INICIAR SESIÓNSINOPSIS Di depan matanya sendiri, Sisilia Miranda menyaksikan kakaknya, Amelia, dibunuh secara brutal oleh keluarga suaminya. Yang lebih menyakitkan, sang ayah memilih diam demi menjaga harga diri dan kekuasaan besan yang begitu tinggi. Sejak malam itu, Sisilia menjelma menjadi bayangan. Ia membiarkan dirinya direndahkan, diperlakukan bagai budak di rumahnya sendiri lemah dan tak berdaya di mata semua orang. Namun di balik topeng itu, dendam tumbuh diam-diam, menunggu waktu yang tepat untuk menghancurkan mereka semua. Sebab domba yang menyamar terlalu lama, pada akhirnya akan menunjukkan taringnya. Siapa yang sesungguhnya lemah dan siapa yang sedang menunggu saat yang tepat untuk membalas?
Ver másMalam itu hujan turun begitu deras, seolah langit pun ikut menangisi apa yang terjadi.
Sisilia Miranda, gadis berusia tujuh belas tahun, berdiri mematung di sudut ruangan, menyaksikan tubuh kakaknya—Selin tergeletak berlumuran darah di lantai marmer dingin kediaman keluarga suaminya.
Teriakan yang tadi menggema kini berubah menjadi keheningan yang mencekam, hanya suara isak tangis Sisilia yang tertahan di kerongkongan, karena ia tak berani bersuara.
Ia melihat semuanya.
Setiap pukulan.
Setiap tetes darah.
Setiap tarikan napas terakhir Kakaknya yang memohon ampun kepada orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya sendiri.
Dan yang lebih menyakitkan dari semua itu, Ayahnya, Tuan Romanov, hanya berdiri di ambang pintu.
Diam. Tak bergerak.
Matanya menatap datar, seolah yang terbaring di sana bukan darah dagingnya sendiri, melainkan sekadar aib yang harus segera dilupakan.
"Ayah... tolong Kak Selin.." suara Sisilia bergetar, nyaris tak terdengar.
Namun Ayahnya hanya menggeleng pelan, lalu berbisik dengan nada dingin yang akan terus terngiang di telinga Sisilia seumur hidupnya, "Sudahlah. Ini sudah menjadi urusan keluarga mereka. Kita tidak bisa ikut campur. Harga diri keluarga ini... kekuasaan mereka... jangan sampai kita kehilangan itu semua hanya karena masalah rumah tangga Selin."
Kata-kata itu bagaikan pisau yang menikam jauh lebih dalam daripada luka yang diterima Selin.
Sebab luka Selinberakhir malam itu.
Namun luka Sisilia baru saja dimulai.
Sejak hari itu, dunia Sisilia berubah total.
Ia yang dulu ceria, yang gemar tertawa lepas bersama Kakaknya, kini belajar untuk menyembunyikan seluruh dirinya di balik topeng kelemahan.
Ia membiarkan keluarga Ayahnya memperlakukannya bagai pembantu di rumahnya sendiri, mencuci piring hingga tangannya keriput, dimarahi tanpa alasan, dihina di depan tamu-tamu Ayahnya, bahkan tak jarang ia harus menahan lapar karena dianggap "tidak pantas makan bersama keluarga terhormat."
Namun tak seorang pun tahu, di balik mata sendu dan bahu yang selalu tertunduk itu, tersimpan bara yang membakar tanpa henti.
Setiap malam, ketika seisi rumah telah lelap, Sisilia duduk sendirian di kamar sempitnya, memandangi foto lama bersama Selin yang disembunyikannya rapat-rapat.
Ia mengusap wajah dalam foto itu dengan jari gemetar, lalu berbisik pelan seakan sedang berjanji pada arwah Kakaknya.
"Kak Selin... aku tahu, aku belum bisa berbuat apa-apa sekarang. Tapi aku janji, aku akan membuat mereka semua membayar. Ayah yang memilih diam. Keluarga suamimu yang merenggut nyawamu dengan kejam. Mereka akan merasakan apa yang kita rasakan. Aku bersumpah!"
Air matanya jatuh, namun anehnya, hatinya semakin dingin dan tenang setiap kali ia mengulang sumpah itu.
Dendam yang sunyi itu menjadi satu-satunya alasan Sisilia bangun setiap pagi, menjadi napas yang menghidupkannya di tengah rumah yang memperlakukannya bagai budak.
