Home / Romansa Pria / DENDAM YANG BERSEMAYAM DI BALIK SENYUM / Bab 3. Reruntuhan Dan Awal Baru

Share

Bab 3. Reruntuhan Dan Awal Baru

Author: Novia 22
last update publish date: 2026-09-11 22:55:57

Suasana semakin kacau.

Bisik-bisik para tamu berubah menjadi gumaman keras yang saling bersahutan, beberapa mulai mengangkat ponsel mereka, merekam setiap detik kekacauan yang terjadi, sementara yang lain bergegas beranjak dari kursi mereka, tak ingin nama baik mereka ikut tercoreng oleh skandal yang baru saja terbongkar di depan mata.

Di tengah kekacauan itu, satu langkah kaki justru melangkah maju dengan tenang berlawanan arah dari kerumunan yang panik berhamburan. 

Sisilia Miranda berjalan anggun menembus keramaian, wajahnya yang biasa tertunduk kini terangkat tegak, matanya menyala dengan keberanian yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya.

"Aku yang melakukannya," ucapnya lantang, suaranya memotong kebisingan aula bagai pedang yang menebas kesunyian.

Seketika, seluruh mata yang masih sanggup berpikir jernih tertuju padanya. 

Romanov menoleh dengan wajah tak percaya, seolah baru pertama kali dalam hidupnya benar-benar melihat wajah Putrinya sendiri.

"S-Sisilia?"

"Apa maksudmu?" suaranya bergetar, antara murka dan kepanikan yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik wibawa yang selama ini ia jaga mati-matian. 

"Apa yang telah kau lakukan pada Ayah?!"

Sisilia berhenti tepat di depan podium, menatap Ayahnya dengan tatapan dingin yang selama bertahun-tahun ia sembunyikan rapat-rapat di balik senyum penurut. 

"Aku hanya menunjukkan pada dunia siapa Ayah sebenarnya. Bukankah selama ini Ayah begitu bangga dengan 'harga diri' dan 'kekuasaan' keluarga besan yang kejam itu?"

"Diam kamu!" bentak Romanov, wajahnya memerah padam menahan amarah yang bercampur rasa panik yang mulai tak terkendali.

"Kau tidak tahu apa yang baru saja kau perbuat? Kau baru saja menghancurkan segalanya, Sisilia!"

"Menghancurkan?" Sisilia tertawa kecil, tawa dingin yang terasa lebih menyayat daripada teriakan sekalipun. 

"Haha."

"Yang hancur malam ini hanyalah topeng, Ayah. Topeng yang selama tujuh belas tahun Ayah pakai untuk menutupi kenyataan bahwa Ayah?"

"Setahun membiarkan Kak Selin dibunuh tepat di depan mata kita berdua."

Aula kembali senyap sesaat. 

Namun kali ini, keheningan itu bukan lagi karena rasa takut, melainkan karena setiap orang yang hadir mendengar dengan jelas setiap kata yang baru saja terucap, dan tak seorang pun mampu membantahnya.

Nyonya Romanov yang sedari tadi berusaha menahan amarahnya sendiri, kini melangkah maju dengan wajah dipenuhi kebencian yang tak lagi bisa disembunyikan. 

"Plak!"

"Lancang kamu!"

"Kau pikir dengan membongkar semua ini kau bisa membalas dendam begitu saja, gadis kecil?"

"Kau tidak tahu dengan siapa kau sedang berhadapan?!"

Sisilia menoleh perlahan, tatapannya tajam menusuk langsung ke mata wanita tua itu. 

"Justru saya tahu persis dengan siapa saya berhadapan, Nyonya. Keluarga yang membunuh kakak saya dengan tangan mereka sendiri, lalu bersembunyi di balik uang dan kekuasaan untuk menutupi kejahatan itu selama bertahun-tahun."

"Keluarga yang menyuap aparat, membungkam setiap saksi, hingga kematian Kak Selin tercatat rapi sebagai 'kecelakaan rumah tangga' di atas kertas."

"Kau tidak punya bukti apa pun selain rekaman murahan itu!" sahut salah satu Putra Nyonya Fernando, suaranya berusaha terdengar tegas meski wajahnya sudah dibanjiri keringat dingin.

Sisilia mengangkat tas kecil di pergelangan tangannya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu meletakkannya di atas meja terdekat hingga isinya, salinan dokumen dan foto berhamburan di hadapan para tamu yang masih bertahan menyaksikan kehancuran itu.

