Sudamani tidak menarik tangannya dengan tergesa. Gerakan panik hanya akan memancing kecurigaan.Ia membiarkan lengan kirinya tergantung kaku, lalu mengusap parut luka itu perlahan dengan telapak tangan kanan."Bekas tebasan," suaranya tetap datar. "Dukunmu menjahitnya terlalu kasar."Mata Danurdara menyipit, mengamati lengan itu sesaat sebelum mendengkus remeh."Bangkai tidak membutuhkan kulit mulus, Senopati. Selama tanganmu masih bisa memenggal kepala musuh, jahitannya tidak penting. Cepat! Gusti Prabu sudah menunggumu."Danurdara berbalik, melangkah keluar.Sudamani mengikuti sang Patih, menaiki undakan batu menuju lantai atas. Bangsal agung sunyi.Tidak ada deretan abdi, prajurit pengawal, atau pejabat istana berbusana mewah seperti yang samar-samar diingat Sudamani.Hanya ada pelita-pelita temaram yang apinya bergoyang tertiup angin malam, serta selembar peta wilayah dari kulit samak yang terbentang di atas meja kayu jati panjang.Di ujung meja, seorang pria tua duduk membungkuk
Terakhir Diperbarui : 2026-09-13 Baca selengkapnya