Tahun demi tahun berlalu.
Sisilia tumbuh menjadi gadis yang tampak rapuh di permukaan selalu mengalah, selalu tersenyum meski disakiti, selalu menunduk meski dihina.
Ia bahkan sengaja memperlambat langkahnya, melembutkan suaranya, membiarkan dirinya terlihat tak berdaya di hadapan keluarga Ayahnya yang congkak.
Sebab ia tahu, seekor serigala yang menyamar sebagai domba akan jauh lebih berbahaya daripada singa yang mengaum di tengah kawanan.
Diam-diam, ia mulai mempelajari seluk-beluk bisnis keluarga Ayahnya.
Ia menyusup ke setiap percakapan, menyimpan setiap rahasia kotor yang terucap di ruang kerja Ayahnya ketika mengira tak ada yang mendengar.
Sisilia mengumpulkan bukti-bukti kecurangan, aliran dana gelap, hingga rahasia memalukan yang selama ini disembunyikan rapat-rapat oleh keluarga Duami mendiang Kakaknya.
Keluarga yang begitu berkuasa hingga hukum pun bisa mereka beli.
Setiap penghinaan yang ia terima, setiap kali ia dipanggil "Anak tak berguna" oleh Ibu tirinya, setiap kali ia dipukul karena kesalahan yang bahkan bukan miliknya.
Bahkan Ibu kandung nya sendiri tidak mampu berbuat apa pun untuk membantu.
Semua itu ia telan bulat-bulat, ia simpan sebagai bahan bakar.
Bukan untuk meratap.
Melainkan untuk menajamkan rencana yang perlahan ia rangkai dalam kesunyian malam.
"Kalian pikir aku lemah," gumamnya suatu malam sambil menatap bayangannya sendiri di cermin retak kamarnya, "Kalian pikir aku hanya boneka yang bisa kalian injak-injak sesuka hati. Tapi kalian lupa... air yang paling tenang, adalah air yang paling dalam."
Kini, berbulan-bulan setelah malam berdarah itu, Sisilia Miranda bukan lagi gadis lemah yang menangis di sudut ruangan.
Ia telah menjelma menjadi sosok yang jauh lebih berbahaya daripada yang siapa pun, bayangkan, seorang wanita yang menyimpan kecerdasan tajam di balik wajah yang tampak rapuh, seorang pendendam yang sabar menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan seluruh kerajaan yang dibangun di atas darah Kakaknya.
Malam ini, ketika bulan purnama menggantung sunyi di langit, Sisilia berdiri di depan cermin besar kamarnya, mengenakan gaun hitam elegan yang akan ia pakai untuk pertama kalinya menghadiri jamuan besar keluarga Ayahnya.
Jamuan yang sama tempat keluarga Suami Selin akan turut hadir sebagai tamu kehormatan.
Ia tersenyum tipis.
Bukan senyum gadis lemah yang selama ini mereka kenal.
Melainkan senyum seseorang yang telah menghitung setiap langkah, menyusun setiap kepingan rencana, dan kini siap membalikkan seluruh dunia yang telah merenggut segalanya darinya.
"Selamat malam, Ayah," bisiknya pelan pada bayangannya sendiri, seolah tengah berlatih. "Malam ini, giliranku untuk bicara."
Di luar sana, badai baru saja akan dimulai dan kali ini, bukan Sisilia yang akan tenggelam dalam air matanya sendiri.
Malam itu turun perlahan di atas rumah besar bergaya lama, seakan langit sendiri enggan menjadi saksi dari apa yang akan terjadi?
Di kamarnya yang temaram, seorang Sisilia berdiri memandangi bayangannya seolah tengah bertatap muka dengan orang asing.
Seseorang yang dulu penuh tawa, kini hanya menyisakan bara di balik mata yang tenang.
Ia masih ingat bagaimana tragedi itu muncul bagai percikan api yang perlahan menjadi api yang berkobar.
Sisilia juga teringat malam Ibunya diseret untuk menerima hukuman karena membela dirinya, ia berhenti menjadi Sisilia yang dulu.
Ia mengenakan gaun hitam panjang, sederhana namun anggun, seperti seorang yang hendak menghadiri pemakaman.
Pemakaman masa lalunya sendiri.
Tangannya mengelus permukaan meja rias, di mana sebuah foto lama tergeletak, ada juga potret Ibunya, tersenyum lembut, mengenakan bros berlian berbentuk bunga lily.
