MasukRomanov tak menjawab.
Ia hanya memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Putrinya sendiri.
Di ambang pintu, sebelum benar-benar diseret keluar dari aula, Sisilia berbisik pelan.
Bukan kepada siapa pun yang ada di sana, melainkan kepada dirinya sendiri.
“Ini belum berakhir!"
"Aku bersumpah, ini belum berakhir!"
Kalimat itu nyaris tak terdengar.
Namun bagi Romanov, suara lirih tersebut justru terasa lebih keras daripada seluruh teriakan yang memenuhi aula sejak beberapa menit terakhir.
Tangannya mengepal di sisi tubuh.
Untuk sesaat, ia ingin memanggil nama Putrinya.
Ingin mengatakan sesuatu.
Apa pun.
Mungkin meminta maaf.
Mungkin menyuruh mereka berhenti.
Mungkin mengatakan bahwa semua yang terjadi bukan keinginannya.
Namun bibir pria itu tetap terkunci.
Ada terlalu banyak hal yang telah ia biarkan terjadi selama bertahun-tahun.
Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diam pun memiliki harga.
Pintu aula tertutup.
Suara langkah kaki Sisilia perlahan menghilang dari balik dinding.
Romanov masih berdiri di tempatnya.
Sendirian di tengah ruangan yang dipenuhi orang-orang.
Aneh.
Beberapa menit lalu aula itu terasa seperti panggung besar tempat sebuah keluarga berkuasa mempertontonkan kehormatan mereka.
Sekarang tempat tersebut justru terasa seperti ruang pengadilan tanpa hakim.
Tak seorang pun berbicara.
Para tamu saling bertukar pandang.
Beberapa menundukkan kepala.
Sebagian lainnya pura-pura sibuk memeriksa ponsel.
Mereka semua tahu sesuatu yang buruk telah terjadi.
Tetapi tidak seorang pun cukup berani untuk menjadi orang pertama yang mengatakannya.
Fernando justru tampak tenang.
Ia berjalan menuju meja panjang tempat minuman masih tersusun rapi.
Tangannya mengambil segelas anggur yang sejak tadi tak tersentuh.
Ia menyesap sedikit.
Kemudian menoleh kepada para tamu.
“Kurasa acara malam ini sudah selesai.”
Nada suaranya santai.
Seolah tidak ada seorang gadis yang baru saja kehilangan kebebasannya.
Seolah seorang perempuan bernama Selin tidak pernah mati.
Seolah rekaman yang baru saja diputar bukanlah bukti tentang sebuah kejahatan.
Seolah semua orang yang berada di ruangan tersebut tidak baru saja menyaksikan bagaimana kebenaran dibungkam tepat di depan mata mereka.
Fernando meletakkan gelasnya.
“Terima kasih atas kehadiran kalian.”
Tak ada tepuk tangan.
Tak ada senyuman.
Yang terdengar hanya suara kursi bergeser dan langkah kaki orang-orang yang mulai meninggalkan aula.
Fernando memperhatikan mereka dengan tatapan dingin.
Satu per satu.
Ia tahu sebagian dari mereka akan membicarakan kejadian ini setelah meninggalkan rumah.
Namun ia juga tahu bahwa rasa takut memiliki kekuatan yang jauh lebih besar daripada rasa ingin tahu.
Mereka akan memilih diam.
Karena begitulah dunia bekerja.
Kebenaran sering kali kalah karena tidak memiliki bukti.
Kebenaran kalah karena orang-orang yang mengetahuinya terlalu takut untuk berbicara.
Di luar kediaman Fernando, udara malam terasa menusuk.
Sisilia diseret menuju sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari tangga utama.
Ia kembali meronta.
“Lepaskan aku!”
Salah satu pria bersenjata mencengkeram lengannya semakin kuat.
“Jangan membuat keadaan lebih sulit!”
“Aku tidak takut pada kalian!”
“Kau seharusnya takut.”
Sisilia berhenti sesaat.
Ia menatap pria itu dengan mata basah.
