FAZER LOGINSudamani tidak menarik tangannya dengan tergesa. Gerakan panik hanya akan memancing kecurigaan.
Ia membiarkan lengan kirinya tergantung kaku, lalu mengusap parut luka itu perlahan dengan telapak tangan kanan.
"Bekas tebasan," suaranya tetap datar. "Dukunmu menjahitnya terlalu kasar."
Mata Danurdara menyipit, mengamati lengan itu sesaat sebelum mendengkus remeh.
"Bangkai tidak membutuhkan kulit mulus, Senopati. Selama tanganmu masih bisa memenggal kepala musuh, jahitannya tidak penting. Cepat! Gusti Prabu sudah menunggumu."
Danurdara berbalik, melangkah keluar.
Sudamani mengikuti sang Patih, menaiki undakan batu menuju lantai atas. Bangsal agung sunyi.
Tidak ada deretan abdi, prajurit pengawal, atau pejabat istana berbusana mewah seperti yang samar-samar diingat Sudamani.
Hanya ada pelita-pelita temaram yang apinya bergoyang tertiup angin malam, serta selembar peta wilayah dari kulit samak yang terbentang di atas meja kayu jati panjang.
Di ujung meja, seorang pria tua duduk membungkuk di atas dampar kencana. Tubuhnya kurus, tenggelam di balik jubah kain cinde yang terlalu longgar.
Raja tua itu mengangkat wajahnya perlahan ketika langkah Danurdara dan Sudamani bergema di lantai batu.
Matanya yang cekung melebar saat menatap Sudamani.
“Gusti Prabu,” Danurdara membungkuk singkat—penghormatan dari seorang pejabat yang tahu dialah pemegang kuasa sesungguhnya. “Hamba membawa senapati kebanggaan Paduka. Kembali dari liang kubur, siap memimpin perang.”
Sang Prabu menegakkan punggung, hendak membuka mulut, tapi Danurdara sudah menaburkan segenggam pasak kayu berlumur cat merah ke atas peta kulit samak. Pasak-pasak itu berserakan, menguasai wilayah utara.
"Lima ribu prajurit Wangsa Merah sedang bergerak menuju perbatasan," Danurdara menunjuk titik-titik merah itu. "Sementara kita—setelah empat ribu nyawa prajurit melayang, dan tiga perempat musnah—hanya menyisakan kurang dari lima ribu prajurit hidup. Prajurit berbaju zirah dan barisan telik sandi mereka telah menguasai seluruh jalur bekal. Lumbung kita di timur dibakar, simpanan di lumbung istana hanya tersisa untuk sepuluh hari. Rakyat di luar tembok kota sekarat kelaparan."
Danurdara menatap Sudamani tajam.
"Mereka belum menyerbu ibu kota karena menunggu bala bantuan dari timur, selatan, dan utara. Lima ribu lagi akan tiba dalam tiga hari. Mereka mengepung perlahan, membiarkan kita kelaparan sebelum menghantam. Setelah bala bantuan tiba, tidak ada yang bisa menghentikan mereka."
Danurdara mengambil sebuah pasak kayu hitam berukir benteng, lalu menghunjamkannya tepat di garis kelokan sungai perbatasan.
"Sasaran pertamamu adalah Benteng Watu Ireng. Di tepi Bengawan Warno."
Sudamani terpaku.
Bengawan Warno?
Matanya tertuju pada liukan garis tinta di peta—sungai yang sama persis dengan yang tertulis dalam sandi parut di lengannya. Tempat tersembunyi di mana bukti pengkhianatan Danurdara dikuburkan.
Sebuah kecurigaan muncul.
Apakah Danurdara mengirimnya ke sana secara kebetulan? Ataukah ini jebakan—sebuah taktik untuk menguji apakah tali kendali kutukan jari ini bekerja sempurna?
Jika Danurdara sudah tahu tentang sandi itu, maka pemberontakannya telah terbongkar sebelum ia sempat melangkah keluar gerbang. Sudamani tidak tahu mana yang lebih mengerikan di antara kedua kemungkinan itu.
"Benteng itu dijaga dua ribu prajurit kawakan," Danurdara melanjutkan, tidak menyadari gejolak di balik mata Sudamani. "Tapi bukan pasukannya yang berbahaya. Wangsa Merah memiliki Teluh Geni—lengo pati dari para dukun seberang lautan. Dilontarkan dengan pelanting besar, lengo itu membakar apa saja dan tak bisa dipadamkan air."
Danurdara menatap Sudamani lekat-lekat.
"Bala Suwung kebal terhadap senjata tajam, tubuh mereka bisa disatukan kembali meski terpisah. Tapi jika daging serta tulang mereka menjadi abu oleh Teluh Geni, raga mereka musnah selamanya. Ritual tidak bisa mengikat abu."
Danurdara mengangkat telunjuk kirinya—telunjuk bersarung tangan yang menyembunyikan jari asli Sudamani.
