Pagi itu matahari baru naik separuh, menyinari jalan setapak yang masih lembap oleh embun. Agus dan Marni berjalan berdampingan, jarak sedikit dijaga supaya tidak memancing omongan. Langkah mereka pelan, berat seakan ada beban di pundak. Kantor Pak Surya berada di pinggir jalan utama, bangunan kayu tua yang dulu kantor perkebunan — sepi, terasing, seakan menunggu mangsa. Di ambang pintu, Marni berhenti sejenak, menarik napas dalam. Tangannya meremas ujung kain kebaya. "Kamu yakin kita masuk berdua?" bisiknya. "Kalau dia buat keributan..." "Kita hadapi berdua," jawab Agus pelan, tegas. "Jangan takut. Kalau dia berlebihan, kita pergi." Agus mengetuk pintu kayu yang sudah kusam. Bunyi berongga, terdengar sampai ke dalam. "Masuk," suara Surya terdengar datar, dingin. Mereka melangkah masuk. Ruangan itu berbau asap rokok tua dan kertas lembap. Di balik meja kayu besar yang bergores, Pak Surya duduk santai, menatap mereka dengan senyum yang tak sampai ke mata. Di tangannya ada s
Última actualización : 2026-09-16 Leer más