Home / Fantasi / Pasukan Mayat / 6. Senopati Brajawuni

Share

6. Senopati Brajawuni

Author: Hayisa Aaroon
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-16 21:40:38

Sudamani menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.

Padamkan semua api.

Serempak prajurit mayat bergerak.

Sesuai titah Sudamani, sasaran mereka bukan musuh—melainkan api.

Satu per satu obor dimatikan. Kegelapan menelan celah tebing sempit itu.

Kepanikan menghancurkan barisan pengawal Wangsa Merah.

Dalam pekatnya malam tanpa cahaya, prajurit mayat merayap layaknya siluman. Suara deru napas musuh menjadi penuntun telinga mereka. 

Tangan-tangan kaku mencengkeram tenggorokan dari balik gelap, memuntir kepala.

Pembantaian itu berlangsung cepat dan nyaris bisu. Hanya terdengar dengus panik kuda, bunyi tulang patah, dan tubuh-tubuh yang roboh ke tanah.

Tiga gerobak besi bermuatan Teluh Geni berhasil diamankan tanpa ada satu percikan pun yang menyulut bejana belerang.

Namun, di ujung belakang barisan, seorang penunggang kuda pengintai paling belakang berhasil melihat kilasan sebelum obor terakhir padam: wajah-wajah kelabu tanpa darah yang mencekik kawannya tanpa berkedip.

"Setan penunggu jurang ...!" teriak penunggang kuda itu histeris.

Tanpa memikirkan gerobak atau kawannya, ia memutar paksa tali kekang kudanya, menghujamkan taji ke perut tunggangannya, dan melesat kabur ke arah utara sekuat tenaga. Sudamani dan pasukannya tidak menyadarinya, terlalu sibuk mematahkan leher-leher.

~~~

Keheningan kembali menelan celah sempit itu setelah gemeretak leher pengawal terakhir dipatahkan.

Sudamani melompat turun dari dinding tebing, menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.

Mereka masih memiliki waktu sebelum matahari terbit.

Seratus prajurit barisan belakang, bawa tiga gerobak besi dan tumpuk jasad pengawal ini ke pedati. Kirim kembali ke batas kuta.

Sesuai perintah Danurdara di bangsal istana, jasad-jasad musuh yang lehernya patah ini harus diserahkan utuh kepada para dukun keraton untuk dibangkitkan kembali sebagai tambahan prajurit.

Lalu, mata hitam pekat Sudamani beralih menatap jalan setapak yang mendaki ke arah utara—jalur langsung menuju Benteng Watu Ireng.

Mustika di hulunya kembali berdenyut.

“Sisanya... ikut aku. Bergerak senyap selagi malam masih memayungi.”

Tanpa derap langkah yang berisik, ribuan Bala Suwung melangkah beriringan layaknya bayangan hitam pekat, merayap cepat membelah kabut malam menuju benteng perbatasan musuh.

~~~

Benteng Watu Ireng — Gerbang Selatan

Malam masih mencengkeram benteng batu hitam perbatasan Wangsa Merah. Angin gunung berhembus dingin menusuk tulang, menggoyangkan deretan obor yang tertancap di sepanjang dinding benteng.

Derap kuku kuda yang dipacu membabi buta memecah kesunyian malam.

Seekor kuda perang jantan menerjang kabut, lalu terjerembap menghantam tanah tepat di depan pintu gerbang kayu berduri. 

Dari atas pelana, prajurit pengintai yang terlempar itu merangkak kalap, menggedor pintu kayu jati benteng.

"Buka! Cepat!" raungnya parau, suaranya tercekat ketakutan. “Ada memedi.”

Dari balik daun pintu gerbang kayu jati setebal satu jengkal, terdengar bunyi kayu bergeser. Sebuah tingkap intip kecil dibuka dari dalam.

Mata seorang prajurit jaga melongok curiga melalui celah jeruji besi.

"Siapa di luar?!" bentak sang penjaga dari balik tingkap. Obor di tangannya disorongkan ke celah.

Di bawah, dalam temaram cahaya obor, tampak seorang prajurit berseragam Wangsa Merah merangkak di tanah berdebu.

"Itu penjaga menara pantau" seru penjaga gerbang kepada kawannya.

Palang besi lawang seketeng—pintu kecil di sudut gerbang utama—segera diangkat. Empat prajurit berhamburan keluar dengan tombak terhunus, bersiap menghadapi kemungkinan musuh yang mengejar.