“Aku sudah kehilangan Kak Selin.”
Suaranya bergetar.
“Menurutmu, apa lagi yang bisa kalian ambil dariku?”
Pria tersebut tak menjawab.
Sisilia tertawa kecil.
"Hahaha."
Tawa yang terdengar begitu getir.
“Benar.”
Ia mengusap air matanya dengan punggung tangan.
“Kalian bahkan tidak punya jawaban.”
Pintu mobil dibuka.
Sisilia didorong masuk.
Namun sebelum tubuhnya sepenuhnya berada di dalam, ia menahan kusen pintu dengan kedua tangannya.
“Jangan sentuh aku!”
Seorang pria mencoba menariknya.
Sisilia berteriak.
“Ayah!”
Suara itu melesat ke udara.
Untuk beberapa detik, semua orang yang berada di sekitar kendaraan terdiam.
Sisilia menoleh ke arah rumah.
Jaraknya tidak terlalu jauh.
Dari tempatnya berdiri, ia masih dapat melihat cahaya besar dari aula melalui jendela.
Di balik salah satu jendela itu, bayangan Romanov terlihat samar.
Ayahnya masih berada di sana.
Diam.
Tidak bergerak.
Sisilia menatap bayangan tersebut dengan mata yang semakin basah.
“Ayah!”
Kali ini suaranya lebih pelan.
Bukan lagi kemarahan.
Melainkan permohonan terakhir.
“Tolong aku!”
Bayangan itu tetap diam.
Tidak ada langkah kaki.
Tidak ada pintu yang terbuka.
Tidak ada suara yang menyahut.
Sisilia akhirnya memahami sesuatu yang selama ini selalu ia hindari.
Ayahnya telah memilih.
Dan pilihan itu bukan dirinya.
Perlahan, jari-jarinya melepaskan kusen pintu.
Tubuhnya didorong masuk.
Pintu mobil ditutup.
Suara kunci otomatis terdengar.
Sisilia duduk di kursi belakang dengan napas tersengal.
Ia memandangi kaca jendela.
Mobil mulai bergerak.
Kediaman Fernando perlahan menjauh.
Lampu-lampu besar di halaman berubah menjadi titik-titik kecil.
Sisilia terus menatapnya sampai rumah itu menghilang dari pandangan.
Barulah ia menundukkan kepala.
Air mata kembali jatuh.
Tetapi kali ini ia tidak menangis seperti seseorang yang telah menyerah.
Ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
Kesedihan masih ada.
Ketakutan masih membekas.
Namun di balik semuanya, muncul tekad yang perlahan mengeras.
Ia mengeluarkan napas panjang.
"Haaaaaaaa!"
“Kak Selin…”
Namanya keluar seperti doa.
“Aku minta maaf.”
Jarinya menggenggam ujung pakaian.
“Aku gagal malam ini.”
Ia menutup mata.
“Tapi aku belum selesai.”
Pria yang duduk di sampingnya menoleh.
“Berhenti bicara sendiri!"
Sisilia membuka mata.
“Kenapa?”
“Kau akan segera ditempatkan di rumah sakit.”
“Rumah sakit jiwa?”
Pria itu tidak menjawab.
Sisilia tersenyum tipis.
“Lucu.”
“Apa yang lucu?”
“Mereka membunuh seseorang.”
Ia menatap pria tersebut.
“Lalu sekarang mereka mencoba membuat orang yang mengetahui pembunuhan itu terlihat gila.”
Pria itu mengalihkan pandangan.
Sisilia memperhatikannya beberapa saat.
Kemudian ia bertanya,
“Berapa lama?”
“Apa?”
“Berapa lama kalian akan menahanku?”
“Itu bukan urusanku.”
“Semua orang selalu mengatakan begitu.”
Sisilia menyandarkan kepalanya ke kaca.
“Tidak ada yang bertanggung jawab atas apa pun.”
Mobil terus melaju menembus jalan malam.
Lampu kota bergerak cepat di luar jendela.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kemudian hilang.
Sisilia mengamati pantulan wajahnya sendiri pada kaca.
