LOGIN
Ibu membaliknya untuk memastikan tidak ada apa-apa di bagian belakang, lalu membaliknya lagi dan membacanya dari awal.Kemudian, ibuku melepas kacamatanya dan mengelapnya. Setelah melipat lembar transkrip nilai itu dengan rapi, dia masuk ke kamar tidurnya bersama ayahku, membuka laci paling atas meja samping tempat tidur, lalu menyimpannya jauh di dalam.Di dalam laci itu tersimpan semua kartu ujian pentingku sejak kecil, mulai dari olimpiade matematika saat SD hingga ujian masuk perguruan tinggi.Aku berdiri di ambang pintu, memperhatikannya menyimpan kertas itu, lalu perlahan menutup laci.Saat makan malam, kami bertiga duduk mengelilingi meja. Suara alat makan yang beradu dengan mangkuk terdengar samar.Di tengah makan, ibuku tiba-tiba berkata."Keluarga Renaldy sudah pindah."Tanganku yang sedang mengambil lauk tidak berhenti."Bulan lalu ibunya datang buat pamit. Katanya, anaknya ikut ujian ulang dan berhasil masuk universitas negeri biasa. Dia pergi ke provinsi lain."Ibu berhent
Seragam militer itu dibawa ayahku pulang saat dia pensiun dari dinas militer. Tanda pangkat di bahunya sudah aus hingga memutih, satu kancing di kerahnya juga sudah lepas. Ibuku menjahitkan kancing baru dengan benang biru tua, jahitannya sangat rapi.Aku melipat seragam itu dengan rapi, lalu menekannya di bawah bantal.Saat berbaring, bantal terasa sedikit lebih tinggi dari biasanya.Ponselku kembali menyala.Di grup kelas, teman-teman sedang memamerkan foto kamar asrama universitas masing-masing.Seseorang mengirim foto pemandangan dari jendela Asrama Hayden Universitas Cynhua. Dari jendela besar itu terlihat pepohonan hijau dan gedung-gedung di kejauhan.Ada yang memotret asrama Universitas Wuhai yang dipenuhi bunga sakura. Dari jendelanya terlihat atap perpustakaan lama.Ada pula yang mengirim foto halaman rumput di depan Gedung Gwanva Universitas Fudera. Cahaya senja membentang miring di atasnya, menghadirkan suasana yang hangat.Aku bangkit dan berdiri di dekat jendela untuk memot
"Kamu sudah diterima di Universitas Teknologi Pertahanan Nasional! Kamu sudah mendapatkan semuanya! Kenapa masih mau menghancurkan kami?"Aku menarik lenganku kembali, lalu mundur setengah langkah. Kusen pintu menjadi pembatas antara aku dan mereka."Freya, kalian mengubah pilihan universitasku, mempermalukanku di depan umum waktu pesta perpisahan, menyebarkan video buat melakukan perundungan siber terhadapku, dan sekarang datang memintaku membantu kalian berbohong.""Setiap langkah, kalian sendiri yang memilihnya."Kegilaan di matanya makin menjadi-jadi. Sambil menunjukku, dia berkata dengan suara melengking."Semua ini gara-gara kamu! Semua salahmu!""Kenapa kamu selalu jadi yang nomor satu di angkatan? Kenapa orang tuaku selalu menyuruhku belajar darimu!""Kenapa Renaldy yang begitu hebat tetap harus berada di peringkat kedua di bawahmu? Kenapa?"Aku menatapnya."Karena aku lebih giat darimu. Sesederhana itu."Kemudian, aku mengangkat pandanganku dan menatap Renaldy."Renaldy, hubun
Begitu membuka mulut, suaranya sudah terdengar seperti hendak menangis dan bergetar hebat."Clarissa, Bibi mohon kepadamu. Universitas Cynhua sudah mengeluarkan pemberitahuan pencabutan penerimaan, katanya kedua anak itu berkelakuan buruk.""Mereka masih punya kesempatan kalau mengulang setahun lagi, tapi kalau sanksi ini sampai ditetapkan, sekolah mana yang masih berani menerima mereka?"Ibu Freya langsung meraih tangan ibuku, membuat tubuh ibuku sedikit terhuyung ke depan.Suara ibu Freya bergetar sampai-sampai tidak mampu mengucapkan kalimat dengan jelas."Kami bersedia memberikan ganti rugi. Kalian mau berapa? Berapa pun jumlahnya nggak masalah.""Asalkan kalian mau mengeluarkan pernyataan damai, dan mengatakan kalau semua itu cuma bercanda.""Mereka masih kecil. Masa depan mereka nggak boleh hancur begini."Ayah Renaldy berdiri paling belakang tanpa berkata apa-apa. Namun, tubuhnya membungkuk, kedua tangannya terkepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.Ayah Freya membetulkan k
Aku memandangi mereka selama dua detik."Hal pertama yang kalian lakukan setelah keluar adalah menyuruhku menjadi kambing hitam dan membantu kalian membersihkan nama?"Renaldy panik dan kembali maju setengah langkah."Kalau ada noda di catatanku, hidupku bakal hancur seumur hidup! Memangnya kenapa kalau kamu membuat pernyataan? Memangnya kamu bakal rugi apa?""Lalu, ketika kamu mengubah pilihan universitasku, pernah nggak kamu berpikir kalau aku benar-benar masuk perguruan tinggi vokasi, masa depanku bakal hancur?"Wajah Freya pucat pasi, bibirnya gemetar. Dia mengulurkan tangan hendak menyentuh tanganku, tetapi kemudian menariknya kembali."Clarissa, jangan sekejam ini. Kami mohon padamu. Setelah ini, kami nggak bakal mengganggumu lagi, oke?"Aku berdiri tegak."Kalian ditahan selama tujuh hari karena kalian melakukan perbuatan melanggar hukum. Itu nggak ada hubungannya dengan aku membuat pernyataan atau nggak. Catatan kalian ternoda karena ulah kalian sendiri, bukan karena aku."Aku
"Aku takut Ibu malah makin marah kalau terus memakinya."Ibuku menatapku, sudut matanya memerah dan bibirnya terkatup rapat.Dia memalingkan wajah, lalu menyeka sudut matanya dengan lengan baju. Ibuku tidak sampai menangis, tetapi ujung hidungnya sudah memerah.Dia menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu masuk gedung dan berjalan di depanku.Malam itu, ayahku duduk di ruang tamu cukup lama.Biasanya, pukul sepuluh dia sudah tidur. Namun, malam itu, hingga pukul dua belas lampu ruang tamu masih menyala.Aku bangun untuk mengambil air dan melihatnya duduk di sofa tanpa menyalakan televisi. Layar ponselnya menyala, menampilkan tangkapan layar dari perundungan yang kualami di internet.Dia menggeser layar satu per satu, tanpa menunjukkan ekspresi apa pun di wajahnya.Mendengar suara langkah kaki, dia mengangkat kepala. "Putriku.""Ya.""Kamu bilang punya bukti, 'kan? Keluarkan. Ayah bakal menemanimu ke kantor polisi."Aku berdiri sebentar, lalu kembali ke kamar dan mengunduh tiga tan