LOGINRomanov tertawa hambar.
"Hehehe." “Dengan mengirim Anakku ke rumah sakit jiwa?” “Dengan menyelamatkan nama keluarga?” “Selin juga bagian dari keluarga.” Senyum Fernando menghilang. “Jangan mulai!” Romanov menatapnya tajam. “Dia mati.” “Dan itu sudah selesai.” suaranya datar tanpa penyesalan. “Tidak!" Suara Romanov berubah. “Tidak pernah selesai!” Fernando mendekat. “Kau ingin kehilangan Putri keduamu juga?” Romanov terdiam. Fernando menepuk bahunya pelan. “Jangan menjadi bodoh hanya karena rasa bersalah.” Romanov menepis tangannya. “Jangan sentuh aku!" Untuk pertama kalinya malam itu, Fernando melihat kemarahan yang nyata dalam diri pria tersebut. Namun ia tidak gentar. “Besok pagi, berita tentang kondisi mental Sisilia akan keluar.” Romanov mengerutkan kening. “Secepat itu?” “Semua sudah disiapkan.” “Siapa dokternya?” Fernando menyebut sebuah nama. Romanov langsung mengenalinya. “Dia dokter keluarga kita.” “Justru itu.” Romanov menggeleng. “Ini keterlaluan.” Fernando mendekatkan wajahnya. “Yang keterlaluan adalah membiarkan gadis itu berbicara lagi.” Romanov tak menjawab. Fernando kemudian berbalik. “Besok tidak akan ada lagi Sisilia yang dipercaya orang.” Langkahnya menjauh. “Yang akan mereka lihat hanyalah seorang gadis traumatis yang kehilangan kendali atas pikirannya.” Romanov memejamkan mata. Di dalam kepalanya, suara Sisilia kembali terdengar. Ayah membiarkan ini terjadi lagi? Persis seperti pada Kak Selin. Untuk pertama kalinya, kalimat tersebut terasa seperti hukuman. Sementara itu, mobil yang membawa Sisilia telah meninggalkan pusat kota. Bangunan-bangunan tinggi mulai berkurang. Jalan semakin sepi. Sisilia menyadari arah kendaraan tersebut. “Ke mana kita?” Tak ada jawaban. Ia duduk tegak. “Aku bertanya!” Pria di sebelahnya tetap diam. Sisilia melihat ke depan. “Ini bukan jalan menuju rumah sakit.” Pengemudi tak memberikan respons. Jantung Sisilia berdegup lebih cepat. “Ke mana kalian membawaku?” Kali ini pengemudi menjawab. “Tempat yang lebih aman.” Sisilia mengernyit. “Dari siapa?” “Dari orang-orang yang ingin menyakitimu.” Sisilia tertawa pelan. "Hahahaha." “Bukankah kalian orang-orang itu?” Mobil mendadak melambat. Kemudian berhenti di depan sebuah bangunan besar yang dikelilingi pagar tinggi. Gerbang besi terbuka perlahan. Sisilia menatap bangunan di baliknya. Tidak ada papan nama. Tidak ada lampu terang. Hanya sebuah gedung tua dengan jendela-jendela tinggi yang sebagian tertutup tirai. Rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. “Ini bukan rumah sakit.” Pengemudi turun. Pintu belakang dibuka. Sisilia mundur. “Jangan!” Pria bersenjata kembali mendekat. Sisilia merapatkan tubuhnya ke sisi pintu. “Aku tidak mau masuk!” “Turun!” “Aku mau bicara dengan Ayah.” “Sudah terlambat!” Sisilia menggeleng. “Tidak!" Air matanya kembali jatuh. “Ayahku tidak akan membiarkan kalian melakukan ini!" Pria tersebut menatapnya datar. “Dia sudah membiarkan.” Kalimat itu menghantam Sisilia jauh lebih keras daripada cengkeraman tangan di lengannya. Ia terdiam. Tak mampu membantah. Karena ia tahu pria itu mengatakan kebenaran. Akhirnya ia turun. Kakinya menyentuh tanah. Pintu mobil ditutup di belakangnya. Sisilia berdiri di depan bangunan