"Titahku sederhana, Senopati. Satu, tidak ada api. Pasukanmu bergerak dalam gelap buta, kalian bisa melihat dalam gelap. Dua, bunuh ronda musuh secara bersih. Patahkan leher mereka. Jasad mereka harus utuh agar para dukun kita bisa membangkitkannya kembali untuk menyerang kawan mereka sendiri. Tiga, bawa Empu Teluh Geni di dalam benteng hidup-hidup ke hadapanku. Jika mereka sempat menyalakan Teluh Geni, pasukanmu habis. Karena itu kau harus bergerak sebelum mereka sempat menyalakannya.”
Danurdara melangkah mendekat, mencengkeram pundak Sudamani dengan tatapan yang sarat ancaman tersembunyi.
"Pasukanmu bergerak malam ini juga. Buktikan bahwa kau masih Senopati terhebat kerajaan ini, Sudamani. Jangan sampai ... abumu yang harus kupulangkan ke hadapan Gusti Prabu."
Ia melepaskan cengkeraman, lalu menoleh ke arah dampar kencana.
"Gusti Prabu. Kami mohon restu Paduka untuk Senopati."
Sang Prabu bangkit dengan susah payah, kedua tangannya bertumpu pada meja untuk menopang raga yang rapuh. Ia melangkah mendekat.
Tangan tuanya terangkat. Menyentuh bahu Sudamani.
Sudamani merasakan sesuatu yang aneh menjalar dari titik sentuhan itu—sebuah kehangatan yang tidak seharusnya ada di tubuh bangkai.
"Sudamani …," suara sang Prabu parau. "Pulanglah dalam keadaan hidup."
Sebuah titah yang getir. Permintaan konyol yang ditujukan kepada seonggok mayat berjalan.
Namun di balik rusuknya yang beku, Sudamani merasakan sensasi hangat yang aneh—entah sisa kesetiaannya pada raja yang sekarat, atau sekadar ilusi.
"Gusti Prabu," Danurdara memotong tanpa rasa sungkan. "Kita tidak punya banyak waktu. Senapati harus segera bergerak."
Danurdara melangkah maju. Dari balik lipatan jubah perangnya, sang Patih menarik sebuah benda panjang yang terbungkus lilitan kain mori kusam berlumur getah hitam.
Sudamani menerimanya dengan dahi berkerut. Itu bukan pedang miliknya. Senjata ini terasa jauh lebih berat dan janggal. Bilahnya berpenampang lebar dengan pamor hitam berkarat kemerahan.
Tidak ada kilau baja tempaan istana. Permukaan bilahnya berpori kasar. Hulunya tidak dibalut tali tembaga, melainkan lilitan serat urat kaku yang kering.
Saat Sudamani menggenggamnya, hawa dingin yang busuk langsung menyengat telapak tangannya.
Di pangkal bilah yang bergerigi, sebuah mustika hitam tertanam di antara daging logam yang meliuk aneh, berdenyut pelan seirama dengan urat telunjuk kirinya.
Sudamani menatap heran senjata mengerikan itu. "Bilah apa ini?"
"Siapkan jemparing Teluh Geni!" perintah Brajawuni lantang, suaranya membelah kesenyapan malam. "Bakar seluruh semak belukar dan tegalan di luar parit!"Di sepanjang dinding batu, puluhan prajurit pemanah Wangsa Merah bergegas bergerak. Mereka mencelupkan mata panah yang dibalut serat kelapa ke dalam bejana tembaga berisi lenga pati—minyak belerang hitam yang menyengat hidung.Ujung-ujung anak panah yang disulut ke obor seketika berkobar dengan lidah api kemerahan yang mendesis liar."Lepaskan!" seru Brajawuni seraya mengayunkan tangannya.Puluhan anak panah berapi melesung ke langit malam, membentuk busur cahaya melengkung sebelum menghunjam deras ke hamparan semak belukar dan pepohonan kerdil di seberang parit benteng.Wusss!Minyak Teluh Geni bereaksi ganas begitu menyentuh ranting dan daun kering. Dalam sekejap, semak tegalan di sepanjang seratus langkah di depan gerbang menjadi dinding api yang berkobar setinggi dada.Hawa panas menyengat langsung menerjang dinding benteng, dise
Prajurit jaga yang memapah buru-buru membungkuk hormat. “Ampun, Gusti Senapati. Prajurit ini dari celah jurang. Akalnya seperti dirasuk lelembut.”Brajawuni maju selangkah, ujung terompah kulitnya mendongakkan dagu prajurit yang masih gemetaran di lantai batu. “Angkat kepalamu! Mana iring-iringan tiga gerobak Teluh Geni?!”Prajurit itu mendongak dengan kepala gemetaran. Keringat dingin bercucuran membasahi wajahnya yang belepotan tanah, matanya nanar tak terfokus.“Tu-tumpas, Gusti … medi jurang! Habis prajurit jaga.” Alis tebal Brajawuni bertaut murka, urat pelipisnya menegang. “Bicara yang betul! Pasukan mana yang berani membantai prajuritku?! “Bukan prajurit! Demi dewa, bukan jalma manungsa!” Prajurit itu kalap mencengkeram kain celana cinde Brajawuni, bersumpah sambil meneteskan air mata ngeri. “Sepertinya ini kutukan yang sama, Gusti! Medi yang dulu membantai pasukan Senopati Sudamani di rawa … medi itu datang memburu kita!”Napas prajurit itu memburu tersengal-sengal, kata-k
Sudamani menempelkan Mustika Bisik ke bibirnya.Padamkan semua api.Serempak prajurit mayat bergerak.Sesuai titah Sudamani, sasaran mereka bukan musuh—melainkan api.Satu per satu obor dimatikan. Kegelapan menelan celah tebing sempit itu.Kepanikan menghancurkan barisan pengawal Wangsa Merah.Dalam pekatnya malam tanpa cahaya, prajurit mayat merayap layaknya siluman. Suara deru napas musuh menjadi penuntun telinga mereka. Tangan-tangan kaku mencengkeram tenggorokan dari balik gelap, memuntir kepala.Pembantaian itu berlangsung cepat dan nyaris bisu. Hanya terdengar dengus panik kuda, bunyi tulang patah, dan tubuh-tubuh yang roboh ke tanah.Tiga gerobak besi bermuatan Teluh Geni berhasil diamankan tanpa ada satu percikan pun yang menyulut bejana belerang.Namun, di ujung belakang barisan, seorang penunggang kuda pengintai paling belakang berhasil melihat kilasan sebelum obor terakhir padam: wajah-wajah kelabu tanpa darah yang mencekik kawannya tanpa berkedip."Setan penunggu jurang .