Wajah seorang gadis yang beberapa jam lalu berdiri dengan keyakinan bahwa kebenaran akan mampu menyelamatkannya.
Kini ia bahkan tidak tahu apakah esok pagi masih bisa melihat matahari dari balik jendela yang tidak memiliki pegangan.
Namun satu hal ia yakini.
Ia tidak boleh menyerah.
Di kediaman Fernando, suasana belum benar-benar kembali tenang.
Setelah para tamu pergi, hanya beberapa orang kepercayaan keluarga yang masih berada di aula.
Fernando berdiri di depan Romanov.
“Kau terlalu emosional.”
Romanov menatapnya.
“Dia Putriku.”
Fernando tersenyum tipis.
“Justru karena dia Putrimu, kau harus mengerti bahwa apa yang kami lakukan adalah untuk melindungi keluarga.”
“Melindungi?”
Dan karena ia menolak diam, keluarga besan sendiri yang membawanya kemari atas persetujuan seorang yang tidak pantas di panggil Ayah.Dengan wajah penuh iba di depan orang lain, namun mata yang dingin ketika hanya mereka berdua."Kau akan lebih tenang di sini," katanya waktu itu, seolah kalimat itu adalah kebaikan, bukan hukuman.Sisilia tidak melawan lagi.Ia tahu melawan hanya akan memperkuat tuduhan bahwa dirinya tidak waras. Maka ia memilih jalan yang jauh lebih sunyi: menunggu, mengamati, dan tersenyum.Pagi itu, seperti biasa, Suster Maria datang membawa nampan berisi obat-obatan. Wajahnya selalu ramah, meski matanya menyimpan kelelahan seorang perawat yang telah terlalu lama bekerja di tempat yang jarang didengar tawa."Sisilia, waktunya minum obat," ujarnya lembut, meletakkan gelas kecil berisi pil-pil warna-warni.Sisilia mengangguk, tersenyum tipis. "Terima kasih, Suster."Ia menelan pil itu di depan Maria, namun begitu suster itu berbalik untuk mencatat di buku, lidahnya
Romanov tertawa hambar."Hehehe."“Dengan mengirim Anakku ke rumah sakit jiwa?”“Dengan menyelamatkan nama keluarga?”“Selin juga bagian dari keluarga.”Senyum Fernando menghilang.“Jangan mulai!”Romanov menatapnya tajam.“Dia mati.”“Dan itu sudah selesai.” suaranya datar tanpa penyesalan.“Tidak!"Suara Romanov berubah.“Tidak pernah selesai!”Fernando mendekat.“Kau ingin kehilangan Putri keduamu juga?”Romanov terdiam.Fernando menepuk bahunya pelan.“Jangan menjadi bodoh hanya karena rasa bersalah.”Romanov menepis tangannya.“Jangan sentuh aku!"Untuk pertama kalinya malam itu, Fernando melihat kemarahan yang nyata dalam diri pria tersebut.Namun ia tidak gentar.“Besok pagi, berita tentang kondisi mental Sisilia akan keluar.”Romanov mengerutkan kening.“Secepat itu?”“Semua sudah disiapkan.”“Siapa dokternya?”Fernando menyebut sebuah nama.Romanov langsung mengenalinya.“Dia dokter keluarga kita.”“Justru itu.”Romanov menggeleng.“Ini keterlaluan.”Fernando mendekatkan waja
Romanov tak menjawab.Ia hanya memalingkan wajahnya, tak sanggup menatap mata Putrinya sendiri.Di ambang pintu, sebelum benar-benar diseret keluar dari aula, Sisilia berbisik pelan.Bukan kepada siapa pun yang ada di sana, melainkan kepada dirinya sendiri.“Ini belum berakhir!""Aku bersumpah, ini belum berakhir!"Kalimat itu nyaris tak terdengar.Namun bagi Romanov, suara lirih tersebut justru terasa lebih keras daripada seluruh teriakan yang memenuhi aula sejak beberapa menit terakhir.Tangannya mengepal di sisi tubuh.Untuk sesaat, ia ingin memanggil nama Putrinya.Ingin mengatakan sesuatu.Apa pun.Mungkin meminta maaf.Mungkin menyuruh mereka berhenti.Mungkin mengatakan bahwa semua yang terjadi bukan keinginannya.Namun bibir pria itu tetap terkunci.Ada terlalu banyak hal yang telah ia biarkan terjadi selama bertahun-tahun.Dan malam ini, untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa diam pun memiliki harga.Pintu aula tertutup.Suara langkah kaki Sisilia perlahan menghilang dari