tersebut. Angin malam meniup rambutnya. Ia menatap ke atas. Gedung itu terlihat seperti tempat yang sengaja disembunyikan dari dunia. Sebuah tempat untuk orang-orang yang ingin dilupakan. Seorang perempuan dengan pakaian putih keluar dari pintu utama. “Nama?” “Dia Sisilia Romanov.” Perempuan itu memeriksa berkas. “Pasien baru?” Sisilia menatapnya. “Aku bukan pasien.” Perempuan itu diam. Sisilia melangkah mundur. “Aku tidak sakit!” Tidak ada jawaban. “Aku mendengar kalian.” Suaranya semakin meninggi. “Aku tidak gila!” Pria bersenjata kembali memegang lengannya. Sisilia berusaha melepaskan diri. “Aku tidak gila!” Teriakannya menggema di halaman. “Aku tahu siapa yang membunuh Kakakku!” Tidak ada seorang pun yang datang menolong. “Aku punya bukti!” Suara itu mulai pecah. “Aku punya rekaman!” Pintu gedung terbuka lebih lebar. Dua petugas keluar. Mereka memegang tubuh Sisilia. Ia meronta sekuat tenaga. “Jangan!” Air matanya mengalir deras. “Tolong!” Untuk beberapa detik, Sisilia masih melawan. Namun tubuhnya semakin lemah. Ia akhirnya tersungkur dan berlutut. Kepalanya tertunduk. Napasnya berantakan. Kemudian ia merasakan sesuatu di telapak tangannya. Sebuah benda kecil. Kartu memori. Sisilia terdiam. Tadi, sebelum meninggalkan aula, ia sempat menyelipkannya ke dalam lipatan pakaian. Benda itu adalah salinan terakhir dari bukti yang ia miliki. Bukti yang bahkan Fernando tidak tahu keberadaannya. Sisilia menggenggamnya erat. Jangan sampai mereka menemukannya. Sejak meninggalkan rumah, sebuah keyakinan kecil muncul kembali. Mereka mungkin telah merampas kebebasannya. Mereka mungkin dapat menghancurkan namanya. Mereka bahkan mungkin dapat membuat seluruh dunia percaya bahwa dirinya kehilangan kewarasan. Namun mereka belum memiliki semuanya. Masih ada satu bukti. Satu potongan kebenaran. Dan selama benda kecil itu masih berada di tangannya, perang belum berakhir. Sisilia perlahan bangkit. Ia menatap pintu bangunan yang terbuka di hadapannya. Kemudian berbisik, “Kalian pikir kalian sudah menang?” Matanya kembali mengeras. “Tunggu saja!” Ia melangkah masuk. “Aku akan keluar dari sini.” Pintu ditutup di belakangnya. Bunyi kunci terdengar. Klik. Suara kecil itu menggema panjang di kepalanya. Sisilia berdiri seorang diri di lorong yang asing. Tidak ada keluarga. Tidak ada teman. Tidak ada orang yang datang menyelamatkan. Hanya dirinya sendiri. Namun untuk seterusnya, ia tidak merasa benar-benar sendirian. Karena di dalam genggamannya masih ada sesuatu yang bisa menghancurkan kebohongan mereka. Sebuah bukti kecil. Sebuah rahasia. Sebuah alasan untuk tetap bertahan. Di luar sana, dunia mungkin akan segera percaya bahwa Sisilia Romanov telah kehilangan akal sehatnya. Tetapi mereka belum tahu satu hal. Gadis yang mereka masukkan ke tempat itu bukan seorang korban yang telah menyerah. Ia adalah seseorang yang sedang menunggu kesempatan. Dan ketika kesempatan itu datang, ia tidak akan keluar sebagai gadis yang sama. Ia akan keluar membawa kebenaran yang jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya. Sisilia duduk di sudut ruangan berdinding putih, memandangi cahaya pagi yang menyusup lewat jeruji jendela. Senyumnya tak pernah pudar, senyum yang membuat para perawat