"Ini baru pembuka," ucapnya dingin, tanpa sedikit pun keraguan dalam suaranya. 

"Rekening gelap, transaksi penyuapan pejabat, hingga laporan otopsi asli yang jauh berbeda dari yang diserahkan pada pihak berwajib. 

Semuanya sudah saya kirimkan salinannya ke media dan kepolisian, sebelum saya melangkah masuk ke aula ini malam ini."

Wajah Nyonya Fernando seketika pucat pasi. 

Suaminya, yang sedari tadi hanya diam membeku di kursinya, kini terhuyung mundur, mencengkeram dadanya sendiri seolah kehabisan napas untuk bernapas.

Dari kejauhan, samar-samar mulai terdengar sirine yang perlahan mendekat, semakin lama semakin nyaring memenuhi malam yang tadinya begitu sempurna. 

Beberapa tamu yang tersisa mulai berbisik panik, sebagian bergegas menuju pintu keluar, meninggalkan gelas-gelas champagne yang masih penuh di atas meja.

Fernando Milanovic turun dari podium dengan langkah limbung, mendekati Sisilia dengan mata berkaca-kaca, entah karena amarah, entah karena ketakutan yang baru pertama kali benar-benar ia rasakan?

"Sisilia... nak... kenapa kau lakukan ini pada kami?" suaranya melemah, jauh berbeda dari nada tegas yang selama ini ia gunakan di rumah. 

"Bukankah kami sudah memberimu tempat tinggal, memberimu makan selama ini?"

Romanov ikut mengangguk membenarkan ucapan besannya.

"Memberi tempat tinggal?" potong Sisilia, untuk pertama kalinya malam itu suaranya bergetar.

Namun bukan karena rasa lemah, melainkan karena amarah yang selama tujuh belas tahun tertahan kini akhirnya menemukan jalan keluarnya. 

"Kalian memberiku tempat tinggal sebagai budak, bukan sebagai manusia yang diperlukan baik!"

"Ayahku juga melakukan itu."

"Setiap malam aku menangis sendirian di kamar sempit itu, mencuci piring hingga tanganku luka, dihina di depan tamu-tamu Ayah sendiri, sementara ia sibuk menjaga 'harga diri' di depan kalian yang telah membunuh Kak Selin!"

Air matanya mulai mengalir deras, namun matanya tetap menyala tajam, tak sedikit pun goyah oleh kesedihan yang menyertainya.

"Aku masih ingat jelas malam itu, kau dan Ayahku, Aku masih ingat bagaimana Kak Selin menjerit memanggil nama Ayah, memohon pertolongan yang tak pernah datang. Dan Ayahku....?" suaranya tercekat sesaat, sebelum kembali dengan nada yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.

"Ayahku hanya berdiri diam di ambang pintu."

"Diam, Ayah! Sementara Anak Ayah sendiri sekarat tepat di depan mata kita!"

Romanov dan Fernando terdiam, tak mampu membalas sepatah kata pun. 

Wajahnya yang dulu berwibawa kini runtuh sepenuhnya, digantikan oleh sosok tua yang rapuh dan kalah telak di hadapan Putrinya sendiri.

Sisilia berbalik perlahan, menatap satu per satu wajah keluarga Fernando Milanovic yang kini gemetar ketakutan.

Wajah-wajah yang selama bertahun-tahun merasa kebal terhadap hukum apa pun.

"Kalian semua," ucapnya, suaranya kini menggema tenang namun setiap kata terasa bagai palu godam yang menghantam telak.

 "Selama bertahun-tahun merasa kebal hukum karena kekuasaan dan uang yang kalian miliki."

"Kalian pikir bisa membunuh, menyuap, lalu tidur nyenyak setiap malam seolah tak pernah terjadi apa-apa?"

Sirine yang tadi samar kini semakin nyaring, hampir mencapai gerbang kediaman megah itu, seolah menjadi simfoni penutup bagi kejatuhan sebuah kerajaan yang selama ini dibangun di atas kebohongan dan darah yang tak pernah terbayar.

Ia menatap Ayahnya untuk terakhir kalinya malam itu, suaranya melembut namun tetap tegas.

"Aku tidak butuh lagi pengakuan atau permintaan maaf dari Ayah!"

