Compartilhar

7. Takhayul

last update Data de publicação: 2026-09-17 12:23:53

Prajurit jaga yang memapah buru-buru membungkuk hormat. “Ampun, Gusti Senapati. Prajurit ini dari celah jurang. Akalnya seperti dirasuk lelembut.”

Brajawuni maju selangkah, ujung terompah kulitnya mendongakkan dagu prajurit yang masih gemetaran di lantai batu. 

“Angkat kepalamu! Mana iring-iringan tiga gerobak Teluh Geni?!”

Prajurit itu mendongak dengan kepala gemetaran. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang belepotan tanah, matanya nanar tak terfokus.

“Tu-tumpas, Gusti … medi jurang! Habis prajurit jaga.” 

Alis tebal Brajawuni bertaut murka, urat pelipisnya menegang. 

“Bicara yang betul! Pasukan mana yang berani membantai prajuritku?! 

“Bukan prajurit! Demi dewa, bukan jalma manungsa!” Prajurit itu kalap mencengkeram kain celana cinde Brajawuni, bersumpah sambil meneteskan air mata ngeri. “Sepertinya ini kutukan yang sama, Gusti! Medi yang dulu membantai pasukan Senopati Sudamani di rawa … medi itu datang memburu kita!”

Napas prajurit itu memburu tersengal-sengal, kata-katanya menyembur putus-putus.

“Sebelum sergapan itu datang, anjing-anjing menggonggong gusar persis seperti malam sebelum kita menemukan ribuan prajurit tergantung di dahan beringin Lembah Rawa! Lalu … lalu angin pati. Tercium bau anyir busuk, berbaur pekat dengan aroma dupa!”

Prajurit itu menggigil semakin hebat hingga giginya bergemeletuk.

“Saat obor terakhir masih menyala … hamba melihatnya sendiri dengan kedua mata! Mereka bukan orang hidup! Kulit mereka kelabu kebiruan, bengkak dan keriput seperti bangkai yang sudah berhari-hari. Mereka tidak berdarah saat tertikam!”

Brajawuni mematung. Ingatan beberapa bulan lalu membayang: kabut tebal di Lembah Rawa, keheningan yang menyesakkan, dan pemandangan ribuan sosok yang berayun kaku di dahan-dahan pohon tanpa bekas tusukan senjata. 

Kejadian itu sengaja dia tutupi demi bualan kemenangan perang. Namun sekarang, mendengar pengakuan yang persis sama dari prajurit di hadapannya, tengkuk sang senopati mendadak meremang dingin.

Guk! Guk! Guk!

Auuuuuunggg…!

Suara gonggongan serak memecah malam, disusul lengkingan lolongan panjang yang bersahut-sahutan dari sudut barat pelataran dalam benteng.

Prajurit yang ketakutan di lantai langsung memekik histeris, menyusupkan wajahnya ke sela kaki prajurit jaga. 

“Itu! Suara itu! Anjing-anjing itu gelisah. Persis sebelum kejadian tadi. Mereka mencium baunya! Mereka sudah dekat!”

Brajawuni menegang. Tanpa sepatah kata, ia melangkah cepat keluar dari bangsal jaga menuju deretan kandang kayu—tempat puluhan asu ajag dikerangkeng.

Pemandangan di depan kandang membuat langkah para perwira di belakang Brajawuni terhenti kaku.

“Tenangkan anjing-anjing itu!” teriak Brajawuni pada prajurit pengurus anjing.

Bisik-bisik panik mulai menjalar di antara puluhan prajurit yang berkerumun. Wajah-wajah mereka yang semula garang berubah pias. 

Cerita tentang kutukan pulung gantung di Lembah Rawa bukan rahasia bagi prajurit perbatasan yang turut menyaksikan.

“Pegang senjata kalian!” bentak Brajawuni lantang, suaranya menggelegar berusaha memecah kengerian yang menurunkan ketangguhan anak buahnya.

Brajawuni mencabut pedang besarnya, bilah baja berlambang garuda itu berkilat tertimpa cahaya obor.

“Jangan ada yang termakan racun takhayul anjing pengecut ini! Benteng Watu Ireng dipagari rajah penangkal bala para wiku istana! Tanah ini sudah diruwat dengan mantra penunduk siluman! Naik ke dinding benteng, siapkan panah minyak! Siapa pun yang melangkah mundur, kepalanya kupenggal dengan tanganku sendiri!”

Para prajurit mengangkat tombak dan busur dengan jemari yang gemetar. Tiang-tiang rajah di sudut benteng terasa tak berarti apa-apa saat bau dupa kuburan itu perlahan mulai tercium, mengikis habis sisa keberanian mereka.

Sambil membiarkan para prajurit bergegas naik ke dinding batu, Brajawuni menepi ke sudut pelataran.

Ia memberi isyarat kepada perwira kepercayaannya untuk mendekat.

"Gusti ... bagaimana jika igauan prajurit tadi bukan bualan belaka?"

"Kau juga mau ikut gila?" geram Brajawuni, matanya menyalang tajam.