mengira ia telah tenang, patuh, bahkan bahagia. Tak seorang pun tahu bahwa di balik lengkung bibir itu tersimpan bara yang tak pernah padam sejak malam ia diseret ke tempat ini. Waktu berlalu begitu cepat. Tiga tahun lalu, keluarganya sendiri yang menandatangani surat itu. Bukan karena ia gila, melainkan karena ia tahu terlalu banyak. Ia tahu tentang uang yang berpindah tangan, tentang kematian Kakaknya yang dibungkus rapi . Tentang tanda tangan palsu.Dan karena ia menolak diam, keluarga besan sendiri yang membawanya kemari atas persetujuan seorang yang tidak pantas di panggil Ayah.Dengan wajah penuh iba di depan orang lain, namun mata yang dingin ketika hanya mereka berdua."Kau akan lebih tenang di sini," katanya waktu itu, seolah kalimat itu adalah kebaikan, bukan hukuman.Sisilia tidak melawan lagi.Ia tahu melawan hanya akan memperkuat tuduhan bahwa dirinya tidak waras. Maka ia memilih jalan yang jauh lebih sunyi: menunggu, mengamati, dan tersenyum.Pagi itu, seperti biasa, Suster Maria datang membawa nampan berisi obat-obatan. Wajahnya selalu ramah, meski matanya menyimpan kelelahan seorang perawat yang telah terlalu lama bekerja di tempat yang jarang didengar tawa."Sisilia, waktunya minum obat," ujarnya lembut, meletakkan gelas kecil berisi pil-pil warna-warni.Sisilia mengangguk, tersenyum tipis. "Terima kasih, Suster."Ia menelan pil itu di depan Maria, namun begitu suster itu berbalik untuk mencatat di buku, lidahnya
Romanov tertawa hambar."Hehehe."“Dengan mengirim Anakku ke rumah sakit jiwa?”“Dengan menyelamatkan nama keluarga?”“Selin juga bagian dari keluarga.”Senyum Fernando menghilang.“Jangan mulai!”Romanov menatapnya tajam.“Dia mati.”“Dan itu sudah selesai.” suaranya datar tanpa penyesalan.“Tidak!"Suara Romanov berubah.“Tidak pernah selesai!”Fernando mendekat.“Kau ingin kehilangan Putri keduamu juga?”Romanov terdiam.Fernando menepuk bahunya pelan.“Jangan menjadi bodoh hanya karena rasa bersalah.”Romanov menepis tangannya.“Jangan sentuh aku!"Untuk pertama kalinya malam itu, Fernando melihat kemarahan yang nyata dalam diri pria tersebut.Namun ia tidak gentar.“Besok pagi, berita tentang kondisi mental Sisilia akan keluar.”Romanov mengerutkan kening.“Secepat itu?”“Semua sudah disiapkan.”“Siapa dokternya?”Fernando menyebut sebuah nama.Romanov langsung mengenalinya.“Dia dokter keluarga kita.”“Justru itu.”Romanov menggeleng.“Ini keterlaluan.”Fernando mendekatkan waja
Romanov tak menjawab.Ia hanya memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Putrinya sendiri.Di ambang pintu, sebelum benar-benar diseret keluar dari aula, Sisilia berbisik pelan.Bukan kepada siapa pun yang ada di sana, melainkan kepada dirinya sendiri.“Ini belum berakhir!""Aku bersumpah, ini belum berakhir!"Kalimat itu nyaris tak terdengar.Namun bagi Romanov, suara lirih tersebut justru terasa lebih keras daripada seluruh teriakan yang memenuhi aula sejak beberapa menit terakhir.Tangannya mengepal di sisi tubuh.Untuk sesaat, ia ingin memanggil nama Putrinya.Ingin mengatakan sesuatu.Apa pun.Mungkin meminta maaf.Mungkin menyuruh mereka berhenti.Mungkin mengatakan bahwa semua yang terjadi bukan keinginannya.Namun bibir pria itu tetap terkunci.Ada terlalu banyak hal yang telah ia biarkan terjadi selama bertahun-tahun.Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diam pun memiliki harga.Pintu aula tertutup.Suara langkah kaki Sisilia perlahan menghilang dari