"Yang aku inginkan hanyalah keadilan untuk Kak Selin, sesuatu yang seharusnya Ayah perjuangkan berbulan-bulan yang lalu, namun tak pernah sekali pun Ayah lakukan."

Ia berbalik, melangkah keluar dari aula dengan kepala tegak, meninggalkan kehancuran yang baru saja ia ciptakan sebagai pembuka babak baru dalam hidupnya.

Babak di mana kebenaran akhirnya menemukan jalannya sendiri, meski harus menunggu bertahun- tahun dan berbulan-bulan dalam kesunyian dan penderitaan yang nyaris tak tertahankan.

Di ambang pintu aula, ia berhenti sejenak, menatap langit malam yang kini cerah tanpa hujan tampak begitu berbeda dari malam ketika Kakaknya direnggut paksa dari dunia ini.

"Kak Selin," bisiknya pelan, senyum tipis namun tulus terukir di bibirnya untuk pertama kalinya sejak setahun berlalu.

 "Sisilia sudah menepati janjinya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • DENDAM YANG BERSEMAYAM DI BALIK SENYUM   Bab 6. Sudah Selesai

    Romanov tertawa hambar."Hehehe."“Dengan mengirim Anakku ke rumah sakit jiwa?”“Dengan menyelamatkan nama keluarga?”“Selin juga bagian dari keluarga.”Senyum Fernando menghilang.“Jangan mulai!”Romanov menatapnya tajam.“Dia mati.”“Dan itu sudah selesai.” suaranya datar tanpa penyesalan.“Tidak!"Suara Romanov berubah.“Tidak pernah selesai!”Fernando mendekat.“Kau ingin kehilangan Putri keduamu juga?”Romanov terdiam.Fernando menepuk bahunya pelan.“Jangan menjadi bodoh hanya karena rasa bersalah.”Romanov menepis tangannya.“Jangan sentuh aku!"Untuk pertama kalinya malam itu, Fernando melihat kemarahan yang nyata dalam diri pria tersebut.Namun ia tidak gentar.“Besok pagi, berita tentang kondisi mental Sisilia akan keluar.”Romanov mengerutkan kening.“Secepat itu?”“Semua sudah disiapkan.”“Siapa dokternya?”Fernando menyebut sebuah nama.Romanov langsung mengenalinya.“Dia dokter keluarga kita.”“Justru itu.”Romanov menggeleng.“Ini keterlaluan.”Fernando mendekatkan waja

  • DENDAM YANG BERSEMAYAM DI BALIK SENYUM   Bab 5. Jejak Yang Samar

    Romanov tak menjawab.Ia hanya memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Putrinya sendiri.Di ambang pintu, sebelum benar-benar diseret keluar dari aula, Sisilia berbisik pelan.Bukan kepada siapa pun yang ada di sana, melainkan kepada dirinya sendiri.“Ini belum berakhir!""Aku bersumpah, ini belum berakhir!"Kalimat itu nyaris tak terdengar.Namun bagi Romanov, suara lirih tersebut justru terasa lebih keras daripada seluruh teriakan yang memenuhi aula sejak beberapa menit terakhir.Tangannya mengepal di sisi tubuh.Untuk sesaat, ia ingin memanggil nama Putrinya.Ingin mengatakan sesuatu.Apa pun.Mungkin meminta maaf.Mungkin menyuruh mereka berhenti.Mungkin mengatakan bahwa semua yang terjadi bukan keinginannya.Namun bibir pria itu tetap terkunci.Ada terlalu banyak hal yang telah ia biarkan terjadi selama bertahun-tahun.Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diam pun memiliki harga.Pintu aula tertutup.Suara langkah kaki Sisilia perlahan menghilang dari

  • DENDAM YANG BERSEMAYAM DI BALIK SENYUM   Bab 4. Ketika Kemenangan Awal Dari Jebakan

