Tubuh Shela menegang, saat sebuah tangan memeluknya dari belakang. Ia harus terbiasa disentuh oleh pria yang tak memiliki ikatan pernikahan dengannya itu. “Sayang, apa sudah?” ucap Revan dengan suara berat, pria itu perlahan mengecup pundak Shela, napas hangatnya menyapu leher jenjang Shela. “Sudah, Mas,” jawab Shela dengan suara tertahan. Sudah lama tak disentuh, ia merasa ada gelenyar aneh di dadanya. Dengan cepat, Revan memutar tubuh Shela, hingga tubuh mungil itu membentur dada bidangnya. “Aku harus pergi dua hari, tapi rasanya kaya lama banget.” Shela mencoba untuk tidak gugup, jemari lentiknya menyusuri dada bidang Revan, gerakannya lembut, nyaris membuat Revan putus asa. “Mas, cuma dua hari loh.” Revan mengangkat Shela, mendudukkan wanita yang ia anggap istri itu dalam pangkuan, mata sayunya menatap bibir ranum Shela. “Dia pasti kangen banget.” Tatapan Shela turun kebawah, tepat pada benda keras yang menggelitik pantatnya. Ia menahan napas, pipinya pasti sudah merona
Terakhir Diperbarui : 2026-09-13 Baca selengkapnya