MasukPerlahan, Sudamani menolehkan lehernya sembari mencabut mata tombak yang menancap di bahu kirinya.
Cahaya obor menerangi separuh wajah sang senopati. Prajurit itu membelalak ngeri.
“S-senopati Sudamani. Ti-tidak mungkin. Kau sudah mati.”
Matanya menatap ngeri ke lubang di bahu Sudamani. Tidak ada semburan darah merah segar. Hanya cairan kehitaman kental yang merembes pelan dengan bau anyir.
Sebelum prajurit itu sempat membuka mulut untuk berteriak, tombak sudah melesat tepat ke mulut, memaku prajurit itu ke batang pohon di belakangnya.
Pintu bilik papan terbuka kasar. Suara di luar akhirnya memancing dua perwira yang tadi asyik menenggak arak.
Perwira pertama yang brewokan dan sempoyongan keluar paling depan, parang pendek terhunus di tangannya. Bau tuak murahan menguar tajam dari mulutnya.
"Keparat mana yang berani—"
Sudamani tidak memberinya kesempatan menyelesaikan umpatan. Gerakannya cepat.
Bugh!
Ujung siku Sudamani menghantam ulu hati pria brewok itu, disusul telapak tangannya yang menghantam dagu sang perwira ke atas.
Terdengar bunyi gemeretak rahang patah. Tubuh perwira yang mabuk berat itu terpelanting, roboh ke tanah, lalu diam tak bernyawa.
Perwira kedua—yang tidak terlalu mabuk, berjalan ke luar.
“Kakang?”
Langkahnya membeku di ambang pintu.
Matanya tertumbuk pada mayat temannya, lalu perlahan naik menatap sosok tegap yang berdiri bersimbah tetesan cairan gelap di bahu kirinya.
Cahaya pelita minyak dari dalam bilik menerangi wajah sang penyusup.
Mata perwira kedua membelalak. Napasnya tercekat di tenggorokan, pedang sabet di tangannya gemetar.
"S-Senopati ...? Tidak mungkin ... kau sudah mampus.”
Sudamani melangkah maju satu depa. Ujung Bilah Jagal yang bergerigi terangkat perlahan, menempel tepat di kulit jakun perwira yang tersisa. Hawa dingin dari akik wulung di hulu pedang menusuk pori-pori leher pria itu.
Sudamani menatapnya dengan pupil mata hitam yang tak berkedip.
"Kau melihatku mati?" tanya Sudamani datar.
Perwira itu menelan ludah dengan susah payah, keringat dingin membanjiri pelipisnya.
Pertanyaan itu terdengar gila hingga membuatnya ingin menjerit histeris. Panglima legendaris yang dikabarkan tewas kini berdiri tepat di depan hidungnya, menodongkan bilah pedang terkutuk, dan menanyakan kematiannya sendiri tanpa riak emosi sedikit pun.
"B-bukan aku yang membunuhmu?! Percayalah padaku!"
"Jawab, pertanyaanku! Bagaimana pasukanku dihabisi di lembah itu? Bagaimana aku mati?"
Perwira itu gemetar hebat, bibirnya memucat. "A-aku tidak tahu! Demi dewa, kami bahkan tidak menyentuhmu!"
Ujung Bilah Jagal menekan lebih dalam ke jakunnya, menggores kulit hingga merembeskan titik darah. Hawa dingin akik wulung membuat napas perwira itu tercekat.
"Bicara!"
"Warta kemenangan itu bohong!" rintih perwira itu putus asa, kedua tangannya terangkat gemetar. "Kemenangan itu hanya karangan Senopati Brajawuni demi merebut anugerah tanah lungguh dari Gusti Prabu kami!"
Mata hitam Sudamani menyipit tajam. "Maksudmu?"
"Malam sebelum kami tiba di Lembah Melata, laskar kami melihat bola api merah berekor melesat jatuh tepat di tengah perkemahan pasukannmu," bisik sang perwira dengan mata ketakutan.
"Pagi harinya, saat kabut rawa tersingkap... kami melihat kengerian itu. Lembah itu sudah berubah wingit. Tidak ada sabetan pedang, tidak ada suara pertempuran. Ribuan prajuritmu tewas tergantung kaku di dahan-dahan pohon randu alas, bergoyang tertiup angin!"
Tenggorokan perwira itu naik-turun menelan ludah.