"Bukan begitu, Gusti." Sang perwira memilih kata-katanya dengan hati-hati, berusaha meredam murka junjungannya. "Kita semua tahu siapa Sudamani semasa hidupnya. Bertahun-tahun panji-panji Wangsa Merah tertahan di luar tapal batas hanya karena pria itu. Hastungkara mustahil kita tembus bukan karena dinding kotanya yang tebal, melainkan karena kelihaian Sudamani menyusun jebakan. Dia terlalu licin, terlalu liat untuk ditundukkan di medan terbuka."

Perwira itu menelan ludah, tatapannya menerawang ke arah kegelapan hutan di luar benteng.

"Lalu tiba-tiba ... orang sekuat itu tewas tergantung di Lembah Rawa tanpa ada pertempuran barisan. Kematiannya sejak awal sudah teramat ganjil. Jika—"

"Tutup mulutmu!" potong Brajawuni seraya mencengkeram bahu perwiranya. 

Rahangnya mengeras. "Sudamani itu manusia berdaging, bukan titisan dewa! Jangan biarkan cerita klenik merusak akal sehatmu! Mungkin saja ini hanya taktik licik dari lawan untuk membuat kita kocar-kacir!"

Dengan dengus marah, Brajawuni membalikkan badan.

Dia menolak membiarkan keraguan merayapi dadanya. Brajawuni melangkah cepat meninggalkan perwiranya, menaiki undakan batu cadas yang membelah dinding benteng menuju panggung intai tertinggi di atas gerbang utama. 

Ia ingin membuktikan sendiri dengan kedua matanya bahwa di luar sana hanyalah hutan belantara yang kosong.

Namun, begitu terompah kulitnya menjejak lantai kayu panggung intai, langkah sang Senopati perlahan melambat.

Ada yang salah.

Keheningan yang membentang di luar parit benteng terasa ganjil—terlampau sunyi, hingga deru napasnya sendiri terdengar begitu keras.

Suara jangkrik dan gangsir yang biasanya riuh memekakkan telinga di semak belukar lenyap tanpa sisa. 

Dengung serangga malam, hingga pekik burung hantu yang biasa berburu di pucuk-pucuk pohon randu alas lenyap entah bagaimana.

Binatang-binatang malam itu seakan telah lari terbirit-birit menjauh dari lembah.

Satu-satunya suara yang merusak kesenyapan itu hanyalah puluhan asu ajag di kandang pelataran bawah yang tak mau diam.

Brajawuni menumpangkan kedua tangannya di atas pembatas kayu panggung intai. Matanya menyipit, mengamati garis hitam pepohonan di batas jangkauan cahaya obor.

Napas sang Senopati tertahan di dada. Di balik kegelapan yang membisu itu, bulu kuduknya meremang—bukan karena angin, melainkan karena naluri perangnya membisikkan bahwa di dalam pekatnya malam, ada bahaya besar yang sedang mengintai.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Pasukan Mayat   8. Jemparing Teluh Geni

    "Siapkan jemparing Teluh Geni!" perintah Brajawuni lantang, suaranya membelah kesenyapan malam. "Bakar seluruh semak belukar dan tegalan di luar parit!"Di sepanjang dinding batu, puluhan prajurit pemanah Wangsa Merah bergegas bergerak. Mereka mencelupkan mata panah yang dibalut serat kelapa ke dalam bejana tembaga berisi lenga pati—minyak belerang hitam yang menyengat hidung.Ujung-ujung anak panah yang disulut ke obor seketika berkobar dengan lidah api kemerahan yang mendesis liar."Lepaskan!" seru Brajawuni seraya mengayunkan tangannya.Puluhan anak panah berapi melesung ke langit malam, membentuk busur cahaya melengkung sebelum menghunjam deras ke hamparan semak belukar dan pepohonan kerdil di seberang parit benteng.Wusss!Minyak Teluh Geni bereaksi ganas begitu menyentuh ranting dan daun kering. Dalam sekejap, semak tegalan di sepanjang seratus langkah di depan gerbang menjadi dinding api yang berkobar setinggi dada.Hawa panas menyengat langsung menerjang dinding benteng, dise

  • Pasukan Mayat   7. Takhayul

    Prajurit jaga yang memapah buru-buru membungkuk hormat. “Ampun, Gusti Senapati. Prajurit ini dari celah jurang. Akalnya seperti dirasuk lelembut.”Brajawuni maju selangkah, ujung terompah kulitnya mendongakkan dagu prajurit yang masih gemetaran di lantai batu. “Angkat kepalamu! Mana iring-iringan tiga gerobak Teluh Geni?!”Prajurit itu mendongak dengan kepala gemetaran. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang belepotan tanah, matanya nanar tak terfokus.“Tu-tumpas, Gusti … medi jurang! Habis prajurit jaga.” Alis tebal Brajawuni bertaut murka, urat pelipisnya menegang. “Bicara yang betul! Pasukan mana yang berani membantai prajuritku?! “Bukan prajurit! Demi dewa, bukan jalma manungsa!” Prajurit itu kalap mencengkeram kain celana cinde Brajawuni, bersumpah sambil meneteskan air mata ngeri. “Sepertinya ini kutukan yang sama, Gusti! Medi yang dulu membantai pasukan Senopati Sudamani di rawa … medi itu datang memburu kita!”Napas prajurit itu memburu tersengal-sengal, kata-k

