Dan karena ia menolak diam, keluarga besan sendiri yang membawanya kemari atas persetujuan seorang yang tidak pantas di panggil Ayah.Dengan wajah penuh iba di depan orang lain, namun mata yang dingin ketika hanya mereka berdua."Kau akan lebih tenang di sini," katanya waktu itu, seolah kalimat itu adalah kebaikan, bukan hukuman.Sisilia tidak melawan lagi.Ia tahu melawan hanya akan memperkuat tuduhan bahwa dirinya tidak waras. Maka ia memilih jalan yang jauh lebih sunyi: menunggu, mengamati, dan tersenyum.Pagi itu, seperti biasa, Suster Maria datang membawa nampan berisi obat-obatan. Wajahnya selalu ramah, meski matanya menyimpan kelelahan seorang perawat yang telah terlalu lama bekerja di tempat yang jarang didengar tawa."Sisilia, waktunya minum obat," ujarnya lembut, meletakkan gelas kecil berisi pil-pil warna-warni.Sisilia mengangguk, tersenyum tipis. "Terima kasih, Suster."Ia menelan pil itu di depan Maria, namun begitu suster itu berbalik untuk mencatat di buku, lidahnya
Last Updated : 2026-10-30 Read more