"Dan kau ... sosokmu tergantung di dahan beringin paling tinggi di tengah rawa! Pasukan kami ketakutan mengira lelembut pemakan jiwa telah mengutuk lembah itu. Jangankan memeriksa napasmu atau memastikan kau mati, mendekat satu langkah pun kami tidak berani! Kami lari tunggang-langgang meninggalkan lembah terkutuk itu! Bahkan Senopati Brajawuni pun lari."
Napas perwira itu memburu, menatap Sudamani dengan tatapan memohon.
"Senapati Brajawuni mengancam akan memenggal lidah siapa saja yang berani menceritakan kutukan itu. Dia mengarang cerita bahwa pasukannya telah mengepung dan menggantungmu di sana! Hanya itu yang kutahu, Senapati! Ampuni aku ... demi dewa, lepaskan aku! Bukan kami yang membunuhmu."
Sudamani membeku.
Pasukannya tidak kalah perang, tapi digantung. Mereka digantung massal di dahan-dahan pohon dalam kabut rawa—sebuah ritual tumbal pembantaian yang teramat rapi dan mengerikan.
Dan jika musuh saja lari ketakutan dan tidak berani menyentuh jasadnya, maka hanya ada satu pihak yang kembali ke lembah itu untuk menurunkan mayatnya dari pohon: Danurdara dan para dukun istana.
"Gusti Senopati ... tolong lepaskan aku …," rintih perwira itu memelas.
Krak!
Tanpa mengubah raut wajah, tangan kiri Sudamani bergerak memuntir leher pria itu hingga terdengar bunyi retakan tulang yang renyah.
Tubuh sang perwira terkulai lemas ke lantai kayu.
Suara dengung logam membelah kesunyian malam.
DONG! DONG! DONG!
Suara genta perunggu—bendhe tanda bahaya—bergema memekakkan telinga dari pelataran bawah tebing!
Keributan di atas teras rupanya telah memancing regu jaga cadangan yang bersarang di ceruk gua kapur bawah tebing.
"Penyusup di bale atas! Pukul bendhe!!" teriakan panik prajurit musuh bersahut-sahutan di bawah jurang.
Sudamani melangkah cepat ke bibir pagar gardu, menatap lurus ke dasar tebing.
"Siapkan jemparing Teluh Geni!" perintah Brajawuni lantang, suaranya membelah kesenyapan malam. "Bakar seluruh semak belukar dan tegalan di luar parit!"Di sepanjang dinding batu, puluhan prajurit pemanah Wangsa Merah bergegas bergerak. Mereka mencelupkan mata panah yang dibalut serat kelapa ke dalam bejana tembaga berisi lenga pati—minyak belerang hitam yang menyengat hidung.Ujung-ujung anak panah yang disulut ke obor seketika berkobar dengan lidah api kemerahan yang mendesis liar."Lepaskan!" seru Brajawuni seraya mengayunkan tangannya.Puluhan anak panah berapi melesung ke langit malam, membentuk busur cahaya melengkung sebelum menghunjam deras ke hamparan semak belukar dan pepohonan kerdil di seberang parit benteng.Wusss!Minyak Teluh Geni bereaksi ganas begitu menyentuh ranting dan daun kering. Dalam sekejap, semak tegalan di sepanjang seratus langkah di depan gerbang menjadi dinding api yang berkobar setinggi dada.Hawa panas menyengat langsung menerjang dinding benteng, dise
Prajurit jaga yang memapah buru-buru membungkuk hormat. “Ampun, Gusti Senapati. Prajurit ini dari celah jurang. Akalnya seperti dirasuk lelembut.”Brajawuni maju selangkah, ujung terompah kulitnya mendongakkan dagu prajurit yang masih gemetaran di lantai batu. “Angkat kepalamu! Mana iring-iringan tiga gerobak Teluh Geni?!”Prajurit itu mendongak dengan kepala gemetaran. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang belepotan tanah, matanya nanar tak terfokus.“Tu-tumpas, Gusti … medi jurang! Habis prajurit jaga.” Alis tebal Brajawuni bertaut murka, urat pelipisnya menegang. “Bicara yang betul! Pasukan mana yang berani membantai prajuritku?! “Bukan prajurit! Demi dewa, bukan jalma manungsa!” Prajurit itu kalap mencengkeram kain celana cinde Brajawuni, bersumpah sambil meneteskan air mata ngeri. “Sepertinya ini kutukan yang sama, Gusti! Medi yang dulu membantai pasukan Senopati Sudamani di rawa … medi itu datang memburu kita!”Napas prajurit itu memburu tersengal-sengal, kata-k
Sudamani menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.Padamkan semua api.Serempak prajurit mayat bergerak.Sesuai titah Sudamani, sasaran mereka bukan musuh—melainkan api.Satu per satu obor dimatikan. Kegelapan menelan celah tebing sempit itu.Kepanikan menghancurkan barisan pengawal Wangsa Merah.Dalam pekatnya malam tanpa cahaya, prajurit mayat merayap layaknya siluman. Suara deru napas musuh menjadi penuntun telinga mereka. Tangan-tangan kaku mencengkeram tenggorokan dari balik gelap, memuntir kepala.Pembantaian itu berlangsung cepat dan nyaris bisu. Hanya terdengar dengus panik kuda, bunyi tulang patah, dan tubuh-tubuh yang roboh ke tanah.Tiga gerobak besi bermuatan Teluh Geni berhasil diamankan tanpa ada satu percikan pun yang menyulut bejana belerang.Namun, di ujung belakang barisan, seorang penunggang kuda pengintai paling belakang berhasil melihat kilasan sebelum obor terakhir padam: wajah-wajah kelabu tanpa darah yang mencekik kawannya tanpa berkedip."Setan penunggu jurang .