Bros itu kini melingkar di lehernya sendiri, satu-satunya warisan pemberian yang tersisa dari seorang wanita yang direnggut haknya.
"Ibu," gumamnya, suaranya nyaris tak terdengar, "malam ini, aku akan mengembalikan semuanya. Namamu. Kehormatanmu. Segalanya."
Ia menutup mata sejenak, membiarkan ingatan-ingatan itu berkelebat, tawa Ibunya di lorong rumah, tangan Ayahnya yang dulu hangat memeluknya, dan kemudian... kekosongan.
Pengkhianatan yang datang bagai badai tanpa peringatan.
Ketika ia membuka mata kembali, tak ada lagi kehangatan di sana.
Yang tersisa hanyalah tekad sedingin baja.
Ia melangkah menuju jendela, menyaksikan kilat pertama menyambar di kejauhan, menerangi taman rumah yang dulu penuh mawar kesayangan Ibunya, kini layu, tak terurus, seperti nasib yang sengaja dilupakan.
"Kalian pikir dengan membuangnya dan menjadikan nya pembantu akan bisa menghapus jejaknya begitu saja?" bisiknya pada malam.
"Kau salah besar, Ayah."
Ia membuka laci meja rias, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tua, penuh dengan surat-surat dan dokumen yang telah ia kumpulkan diam-diam selama berbulan- bulan.
Bukti-bukti yang akan meruntuhkan segala kebohongan yang dibangun keluarga Rumanov dan juga Fernando Milanovic.
"Setiap tanda tangan palsu," ucapnya pelan sambil membolak-balik kertas itu, "setiap saksi yang dibungkam, setiap kebohongan yang kalian rangkai, aku menyimpan semuanya. Kalian mengira aku hanya anak kecil yang menangis di sudut kamar. Tapi kalian lupa, air mata bisa berubah menjadi senjata."
Petir menyambar lebih keras, membuat cahaya menerobos masuk lewat celah tirai, menyinari wajahnya sesaat.
Wajah yang dulu polos, kini terpahat oleh dendam yang telah lama dipendam.
Ia mendekati pintu kamar, tangannya menyentuh gagang pintu dengan tenang, seolah waktu tak lagi bergerak begitu cepat baginya.
"Malam ini," bisiknya sekali lagi, kali ini dengan nada yang lebih tegas, seperti seorang jenderal yang siap memimpin pasukannya ke medan perang.
"Bukan lagi giliran kalian untuk bicara. Ini giliranku."
Ia membuka pintu, melangkah keluar menuju lorong panjang yang temaram, di mana lukisan-lukisan keluarga Rumanov tergantung angkuh di dinding.
Wajah-wajah yang tersenyum palsu, menyembunyikan dosa di balik bingkai emas.
Di ujung lorong, cahaya lilin dari ruang makan besar mulai terlihat.
Di sanalah keluarga itu berkumpul, tak menyadari bahwa badai yang sesungguhnya baru saja melangkah mendekat, bukan dari langit, melainkan dari dalam rumah mereka sendiri.
Tangan Sisilia mengepal erat amplop cokelat itu, jantungnya berdegup kencang namun langkahnya tak pernah goyah.
"Selamat malam, Ayah," ucapnya dalam hati, mengulang kata-kata yang telah ia latih ribuan kali di depan cermin.
"Malam ini, giliranku untuk bicara. Dan kali ini... kalian akan mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulutku."
Rumanov tak menghiraukan, Ia melangkah keluar di ikuti oleh Sisilia dari belakang.
Sebelum masuk ke dalam mobil Rumanov mengingatkan.
"Ingat Sisilia, jangan membuat aku kehilangan muka di depan keluarga Fernando!"
dan seketika, semua tatapan di ruangan itu berpaling padanya, terkejut, bingung, dan bagi sebagian, ketakutan mulai merayap di wajah mereka.
Karena mereka tahu, gadis yang berdiri di pintu mobil itu bukan lagi Sisilia yang dulu mereka kenal.
Ini adalah Sisilia yang telah kembali untuk menagih apa yang seharusnya menjadi miliknya.
