"GIBRAN?!"Kata itu keluar dari mulut gue dan Elang nyaris bebarengan, dua nada yang sama sekali beda—gue kaget campur lega, Elang kaget campur sesuatu yang jauh lebih pahit.Gibran melangkah masuk dari ambang pintu yang barusan didobraknya, jas kasualnya sedikit berantakan tapi wajahnya tenang kayak orang yang baru mampir beli kopi, bukan baru aja nyelametin nyawa orang. Di belakangnya, dua pria berseragam sekuriti privat—rapi, profesional, bukan tipe orang jalanan kayak anak buah Bu Sinta—langsung mengacungkan taser ke arah pria bertubuh besar yang masih menggenggam pipa besi di udara, ayunannya berhenti sepersekian detik sebelum kena kepala Elang."Turunin itu," kata salah satu sekuriti Gibran, suaranya datar tapi tegas, "atau saya nggak akan sungkan pake ini di leher lo."Pria itu ragu, melirik Bu Sinta yang berdiri kaku, sebelum akhirnya menurunkan pipanya pelan-pelan.Gibran berjalan santai mendekati Bu Sinta, tangannya di saku celana, kayak lagi jalan-jalan sore di mal, bukan b
Dernière mise à jour : 2026-09-29 Read More