Perlahan, Sudamani menolehkan lehernya sembari mencabut mata tombak yang menancap di bahu kirinya. Cahaya obor menerangi separuh wajah sang senopati. Prajurit itu membelalak ngeri.“S-senopati Sudamani. Ti-tidak mungkin. Kau sudah mati.”Matanya menatap ngeri ke lubang di bahu Sudamani. Tidak ada semburan darah merah segar. Hanya cairan kehitaman kental yang merembes pelan dengan bau anyir.Sebelum prajurit itu sempat membuka mulut untuk berteriak, tombak sudah melesat tepat ke mulut, memaku prajurit itu ke batang pohon di belakangnya.Pintu bilik papan terbuka kasar. Suara di luar akhirnya memancing dua perwira yang tadi asyik menenggak arak.Perwira pertama yang brewokan dan sempoyongan keluar paling depan, parang pendek terhunus di tangannya. Bau tuak murahan menguar tajam dari mulutnya."Keparat mana yang berani—"Sudamani tidak memberinya kesempatan menyelesaikan umpatan. Gerakannya cepat.Bugh!Ujung siku Sudamani menghantam ulu hati pria brewok itu, disusul telapak tangannya y
Ujung panah api itu menyala, menerangi seringai prajurit pos intai di atas tebing. Bibirnya bergumam entah apa.Sudamani menyambar cepat gandewa kayu jati dari punggung kudanya, menarik tali busur yang terbuat dari pilinan kawat tembaga hingga melengkung maksimal, lalu melepasnya.Trrrssst!Anak panah berkepala besi menghujam lurus ke atas. Kecepatannya melampaui kedipan mata.Mata panah itu menembus tepat di tenggorokan sang pemanah musuh—mengoyak pita suara sebelum sempat berteriak, memaku lehernya ke tiang gardu intai. Tubuh prajurit itu tersentak kejang, sementara panah api yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai papan.Sebelum musuh yang lain menyadari apa yang terjadi, Sudamani mendekatkan hulu Bilah Jagal ke dagunya. Pandangannya mengunci barisan paling depan di kaki tebing, mempersempit niat batinnya agar tidak memicu kepatuhan seluruh pasukan sekaligus di celah sempit.Barisan depan. Panjat. Patahkan leher anjing-anjing itu.Lima puluh prajurit Bala Suwung di bari
"Bilah Jagal," Danurdara menjelaskan dengan nada bangga. "Ditempa dari lelehan zirah kawan-kawanmu yang membusuk di lembah, direkatkan dengan darah mereka. Bilah ini bukan sekadar senjata, Sudamani. Ini tali kekang untuk menuntun mereka."Sang Patih melangkah cepat menuruni undakan batu yang mengarah langsung ke pelataran luar benteng. Sudamani mengikuti di belakang, merasakan getaran mustika hitam di hulu pedang itu terus berdenyut seirama dengan potongan jari di tangannya.Pintu gerbang besi pelataran terbuka. Hawa malam yang menusuk menyambut mereka.Di tanah lapang di bawah dinding batu, empat ribu prajurit Bala Suwung berdiri mematung dalam barisan rapat. empat ribu pasang mata putih menatap hampa ke arah kegelapan.Danurdara berhenti di bibir undakan, menatap Sudamani dari samping."Dekatkan mustika di hulunya ke bibirmu. Jangan berteriak. Mayat tidak mendengar lewat telinga fana. Bisikkan kehendakmu di dalam hati, alirkan lewat batu itu."Sudamani mengangkat pedang hitamnya. H