Romanov tertawa hambar."Hehehe."“Dengan mengirim Anakku ke rumah sakit jiwa?”“Dengan menyelamatkan nama keluarga?”“Selin juga bagian dari keluarga.”Senyum Fernando menghilang.“Jangan mulai!”Romanov menatapnya tajam.“Dia mati.”“Dan itu sudah selesai.” suaranya datar tanpa penyesalan.“Tidak!"Suara Romanov berubah.“Tidak pernah selesai!”Fernando mendekat.“Kau ingin kehilangan Putri keduamu juga?”Romanov terdiam.Fernando menepuk bahunya pelan.“Jangan menjadi bodoh hanya karena rasa bersalah.”Romanov menepis tangannya.“Jangan sentuh aku!"Untuk pertama kalinya malam itu, Fernando melihat kemarahan yang nyata dalam diri pria tersebut.Namun ia tidak gentar.“Besok pagi, berita tentang kondisi mental Sisilia akan keluar.”Romanov mengerutkan kening.“Secepat itu?”“Semua sudah disiapkan.”“Siapa dokternya?”Fernando menyebut sebuah nama.Romanov langsung mengenalinya.“Dia dokter keluarga kita.”“Justru itu.”Romanov menggeleng.“Ini keterlaluan.”Fernando mendekatkan waja
Romanov tak menjawab.Ia hanya memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Putrinya sendiri.Di ambang pintu, sebelum benar-benar diseret keluar dari aula, Sisilia berbisik pelan.Bukan kepada siapa pun yang ada di sana, melainkan kepada dirinya sendiri.“Ini belum berakhir!""Aku bersumpah, ini belum berakhir!"Kalimat itu nyaris tak terdengar.Namun bagi Romanov, suara lirih tersebut justru terasa lebih keras daripada seluruh teriakan yang memenuhi aula sejak beberapa menit terakhir.Tangannya mengepal di sisi tubuh.Untuk sesaat, ia ingin memanggil nama Putrinya.Ingin mengatakan sesuatu.Apa pun.Mungkin meminta maaf.Mungkin menyuruh mereka berhenti.Mungkin mengatakan bahwa semua yang terjadi bukan keinginannya.Namun bibir pria itu tetap terkunci.Ada terlalu banyak hal yang telah ia biarkan terjadi selama bertahun-tahun.Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diam pun memiliki harga.Pintu aula tertutup.Suara langkah kaki Sisilia perlahan menghilang dari
Malam semakin larut ketika Sisilia melangkah keluar dari gerbang kediaman Fernando Milanovic, dadanya masih berdebar kencang, namun untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, debaran itu terasa seperti kelegaan. Ia berjalan menyusuri halaman parkir yang mulai kosong, menghirup udara malam yang dingin, membiarkan setiap partikelnya membasuh beban yang selama ini menghimpit dadanya.Ia tak sempat melihat dua mobil hitam yang melaju kencang dari arah berlawanan, memasuki gerbang dengan kecepatan yang tak biasa, lampu birunya berkedip di kegelapan malam.Sirine itu semakin dekat, semakin nyaring.Sisilia berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan senyum tipis masih tersisa di bibirnya. Ia mengira inilah akhir yang telah ia tunggu.Penangkapan atas kejahatan yang selama ini tersembunyi rapat di balik kemewahan keluarga besan.Namun senyum itu perlahan pudar ketika ia melihat siapa yang keluar dari mobil-mobil tersebut?Bukan petugas berseragam biasa.Melainkan dua pria berjas hitam
Suasana semakin kacau.Bisik-bisik para tamu berubah menjadi gumaman keras yang saling bersahutan, beberapa mulai mengangkat ponsel mereka, merekam setiap detik kekacauan yang terjadi, sementara yang lain bergegas beranjak dari kursi mereka, tak ingin nama baik mereka ikut tercoreng oleh skandal yang baru saja terbongkar di depan mata.Di tengah kekacauan itu, satu langkah kaki justru melangkah maju dengan tenang berlawanan arah dari kerumunan yang panik berhamburan. Sisilia Miranda berjalan anggun menembus keramaian, wajahnya yang biasa tertunduk kini terangkat tegak, matanya menyala dengan keberanian yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya."Aku yang melakukannya," ucapnya lantang, suaranya memotong kebisingan aula bagai pedang yang menebas kesunyian.Seketika, seluruh mata yang masih sanggup berpikir jernih tertuju padanya. Romanov menoleh dengan wajah tak percaya, seolah baru pertama kali dalam hidupnya benar-benar melihat wajah Putrinya sendiri."S-Sisilia?""Apa maks
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.