Masuk
Hal pertama yang Sudamani sadari begitu membuka mata adalah keheningan.
Bukan keheningan ruang yang sepi, melainkan keheningan di dalam rongga tubuhnya sendiri.
Tidak ada debar jantung.
Ia menunggu. Dada bidangnya tetap diam. Napas pun tidak ada. Paru-parunya tidak lagi menuntut udara.
Aku mati?
Penciumannya mulai menangkap aroma khas lempeng batu lembap, anyir darah mengering, dan sisa wangi dupa.
Sudamani mengangkat kedua tangannya dalam pekatnya kegelapan. Ujung jemarinya menyentuh permukaan batu kasar yang dingin.
Peti batu. Derit kasar memecah sunyi saat lempengan penutup batu andesit di atasnya digeser perlahan.
Cahaya kemerahan dari obor menusuk matanya. Sudamani menegakkan punggung, bangkit dan duduk.
“Selamat datang kembali, Senopati.”
Sudamani mengenali suara itu. Patih Danurdara.
Pria paruh baya itu mendekat, tubuhnya dibalut kain bebet sutra gelap membalut pinggangnya, dipadu badong kulit tebal bersepuh kuningan di dada dan kelat bahu emas di kedua lengan atasnya.
Rambutnya yang mulai memutih disanggul rapi di bawah gelung ksatria.
“Kau nyaris mati dalam perang terakhir,” lanjut Danurdara. “Tapi kami menahanmu di ambang kematian.”
Sudamani membuka mulut. Suara yang lolos dari tenggorokannya terdengar parau. “Prajuritku?”
“Habis. Empat ribu nyawa. Semua karena kedunguanmu, Senopati. Kau mengabaikan perintah mundur yang kukirimkan lewat telik sandi berkuda.”
Kening Sudamani berkerut dalam. “Aku tidak mengingatnya.”
“Tentu saja tidak. Kau mati. Kepalamu rusak, begitu pula ingatanmu.”
Danurdara bangkit berdiri.
Sudamani menunduk, menatap kedua tangannya sendiri. Kulitnya pucat, dingin.
Pada pergelangan tangan kirinya, luka cukup dalam, telah dijahit rapat menggunakan benang hitam kasar yang berpendar redup dan janggal di bawah cahaya pelita.
“Lalu mengapa aku dibangkitkan? Untuk apa aku di sini?”
“Karena kerajaan di ambang kehancuran. Tiga perempat kekuatan perang kita musnah. Sepuluh kadipaten tunduk pada musuh. Dua puluh kuta luluh lantak dibakar.”
Danurdara melangkah mendekat, menatap Sudamani layaknya seorang saudagar memeriksa budak tangkapan.
“Maka Gusti Prabu merestui aji terlarang yang dulu dikutuk leluhur. Kami membangkitkan bangkai prajurit untuk berperang menggantikan yang bernyawa.” Danurdara tersenyum licik. “Ternyata mayat tidak menuntut upah, Senopati. Mereka tidak mengenal gentar, tidak mengeluh, dan pantang lari. Pasukan perang yang sempurna.”
“Dan aku?”
“Kau istimewa, Senopati. Bangkai lain ditarik dari kematian mutlak. Jiwa mereka kosong, hanya menuruti perintah sederhana. Kau berbeda. Tubuhmu belum sepenuhnya mati saat para dukun melakukan ritual. Akalmu selamat. Dan sepasukan bangkai butuh panglima yang bisa memerintah mereka. Karena mereka bangkai, hanya yang menyimpan separuh nyawa yang bisa memerintah mereka.”
Sudamani melangkah keluar dari peti batu. Tubuhnya tinggi tegap, berdiri menjulang melampaui sang Patih.
Danurdara refleks mundur selangkah—entah karena bau ramuan anyir yang menguar dari tubuh Sudamani, atau karena nalurinya yang mendadak waspada.
“Lihat tangan kananmu, Senopati.”
Sudamani mengangkat tangan kanannya. Baru saat itulah ia menyadari kejanggalan mengerikan pada jemarinya: separuh telunjuk kanannya telah putus.
Di tempat bekas potongan itu, tersambung potongan jari telunjuk lain yang keriput.
“Setiap ilmu hitam menuntut tebusan,” ucap Danurdara seraya menanggalkan sarung kulit di tangan kirinya perlahan.
Di tangan kiri sang Patih, tersambung potongan jari telunjuk milik Sudamani—pucat, dijahit dengan benang hitam yang sama, dengan rajah kuno melingkar di kuku dan kulitnya, berpendar keunguan.
“Sisa nyawamu kukunci di telunjukmu yang kini tertanam di tanganku. Telunjuk kananmu kutukar dengan telunjukku sebagai jembatan. Selama jari ini menempel di tanganku, kau tidak akan pernah bisa membangkang. Akan kubuktikan.”