    Malam semakin larut ketika Sisilia melangkah keluar dari gerbang kediaman Fernando Milanovic, dadanya masih berdebar kencang, namun untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, debaran itu terasa seperti kelegaan. Ia berjalan menyusuri halaman parkir yang mulai kosong, menghirup udara malam yang dingin, membiarkan setiap partikelnya membasuh beban yang selama ini menghimpit dadanya.Ia tak sempat melihat dua mobil hitam yang melaju kencang dari arah berlawanan, memasuki gerbang dengan kecepatan yang tak biasa, lampu birunya berkedip di kegelapan malam.Sirine itu semakin dekat, semakin nyaring.Sisilia berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan senyum tipis masih tersisa di bibirnya. Ia mengira inilah akhir yang telah ia tunggu.Penangkapan atas kejahatan yang selama ini tersembunyi rapat di balik kemewahan keluarga besan.Namun senyum itu perlahan pudar ketika ia melihat siapa yang keluar dari mobil-mobil tersebut?Bukan petugas berseragam biasa.Melainkan dua pria berjas hitam

  • DENDAM YANG BERSEMAYAM DI BALIK SENYUM   Bab 3. Reruntuhan Dan Awal Baru

    Suasana semakin kacau.Bisik-bisik para tamu berubah menjadi gumaman keras yang saling bersahutan, beberapa mulai mengangkat ponsel mereka, merekam setiap detik kekacauan yang terjadi, sementara yang lain bergegas beranjak dari kursi mereka, tak ingin nama baik mereka ikut tercoreng oleh skandal yang baru saja terbongkar di depan mata.Di tengah kekacauan itu, satu langkah kaki justru melangkah maju dengan tenang berlawanan arah dari kerumunan yang panik berhamburan. Sisilia Miranda berjalan anggun menembus keramaian, wajahnya yang biasa tertunduk kini terangkat tegak, matanya menyala dengan keberanian yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya."Aku yang melakukannya," ucapnya lantang, suaranya memotong kebisingan aula bagai pedang yang menebas kesunyian.Seketika, seluruh mata yang masih sanggup berpikir jernih tertuju padanya. Romanov menoleh dengan wajah tak percaya, seolah baru pertama kali dalam hidupnya benar-benar melihat wajah Putrinya sendiri."S-Sisilia?""Apa maks

  • DENDAM YANG BERSEMAYAM DI BALIK SENYUM   Bab 2. Pesta Malam Perhitungan

    Langit senja mulai memerah ketika mobil-mobil mewah satu per satu memasuki halaman kediaman keluarga Fernando Milanovic.Lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit aula memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, menerangi wajah-wajah para tamu terhormat yang datang berbondong-bondong mengenakan gaun sutra dan jas mahal.Malam itu adalah perayaan dua puluh lima tahun pernikahan keluarga besan, sebuah pesta yang dirancang untuk mempertontonkan kemewahan, kehormatan, dan kekuasaan yang telah mereka bangun selama puluhan tahun.Di tengah gemerlap itu, tak seorang pun menyadari bahwa malam ini akan menjadi awal dari keruntuhan segalanya.Sisilia Miranda berdiri di teras besar itu, menatap pantulan dirinya sendiri di balik pintu kaca mahal untuk terakhir kalinya sebelum masuk.Gaun hitam panjang yang membalut tubuhnya tampak sederhana namun anggun, jauh berbeda dari kesan yang selama ini melekat padanya.Gadis lemah yang selalu tertunduk, yang suaranya nyaris tak pernah terde

  • DENDAM YANG BERSEMAYAM DI BALIK SENYUM   Bab 1. Bayang-bayang Dibalik Senyum Sisilia

    Malam itu hujan turun begitu deras, seolah langit pun ikut menangisi apa yang terjadi. Sisilia Miranda, gadis berusia tujuh belas tahun, berdiri mematung di sudut ruangan, menyaksikan tubuh kakaknya—Selin tergeletak berlumuran darah di lantai marmer dingin kediaman keluarga suaminya. Teriakan yang tadi menggema kini berubah menjadi keheningan yang mencekam, hanya suara isak tangis Sisilia yang tertahan di kerongkongan, karena ia tak berani bersuara.Ia melihat semuanya.Setiap pukulan.Setiap tetes darah. Setiap tarikan napas terakhir Kakaknya yang memohon ampun kepada orang-orang yang seharusnya menjadi keluarganya sendiri. Dan yang lebih menyakitkan dari semua itu, Ayahnya, Tuan Romanov, hanya berdiri di ambang pintu.Diam. Tak bergerak. Matanya menatap datar, seolah yang terbaring di sana bukan darah dagingnya sendiri, melainkan sekadar aib yang harus segera dilupakan."Ayah... tolong Kak Selin.." suara Sisilia bergetar, nyaris tak terdengar.Namun Ayahnya hanya menggeleng pel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status