Bagi sebagian besar anak SMA Nusantara, hari Senin adalah musibah. Tapi buat gue, Nara Anindita, hari Senin adalah medan perang. Dan di medan perang ini, gue adalah jenderalnya."Arkan! Uang kas lo nunggak tiga minggu! Lo pikir ini sekolah punya nenek moyang lo, hah?"Gue menggebrak meja Arkan dengan buku tulis bersampul cokelat yang sudah lecek. Buku keramat OSIS.Cowok bertubuh bongsor itu langsung menciut, menelan ludah kasar. "Yaelah, Nar. Besok deh, beneran. Duit jajan gue dipotong gara-gara ketahuan bolos bimbel.""Gue nggak peduli lo bolos bimbel, bolos napas, atau bolos hidup sekalian. Aturan adalah aturan. Dua puluh ribu, sekarang!" bentak gue. Suara gue menggema di ruang kelas XI-IPA 2 yang perlahan mulai sepi karena bel istirahat baru saja berbunyi.Nita, sahabat gue sekaligus Sekretaris OSIS yang berdiri di belakang gue, mencolek lengan gue pelan. "Nar, santai dikit napa.. Anak orang bisa jantungan tuh."Gue mendelik ke arah Nita. "Santai kata lo? Kalau uang kas kelas ini s
Last Updated : 2026-09-15 Read more