Danurdara menggerakkan jari telunjuk kirinya ke bawah. Seketika itu juga, lutut Sudamani menghantam lantai batu.
Tubuhnya terkunci, terpaksa berlutut tanpa kuasa melawan kehendak gaib yang menjerat urat-uratnya. Rasanya bukan nyeri tajam, melainkan tarikan tali kekang yang mencekik tengkuk.
Danurdara mengenakan kembali sarung tangannya dengan tenang.
“Bagus. Sekarang kau paham posisimu.” Danurdara berbalik menuju pintu di ujung bilik. “Bangkit dan ikuti aku. Ada yang harus kau lihat.”
Jeratan gaib itu mengendur. Sudamani bertumpu pada satu lutut, menegakkan tubuhnya.
Saat ia berdiri, matanya tertumbuk pada guratan parut yang janggal di kulit lengan kirinya.
Itu bukan bekas tebasan pedang musuh. Guratan itu membentuk deretan aksara rahasia—ditoreh dalam-dalam ke dagingnya menggunakan ujung belati.
Sudamani mengenali pola itu seketika. Itu sandi sandaran yang ia ciptakan sendiri semasa masih hidup.
Jika kau membaca ini, kau telah hidup kembali. Dan ingatanmu telah dirampas.
Jangan percaya Danurdara. Bukan musuh yang membantaimu di lembah, melainkan pasukannya.
Jemari dingin Sudamani menegang di atas parut kulitnya. Baris berikutnya terbaca semakin jelas:
Seluruh bukti dan siasat perang telah kusimpan sebelum kita berangkat. Terpahat di rongga pohon jati tumbang di tepi Bengawan Warno—tepat di tanah tempat kita menguburkan jasad Rudha. Cari.
Sudamani terpaku menatap lengannya.
Dia mengingat Bengawan Warno. Tapi tidak mengingat pohon jati yang tumbang. Ia bahkan tidak tahu siapa itu Rudha, atau mengapa jasadnya dikubur di tepi sungai. Namun tangan yang menggores daging ini adalah tangannya sendiri.
Aku menulis peringatan ini untuk diriku sendiri. Sebelum mereka memulai ritual, aku sudah tahu pengkhianatan ini akan terjadi.
“Senopati?”
Panggilan Danurdara dari arah ambang pintu. Pria itu menoleh dengan tatapan menyelidik.
“Kau sedang apa?!”
"Siapkan jemparing Teluh Geni!" perintah Brajawuni lantang, suaranya membelah kesenyapan malam. "Bakar seluruh semak belukar dan tegalan di luar parit!"Di sepanjang dinding batu, puluhan prajurit pemanah Wangsa Merah bergegas bergerak. Mereka mencelupkan mata panah yang dibalut serat kelapa ke dalam bejana tembaga berisi lenga pati—minyak belerang hitam yang menyengat hidung.Ujung-ujung anak panah yang disulut ke obor seketika berkobar dengan lidah api kemerahan yang mendesis liar."Lepaskan!" seru Brajawuni seraya mengayunkan tangannya.Puluhan anak panah berapi melesung ke langit malam, membentuk busur cahaya melengkung sebelum menghunjam deras ke hamparan semak belukar dan pepohonan kerdil di seberang parit benteng.Wusss!Minyak Teluh Geni bereaksi ganas begitu menyentuh ranting dan daun kering. Dalam sekejap, semak tegalan di sepanjang seratus langkah di depan gerbang menjadi dinding api yang berkobar setinggi dada.Hawa panas menyengat langsung menerjang dinding benteng, dise
Prajurit jaga yang memapah buru-buru membungkuk hormat. “Ampun, Gusti Senapati. Prajurit ini dari celah jurang. Akalnya seperti dirasuk lelembut.”Brajawuni maju selangkah, ujung terompah kulitnya mendongakkan dagu prajurit yang masih gemetaran di lantai batu. “Angkat kepalamu! Mana iring-iringan tiga gerobak Teluh Geni?!”Prajurit itu mendongak dengan kepala gemetaran. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang belepotan tanah, matanya nanar tak terfokus.“Tu-tumpas, Gusti … medi jurang! Habis prajurit jaga.” Alis tebal Brajawuni bertaut murka, urat pelipisnya menegang. “Bicara yang betul! Pasukan mana yang berani membantai prajuritku?! “Bukan prajurit! Demi dewa, bukan jalma manungsa!” Prajurit itu kalap mencengkeram kain celana cinde Brajawuni, bersumpah sambil meneteskan air mata ngeri. “Sepertinya ini kutukan yang sama, Gusti! Medi yang dulu membantai pasukan Senopati Sudamani di rawa … medi itu datang memburu kita!”Napas prajurit itu memburu tersengal-sengal, kata-k
Sudamani menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.Padamkan semua api.Serempak prajurit mayat bergerak.Sesuai titah Sudamani, sasaran mereka bukan musuh—melainkan api.Satu per satu obor dimatikan. Kegelapan menelan celah tebing sempit itu.Kepanikan menghancurkan barisan pengawal Wangsa Merah.Dalam pekatnya malam tanpa cahaya, prajurit mayat merayap layaknya siluman. Suara deru napas musuh menjadi penuntun telinga mereka. Tangan-tangan kaku mencengkeram tenggorokan dari balik gelap, memuntir kepala.Pembantaian itu berlangsung cepat dan nyaris bisu. Hanya terdengar dengus panik kuda, bunyi tulang patah, dan tubuh-tubuh yang roboh ke tanah.Tiga gerobak besi bermuatan Teluh Geni berhasil diamankan tanpa ada satu percikan pun yang menyulut bejana belerang.Namun, di ujung belakang barisan, seorang penunggang kuda pengintai paling belakang berhasil melihat kilasan sebelum obor terakhir padam: wajah-wajah kelabu tanpa darah yang mencekik kawannya tanpa berkedip."Setan penunggu jurang .