Namun di luar sana sepi, hanya ada kuda yang sekarat.

Prajurit yang tadi tidak mampu bangkit berdiri. Lututnya lemas, dan bibirnya terus meracau tanpa henti—mengucapkan kata-kata rancu yang tak berujung pangkal.

"Setan... mayat urip... apinya mati... habis semua.”

"Hei! Sadarlah! Ada apa denganmu?!" 

Dua prajurit jaga menyambar ketiaknya, memapah tubuhnya yang terkulai. Kakinya terseret di atas tanah, tak sanggup menopang berat badannya sendiri saat dibawa masuk melintasi pintu gerbang menuju bangsal jaga di pelataran dalam benteng.

Keributan di bangsal jaga itu seketika membesar. Prajurit yang sedang beristirahat berkerumun dengan dahi berkerut, menatap ngeri kawan mereka yang menggigil layaknya orang kesurupan lelembut.

"Ada apa ini?!"

Sebuah suara berat menggelegar dari arah undakan batu bangsal perwira.

Derap langkah kaki berat menuruni tangga. Kerumunan prajurit seketika terbelah dua, menundukkan kepala memberi jalan.

Senapati Brajawuni melangkah masuk ke bangsal jaga. Kain cinde merah darah tersampir di bahunya, dan sebilah pedang besar tergantung di pinggang. 

Brajawuni berhenti tepat di depan prajurit yang gemetaran.

"Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" 

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • Pasukan Mayat   8. Jemparing Teluh Geni

    "Siapkan jemparing Teluh Geni!" perintah Brajawuni lantang, suaranya membelah kesenyapan malam. "Bakar seluruh semak belukar dan tegalan di luar parit!"Di sepanjang dinding batu, puluhan prajurit pemanah Wangsa Merah bergegas bergerak. Mereka mencelupkan mata panah yang dibalut serat kelapa ke dalam bejana tembaga berisi lenga pati—minyak belerang hitam yang menyengat hidung.Ujung-ujung anak panah yang disulut ke obor seketika berkobar dengan lidah api kemerahan yang mendesis liar."Lepaskan!" seru Brajawuni seraya mengayunkan tangannya.Puluhan anak panah berapi melesung ke langit malam, membentuk busur cahaya melengkung sebelum menghunjam deras ke hamparan semak belukar dan pepohonan kerdil di seberang parit benteng.Wusss!Minyak Teluh Geni bereaksi ganas begitu menyentuh ranting dan daun kering. Dalam sekejap, semak tegalan di sepanjang seratus langkah di depan gerbang menjadi dinding api yang berkobar setinggi dada.Hawa panas menyengat langsung menerjang dinding benteng, dise

  • Pasukan Mayat   7. Takhayul

    Prajurit jaga yang memapah buru-buru membungkuk hormat. “Ampun, Gusti Senapati. Prajurit ini dari celah jurang. Akalnya seperti dirasuk lelembut.”Brajawuni maju selangkah, ujung terompah kulitnya mendongakkan dagu prajurit yang masih gemetaran di lantai batu. “Angkat kepalamu! Mana iring-iringan tiga gerobak Teluh Geni?!”Prajurit itu mendongak dengan kepala gemetaran. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang belepotan tanah, matanya nanar tak terfokus.“Tu-tumpas, Gusti … medi jurang! Habis prajurit jaga.” Alis tebal Brajawuni bertaut murka, urat pelipisnya menegang. “Bicara yang betul! Pasukan mana yang berani membantai prajuritku?! “Bukan prajurit! Demi dewa, bukan jalma manungsa!” Prajurit itu kalap mencengkeram kain celana cinde Brajawuni, bersumpah sambil meneteskan air mata ngeri. “Sepertinya ini kutukan yang sama, Gusti! Medi yang dulu membantai pasukan Senopati Sudamani di rawa … medi itu datang memburu kita!”Napas prajurit itu memburu tersengal-sengal, kata-k

