Mesin motor menderu pelan, lalu mati. Laki-laki itu turun dengan gerakan lambat, menatap tajam ke arah Agus yang masih menggendong Paman Darto. Senyum sinisnya tak hilang, matanya menyapu wajah Marni dari atas ke bawah. "pak Surya..!" ucap Marni terkejut. "Mau kemana malam-malam begini?" tanyanya, suaranya penuh nada meremehkan. "Dan kamu, Marni... kok selalu ada laki-laki setiap kali saya tidak ada? Apa urusan utangmu sudah lunas dengan cara begini?" Marni melangkah maju sedikit, berdiri di antara Surya dan Agus. Tangannya mengepal di sisi tubuh, berusaha tetap tenang. "Bapak jatuh dari tangga di kebun, kepalanya kena batu. Harus segera dibawa ke puskesmas. Minggir dulu, Pak, kami buru-buru, ini soal nyawa." "Buru-buru?" Surya tertawa pendek, suaranya memecah keheningan malam. "Kalau belum lunas utang, jangan harap bisa lewat jalan ini. Tanah ini milik saya. Termasuk jalan yang melintasinya. Kalau kamu belum bayar, kamu juga belum boleh pergi ke mana-mana." Agus menurunkan beban
Última actualización : 2026-09-13 Leer más