Perlahan, Sudamani menolehkan lehernya sembari mencabut mata tombak yang menancap di bahu kirinya. Cahaya obor menerangi separuh wajah sang senopati. Prajurit itu membelalak ngeri.“S-senopati Sudamani. Ti-tidak mungkin. Kau sudah mati.”Matanya menatap ngeri ke lubang di bahu Sudamani. Tidak ada semburan darah merah segar. Hanya cairan kehitaman kental yang merembes pelan dengan bau anyir.Sebelum prajurit itu sempat membuka mulut untuk berteriak, tombak sudah melesat tepat ke mulut, memaku prajurit itu ke batang pohon di belakangnya.Pintu bilik papan terbuka kasar. Suara di luar akhirnya memancing dua perwira yang tadi asyik menenggak arak.Perwira pertama yang brewokan dan sempoyongan keluar paling depan, parang pendek terhunus di tangannya. Bau tuak murahan menguar tajam dari mulutnya."Keparat mana yang berani—"Sudamani tidak memberinya kesempatan menyelesaikan umpatan. Gerakannya cepat.Bugh!Ujung siku Sudamani menghantam ulu hati pria brewok itu, disusul telapak tangannya y
Ujung panah api itu menyala, menerangi seringai prajurit pos intai di atas tebing. Bibirnya bergumam entah apa.Sudamani menyambar cepat gandewa kayu jati dari punggung kudanya, menarik tali busur yang terbuat dari pilinan kawat tembaga hingga melengkung maksimal, lalu melepasnya.Trrrssst!Anak panah berkepala besi menghujam lurus ke atas. Kecepatannya melampaui kedipan mata.Mata panah itu menembus tepat di tenggorokan sang pemanah musuh—mengoyak pita suara sebelum sempat berteriak, memaku lehernya ke tiang gardu intai. Tubuh prajurit itu tersentak kejang, sementara panah api yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai papan.Sebelum musuh yang lain menyadari apa yang terjadi, Sudamani mendekatkan hulu Bilah Jagal ke dagunya. Pandangannya mengunci barisan paling depan di kaki tebing, mempersempit niat batinnya agar tidak memicu kepatuhan seluruh pasukan sekaligus di celah sempit.Barisan depan. Panjat. Patahkan leher anjing-anjing itu.Lima puluh prajurit Bala Suwung di bari
"Bilah Jagal," Danurdara menjelaskan dengan nada bangga. "Ditempa dari lelehan zirah kawan-kawanmu yang membusuk di lembah, direkatkan dengan darah mereka. Bilah ini bukan sekadar senjata, Sudamani. Ini tali kekang untuk menuntun mereka."Sang Patih melangkah cepat menuruni undakan batu yang mengarah langsung ke pelataran luar benteng. Sudamani mengikuti di belakang, merasakan getaran mustika hitam di hulu pedang itu terus berdenyut seirama dengan potongan jari di tangannya.Pintu gerbang besi pelataran terbuka. Hawa malam yang menusuk menyambut mereka.Di tanah lapang di bawah dinding batu, empat ribu prajurit Bala Suwung berdiri mematung dalam barisan rapat. empat ribu pasang mata putih menatap hampa ke arah kegelapan.Danurdara berhenti di bibir undakan, menatap Sudamani dari samping."Dekatkan mustika di hulunya ke bibirmu. Jangan berteriak. Mayat tidak mendengar lewat telinga fana. Bisikkan kehendakmu di dalam hati, alirkan lewat batu itu."Sudamani mengangkat pedang hitamnya. H