Perlahan, Sudamani menolehkan lehernya sembari mencabut mata tombak yang menancap di bahu kirinya. Cahaya obor menerangi separuh wajah sang senopati. Prajurit itu membelalak ngeri.“S-senopati Sudamani. Ti-tidak mungkin. Kau sudah mati.”Matanya menatap ngeri ke lubang di bahu Sudamani. Tidak ada semburan darah merah segar. Hanya cairan kehitaman kental yang merembes pelan dengan bau anyir.Sebelum prajurit itu sempat membuka mulut untuk berteriak, tombak sudah melesat tepat ke mulut, memaku prajurit itu ke batang pohon di belakangnya.Pintu bilik papan terbuka kasar. Suara di luar akhirnya memancing dua perwira yang tadi asyik menenggak arak.Perwira pertama yang brewokan dan sempoyongan keluar paling depan, parang pendek terhunus di tangannya. Bau tuak murahan menguar tajam dari mulutnya."Keparat mana yang berani—"Sudamani tidak memberinya kesempatan menyelesaikan umpatan. Gerakannya cepat.Bugh!Ujung siku Sudamani menghantam ulu hati pria brewok itu, disusul telapak tangannya y
Ujung panah api itu menyala, menerangi seringai prajurit pos intai di atas tebing. Bibirnya bergumam entah apa.Sudamani menyambar cepat gandewa kayu jati dari punggung kudanya, menarik tali busur yang terbuat dari pilinan kawat tembaga hingga melengkung maksimal, lalu melepasnya.Trrrssst!Anak panah berkepala besi menghujam lurus ke atas. Kecepatannya melampaui kedipan mata.Mata panah itu menembus tepat di tenggorokan sang pemanah musuh—mengoyak pita suara sebelum sempat berteriak, memaku lehernya ke tiang gardu intai. Tubuh prajurit itu tersentak kejang, sementara panah api yang dipegangnya terlepas, jatuh membentur lantai papan.Sebelum musuh yang lain menyadari apa yang terjadi, Sudamani mendekatkan hulu Bilah Jagal ke dagunya. Pandangannya mengunci barisan paling depan di kaki tebing, mempersempit niat batinnya agar tidak memicu kepatuhan seluruh pasukan sekaligus di celah sempit.Barisan depan. Panjat. Patahkan leher anjing-anjing itu.Lima puluh prajurit Bala Suwung di bari
"Bilah Jagal," Danurdara menjelaskan dengan nada bangga. "Ditempa dari lelehan zirah kawan-kawanmu yang membusuk di lembah, direkatkan dengan darah mereka. Bilah ini bukan sekadar senjata, Sudamani. Ini tali kekang untuk menuntun mereka."Sang Patih melangkah cepat menuruni undakan batu yang mengarah langsung ke pelataran luar benteng. Sudamani mengikuti di belakang, merasakan getaran mustika hitam di hulu pedang itu terus berdenyut seirama dengan potongan jari di tangannya.Pintu gerbang besi pelataran terbuka. Hawa malam yang menusuk menyambut mereka.Di tanah lapang di bawah dinding batu, empat ribu prajurit Bala Suwung berdiri mematung dalam barisan rapat. empat ribu pasang mata putih menatap hampa ke arah kegelapan.Danurdara berhenti di bibir undakan, menatap Sudamani dari samping."Dekatkan mustika di hulunya ke bibirmu. Jangan berteriak. Mayat tidak mendengar lewat telinga fana. Bisikkan kehendakmu di dalam hati, alirkan lewat batu itu."Sudamani mengangkat pedang hitamnya. H







