freya, kalian mengubah pilihan universitasku, mempermalukanku di depan umum waktu pesta perpisahan, menyebarkan video buat melakukan perundungan siber terhadapku, dan sekarang datang memintaku membantu kalian berbohong.""Setiap langkah, kalian sendiri yang memilihnya."Kegilaan di matanya makin menjadi-jadi. Sambil menunjukku, dia berkata dengan suara melengking."Semua ini gara-gara kamu! Semua salahmu!""Kenapa kamu selalu jadi yang nomor satu di angkatan? Kenapa orang tuaku selalu menyuruhku belajar darimu!""Kenapa Renaldy yang begitu hebat tetap harus berada di peringkat kedua di bawahmu? Kenapa?"Aku menatapnya."Karena aku lebih giat darimu. Sesederhana itu."Kemudian, aku mengangkat pandanganku dan menatap Renaldy."Renaldy, hubun

  • Sahabat Adalah Maut   Bab 10

    Begitu membuka mulut, suaranya sudah terdengar seperti hendak menangis dan bergetar hebat."Clarissa, Bibi mohon kepadamu. Universitas Cynhua sudah mengeluarkan pemberitahuan pencabutan penerimaan, katanya kedua anak itu berkelakuan buruk.""Mereka masih punya kesempatan kalau mengulang setahun lagi, tapi kalau sanksi ini sampai ditetapkan, sekolah mana yang masih berani menerima mereka?"Ibu Freya langsung meraih tangan ibuku, membuat tubuh ibuku sedikit terhuyung ke depan.Suara ibu Freya bergetar sampai-sampai tidak mampu mengucapkan kalimat dengan jelas."Kami bersedia memberikan ganti rugi. Kalian mau berapa? Berapa pun jumlahnya nggak masalah.""Asalkan kalian mau mengeluarkan pernyataan damai, dan mengatakan kalau semua itu cuma bercanda.""Mereka masih kecil. Masa depan mereka nggak boleh hancur begini."Ayah Renaldy berdiri paling belakang tanpa berkata apa-apa. Namun, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Ayah Freya membetulkan k

  • Sahabat Adalah Maut   Bab 9

    Aku memandangi mereka selama dua detik."Hal pertama yang kalian lakukan setelah keluar adalah menyuruhku menjadi kambing hitam dan membantu kalian membersihkan nama?"Renaldy panik dan kembali maju setengah langkah."Kalau ada noda di catatanku, hidupku bakal hancur seumur hidup! Memangnya kenapa kalau kamu membuat pernyataan? Memangnya kamu bakal rugi apa?""Lalu, ketika kamu mengubah pilihan universitasku, pernah nggak kamu berpikir kalau aku benar-benar masuk perguruan tinggi vokasi, masa depanku bakal hancur?"Wajah Freya pucat pasi, bibirnya gemetar. Dia mengulurkan tangan hendak menyentuh tanganku, tetapi kemudian menariknya kembali."Clarissa, jangan sekejam ini. Kami mohon padamu. Setelah ini, kami nggak bakal mengganggumu lagi, oke?"Aku berdiri tegak."Kalian ditahan selama tujuh hari karena kalian melakukan perbuatan melanggar hukum. Itu nggak ada hubungannya dengan aku membuat pernyataan atau nggak. Catatan kalian ternoda karena ulah kalian sendiri, bukan karena aku."Aku

  • Sahabat Adalah Maut   Bab 8

    "Aku takut Ibu malah makin marah kalau terus memakinya."Ibuku menatapku, sudut matanya memerah dan bibirnya terkatup rapat.Dia memalingkan wajah, lalu menyeka sudut matanya dengan lengan baju. Ibuku tidak sampai menangis, tetapi ujung hidungnya sudah memerah.Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu masuk gedung dan berjalan di depanku.Malam itu, ayahku duduk di ruang tamu cukup lama.Biasanya, pukul sepuluh dia sudah tidur. Namun, malam itu, hingga pukul dua belas lampu ruang tamu masih menyala.Aku bangun untuk mengambil air dan melihatnya duduk di sofa tanpa menyalakan televisi. Layar ponselnya menyala, menampilkan tangkapan layar dari perundungan yang kualami di internet.Dia menggeser layar satu per satu, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya.Mendengar suara langkah kaki, dia mengangkat kepala. "Putriku.""Ya.""Kamu bilang punya bukti, 'kan? Keluarkan. Ayah bakal menemanimu ke kantor polisi."Aku berdiri sebentar, lalu kembali ke kamar dan mengunduh tiga tan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status