Malam semakin larut ketika Sisilia melangkah keluar dari gerbang kediaman Fernando Milanovic, dadanya masih berdebar kencang, namun untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, debaran itu terasa seperti kelegaan. Ia berjalan menyusuri halaman parkir yang mulai kosong, menghirup udara malam yang dingin, membiarkan setiap partikelnya membasuh beban yang selama ini menghimpit dadanya.Ia tak sempat melihat dua mobil hitam yang melaju kencang dari arah berlawanan, memasuki gerbang dengan kecepatan yang tak biasa, lampu birunya berkedip di kegelapan malam.Sirine itu semakin dekat, semakin nyaring.Sisilia berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan senyum tipis masih tersisa di bibirnya. Ia mengira inilah akhir yang telah ia tunggu.Penangkapan atas kejahatan yang selama ini tersembunyi rapat di balik kemewahan keluarga besan.Namun senyum itu perlahan pudar ketika ia melihat siapa yang keluar dari mobil-mobil tersebut?Bukan petugas berseragam biasa.Melainkan dua pria berjas hitam
Suasana semakin kacau.Bisik-bisik para tamu berubah menjadi gumaman keras yang saling bersahutan, beberapa mulai mengangkat ponsel mereka, merekam setiap detik kekacauan yang terjadi, sementara yang lain bergegas beranjak dari kursi mereka, tak ingin nama baik mereka ikut tercoreng oleh skandal yang baru saja terbongkar di depan mata.Di tengah kekacauan itu, satu langkah kaki justru melangkah maju dengan tenang berlawanan arah dari kerumunan yang panik berhamburan. Sisilia Miranda berjalan anggun menembus keramaian, wajahnya yang biasa tertunduk kini terangkat tegak, matanya menyala dengan keberanian yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya."Aku yang melakukannya," ucapnya lantang, suaranya memotong kebisingan aula bagai pedang yang menebas kesunyian.Seketika, seluruh mata yang masih sanggup berpikir jernih tertuju padanya. Romanov menoleh dengan wajah tak percaya, seolah baru pertama kali dalam hidupnya benar-benar melihat wajah Putrinya sendiri."S-Sisilia?""Apa maks
Langit senja mulai memerah ketika mobil-mobil mewah satu per satu memasuki halaman kediaman keluarga Fernando Milanovic.Lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit aula memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, menerangi wajah-wajah para tamu terhormat yang datang berbondong-bondong mengenakan gaun sutra dan jas mahal.Malam itu adalah perayaan dua puluh lima tahun pernikahan keluarga besan, sebuah pesta yang dirancang untuk mempertontonkan kemewahan, kehormatan, dan kekuasaan yang telah mereka bangun selama puluhan tahun.Di tengah gemerlap itu, tak seorang pun menyadari bahwa malam ini akan menjadi awal dari keruntuhan segalanya.Sisilia Miranda berdiri di teras besar itu, menatap pantulan dirinya sendiri di balik pintu kaca mahal untuk terakhir kalinya sebelum masuk.Gaun hitam panjang yang membalut tubuhnya tampak sederhana namun anggun, jauh berbeda dari kesan yang selama ini melekat padanya.Gadis lemah yang selalu tertunduk, yang suaranya nyaris tak pernah terde