  • Pasukan Mayat   6. Senopati Brajawuni

    Sudamani menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.Padamkan semua api.Serempak prajurit mayat bergerak.Sesuai titah Sudamani, sasaran mereka bukan musuh—melainkan api.Satu per satu obor dimatikan. Kegelapan menelan celah tebing sempit itu.Kepanikan menghancurkan barisan pengawal Wangsa Merah.Dalam pekatnya malam tanpa cahaya, prajurit mayat merayap layaknya siluman. Suara deru napas musuh menjadi penuntun telinga mereka. Tangan-tangan kaku mencengkeram tenggorokan dari balik gelap, memuntir kepala.Pembantaian itu berlangsung cepat dan nyaris bisu. Hanya terdengar dengus panik kuda, bunyi tulang patah, dan tubuh-tubuh yang roboh ke tanah.Tiga gerobak besi bermuatan Teluh Geni berhasil diamankan tanpa ada satu percikan pun yang menyulut bejana belerang.Namun, di ujung belakang barisan, seorang penunggang kuda pengintai paling belakang berhasil melihat kilasan sebelum obor terakhir padam: wajah-wajah kelabu tanpa darah yang mencekik kawannya tanpa berkedip."Setan penunggu jurang .

  • Pasukan Mayat   5. Suara Bendhe

    Perlahan, Sudamani menolehkan lehernya sembari mencabut mata tombak yang menancap di bahu kirinya. Cahaya obor menerangi separuh wajah sang senopati. Prajurit itu membelalak ngeri.“S-senopati Sudamani. Ti-tidak mungkin. Kau sudah mati.”Matanya menatap ngeri ke lubang di bahu Sudamani. Tidak ada semburan darah merah segar. Hanya cairan kehitaman kental yang merembes pelan dengan bau anyir.Sebelum prajurit itu sempat membuka mulut untuk berteriak, tombak sudah melesat tepat ke mulut, memaku prajurit itu ke batang pohon di belakangnya.Pintu bilik papan terbuka kasar. Suara di luar akhirnya memancing dua perwira yang tadi asyik menenggak arak.Perwira pertama yang brewokan dan sempoyongan keluar paling depan, parang pendek terhunus di tangannya. Bau tuak murahan menguar tajam dari mulutnya."Keparat mana yang berani—"Sudamani tidak memberinya kesempatan menyelesaikan umpatan. Gerakannya cepat.Bugh!Ujung siku Sudamani menghantam ulu hati pria brewok itu, disusul telapak tangannya y

  • Pasukan Mayat   4. Membongkar Kuburan

    Ujung panah api itu menyala, menerangi seringai prajurit pos intai di atas tebing. Bibirnya bergumam entah apa.Sudamani menyambar cepat gandewa kayu jati dari punggung kudanya, menarik tali busur yang terbuat dari pilinan kawat tembaga hingga melengkung maksimal, lalu melepasnya.Trrrssst!Anak panah berkepala besi menghujam lurus ke atas. Kecepatannya melampaui kedipan mata.Mata panah itu menembus tepat di tenggorokan sang pemanah musuh—mengoyak pita suara sebelum sempat berteriak, memaku lehernya ke tiang gardu intai. Tubuh prajurit itu tersentak kejang, sementara panah api yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai papan.Sebelum musuh yang lain menyadari apa yang terjadi, Sudamani mendekatkan hulu Bilah Jagal ke dagunya. Pandangannya mengunci barisan paling depan di kaki tebing, mempersempit niat batinnya agar tidak memicu kepatuhan seluruh pasukan sekaligus di celah sempit.Barisan depan. Panjat. Patahkan leher anjing-anjing itu.Lima puluh prajurit Bala Suwung di bari

  • Pasukan Mayat   3. Mustika Wulung

    "Bilah Jagal," Danurdara menjelaskan dengan nada bangga. "Ditempa dari lelehan zirah kawan-kawanmu yang membusuk di lembah, direkatkan dengan darah mereka. Bilah ini bukan sekadar senjata, Sudamani. Ini tali kekang untuk menuntun mereka."Sang Patih melangkah cepat menuruni undakan batu yang mengarah langsung ke pelataran luar benteng. Sudamani mengikuti di belakang, merasakan getaran mustika hitam di hulu pedang itu terus berdenyut seirama dengan potongan jari di tangannya.Pintu gerbang besi pelataran terbuka. Hawa malam yang menusuk menyambut mereka.Di tanah lapang di bawah dinding batu, empat ribu prajurit Bala Suwung berdiri mematung dalam barisan rapat. empat ribu pasang mata putih menatap hampa ke arah kegelapan.Danurdara berhenti di bibir undakan, menatap Sudamani dari samping."Dekatkan mustika di hulunya ke bibirmu. Jangan berteriak. Mayat tidak mendengar lewat telinga fana. Bisikkan kehendakmu di dalam hati, alirkan lewat batu itu."Sudamani mengangkat pedang hitamnya. H

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status