Nita muncul di meja kami detik itu juga, sok santai membawa gelas kopinya sendiri, padahal matanya udah kayak detektif dadakan yang nemuin bukti pembunuhan."Ada apa? Kenapa muka kalian pucet banget?" bisiknya, duduk di kursi kosong tanpa nunggu diundang.Gue menyodorkan foto itu ke arahnya tanpa bicara. Nita membacanya sekilas, alisnya langsung naik."Ini kan sopir pribadi bokapnya Elang? Yang kemarin nganterin lo pulang pake Lexus?" Dia menatap gue, lalu Elang, bingung. "Kenapa fotonya bisa nyampe di bawah meja kita? Siapa yang naruh?""Itu yang justru bikin gue takut," gue menjawab pelan, mata gue masih nggak lepas dari foto itu. "Nit, dari tadi lo ngeliatin pintu, kan? Ada yang mendekat ke meja kita, nggak, walau cuma sedetik?"Nita menggeleng, dahinya berkerut serius—mode heboh-nya lenyap total, digantikan konsentrasi yang jarang gue liat. "Nggak ada, Nar. Gue sumpah nggak lepas mata dari pintu sejak tadi. Kecuali—" dia berhenti, matanya membelalak, "—kecuali pas gue ke toilet lim
Dernière mise à jour : 2026-09-29 Read More