  • Pasukan Mayat   6. Senopati Brajawuni

    Sudamani menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.Padamkan semua api.Serempak prajurit mayat bergerak.Sesuai titah Sudamani, sasaran mereka bukan musuh—melainkan api.Satu per satu obor dimatikan. Kegelapan menelan celah tebing sempit itu.Kepanikan menghancurkan barisan pengawal Wangsa Merah.Dalam pekatnya malam tanpa cahaya, prajurit mayat merayap layaknya siluman. Suara deru napas musuh menjadi penuntun telinga mereka. Tangan-tangan kaku mencengkeram tenggorokan dari balik gelap, memuntir kepala.Pembantaian itu berlangsung cepat dan nyaris bisu. Hanya terdengar dengus panik kuda, bunyi tulang patah, dan tubuh-tubuh yang roboh ke tanah.Tiga gerobak besi bermuatan Teluh Geni berhasil diamankan tanpa ada satu percikan pun yang menyulut bejana belerang.Namun, di ujung belakang barisan, seorang penunggang kuda pengintai paling belakang berhasil melihat kilasan sebelum obor terakhir padam: wajah-wajah kelabu tanpa darah yang mencekik kawannya tanpa berkedip."Setan penunggu jurang .

  • Pasukan Mayat   5. Suara Bendhe

    Perlahan, Sudamani menolehkan lehernya sembari mencabut mata tombak yang menancap di bahu kirinya. Cahaya obor menerangi separuh wajah sang senopati. Prajurit itu membelalak ngeri.“S-senopati Sudamani. Ti-tidak mungkin. Kau sudah mati.”Matanya menatap ngeri ke lubang di bahu Sudamani. Tidak ada semburan darah merah segar. Hanya cairan kehitaman kental yang merembes pelan dengan bau anyir.Sebelum prajurit itu sempat membuka mulut untuk berteriak, tombak sudah melesat tepat ke mulut, memaku prajurit itu ke batang pohon di belakangnya.Pintu bilik papan terbuka kasar. Suara di luar akhirnya memancing dua perwira yang tadi asyik menenggak arak.Perwira pertama yang brewokan dan sempoyongan keluar paling depan, parang pendek terhunus di tangannya. Bau tuak murahan menguar tajam dari mulutnya."Keparat mana yang berani—"Sudamani tidak memberinya kesempatan menyelesaikan umpatan. Gerakannya cepat.Bugh!Ujung siku Sudamani menghantam ulu hati pria brewok itu, disusul telapak tangannya y

  • Pasukan Mayat   4. Membongkar Kuburan

    Ujung panah api itu menyala, menerangi seringai prajurit pos intai di atas tebing. Bibirnya bergumam entah apa.Sudamani menyambar cepat gandewa kayu jati dari punggung kudanya, menarik tali busur yang terbuat dari pilinan kawat tembaga hingga melengkung maksimal, lalu melepasnya.Trrrssst!Anak panah berkepala besi menghujam lurus ke atas. Kecepatannya melampaui kedipan mata.Mata panah itu menembus tepat di tenggorokan sang pemanah musuh—mengoyak pita suara sebelum sempat berteriak, memaku lehernya ke tiang gardu intai. Tubuh prajurit itu tersentak kejang, sementara panah api yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai papan.Sebelum musuh yang lain menyadari apa yang terjadi, Sudamani mendekatkan hulu Bilah Jagal ke dagunya. Pandangannya mengunci barisan paling depan di kaki tebing, mempersempit niat batinnya agar tidak memicu kepatuhan seluruh pasukan sekaligus di celah sempit.Barisan depan. Panjat. Patahkan leher anjing-anjing itu.Lima puluh prajurit Bala Suwung di bari

  • Pasukan Mayat   3. Mustika Wulung

    "Bilah Jagal," Danurdara menjelaskan dengan nada bangga. "Ditempa dari lelehan zirah kawan-kawanmu yang membusuk di lembah, direkatkan dengan darah mereka. Bilah ini bukan sekadar senjata, Sudamani. Ini tali kekang untuk menuntun mereka."Sang Patih melangkah cepat menuruni undakan batu yang mengarah langsung ke pelataran luar benteng. Sudamani mengikuti di belakang, merasakan getaran mustika hitam di hulu pedang itu terus berdenyut seirama dengan potongan jari di tangannya.Pintu gerbang besi pelataran terbuka. Hawa malam yang menusuk menyambut mereka.Di tanah lapang di bawah dinding batu, empat ribu prajurit Bala Suwung berdiri mematung dalam barisan rapat. empat ribu pasang mata putih menatap hampa ke arah kegelapan.Danurdara berhenti di bibir undakan, menatap Sudamani dari samping."Dekatkan mustika di hulunya ke bibirmu. Jangan berteriak. Mayat tidak mendengar lewat telinga fana. Bisikkan kehendakmu di dalam hati, alirkan lewat batu itu."Sudamani mengangkat pedang hitamnya. H

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status