Malam sudah larut, lampu-lampu luar gedung mulai meredup satu per satu. Di lantai paling atas, cahaya masih menyala redup dari balik pintu kantor Agus. Ruangan itu hening, hanya terdengar suara gelas yang beradu pelan di meja. Agus duduk sendirian di tepi meja, botol di tangannya, wajahnya memerah, matanya sayu dan berkaca-kaca. Pulang dari desa tadi, sesuatu di dalam dirinya seakan hancur tak tersisa. Ia punya segalanya — uang, usaha, masa depan yang terjamin — tapi orang yang ingin ia bagikan semuanya itu sudah milik orang lain. Setiap kali ia memejam, wajah Marni kembali muncul, dan rasa sakit itu datang lagi, menghantam dadanya tanpa ampun. Ia minum lagi, berharap rasa itu tumpul, hilang, berganti lupa — tapi justru semakin tajam, semakin menyakitkan. Pintu terbuka pelan. Eny masuk, langkahnya lembut, wajahnya penuh kekhawatiran. Ia sudah tahu dari pegawai lain bahwa Agus kembali sore tadi, sendirian, tak tersenyum sedikit pun, dan mengurung diri di sini sejak itu. "Pak Agus
Última actualización : 2026-09-23 Leer más