Malam semakin larut ketika Sisilia melangkah keluar dari gerbang kediaman Fernando Milanovic, dadanya masih berdebar kencang, namun untuk pertama kalinya dalam tujuh belas tahun, debaran itu terasa seperti kelegaan. Ia berjalan menyusuri halaman parkir yang mulai kosong, menghirup udara malam yang dingin, membiarkan setiap partikelnya membasuh beban yang selama ini menghimpit dadanya.Ia tak sempat melihat dua mobil hitam yang melaju kencang dari arah berlawanan, memasuki gerbang dengan kecepatan yang tak biasa, lampu birunya berkedip di kegelapan malam.Sirine itu semakin dekat, semakin nyaring.Sisilia berhenti sejenak, menoleh ke belakang dengan senyum tipis masih tersisa di bibirnya. Ia mengira inilah akhir yang telah ia tunggu.Penangkapan atas kejahatan yang selama ini tersembunyi rapat di balik kemewahan keluarga besan.Namun senyum itu perlahan pudar ketika ia melihat siapa yang keluar dari mobil-mobil tersebut?Bukan petugas berseragam biasa.Melainkan dua pria berjas hitam
Suasana semakin kacau.Bisik-bisik para tamu berubah menjadi gumaman keras yang saling bersahutan, beberapa mulai mengangkat ponsel mereka, merekam setiap detik kekacauan yang terjadi, sementara yang lain bergegas beranjak dari kursi mereka, tak ingin nama baik mereka ikut tercoreng oleh skandal yang baru saja terbongkar di depan mata.Di tengah kekacauan itu, satu langkah kaki justru melangkah maju dengan tenang berlawanan arah dari kerumunan yang panik berhamburan. Sisilia Miranda berjalan anggun menembus keramaian, wajahnya yang biasa tertunduk kini terangkat tegak, matanya menyala dengan keberanian yang belum pernah disaksikan siapa pun sebelumnya."Aku yang melakukannya," ucapnya lantang, suaranya memotong kebisingan aula bagai pedang yang menebas kesunyian.Seketika, seluruh mata yang masih sanggup berpikir jernih tertuju padanya. Romanov menoleh dengan wajah tak percaya, seolah baru pertama kali dalam hidupnya benar-benar melihat wajah Putrinya sendiri."S-Sisilia?""Apa maks
Langit senja mulai memerah ketika mobil-mobil mewah satu per satu memasuki halaman kediaman keluarga Fernando Milanovic.Lampu-lampu kristal yang tergantung di langit-langit aula memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan, menerangi wajah-wajah para tamu terhormat yang datang berbondong-bondong mengenakan gaun sutra dan jas mahal.Malam itu adalah perayaan dua puluh lima tahun pernikahan keluarga besan, sebuah pesta yang dirancang untuk mempertontonkan kemewahan, kehormatan, dan kekuasaan yang telah mereka bangun selama puluhan tahun.Di tengah gemerlap itu, tak seorang pun menyadari bahwa malam ini akan menjadi awal dari keruntuhan segalanya.Sisilia Miranda berdiri di teras besar itu, menatap pantulan dirinya sendiri di balik pintu kaca mahal untuk terakhir kalinya sebelum masuk.Gaun hitam panjang yang membalut tubuhnya tampak sederhana namun anggun, jauh berbeda dari kesan yang selama ini melekat padanya.Gadis lemah yang selalu tertunduk, yang suaranya nyaris tak pernah terde






