MasukNara Anindita, Bendahara OSIS paling galak di SMA Nusantara, punya satu aturan hidup: semuanya harus masuk akal dan bisa dihitung. Termasuk utang keluarganya yang mencekik. Saat putus asa mencari uang, Nara malah terjebak kontrak konyol dengan Elang Mahendra—si biang kerok pembangkang sekaligus programmer jenius. Syaratnya? Nara harus menjadi 'pacar pura-pura' Elang selama 99 hari untuk menguji aplikasi ciptaannya demi memenangkan kompetisi berhadiah seratus juta. Aturannya sederhana: Jangan bawa perasaan, atau bayar denda "Pajak Sentuhan". Namun, bagaimana jika algoritma tersebut justru membongkar detak jantung yang tak bisa berbohong?
Lihat lebih banyakBagi sebagian besar anak SMA Nusantara, hari Senin adalah musibah. Tapi buat gue, Nara Anindita, hari Senin adalah medan perang. Dan di medan perang ini, gue adalah jenderalnya.
"Arkan! Uang kas lo nunggak tiga minggu! Lo pikir ini sekolah punya nenek moyang lo, hah?"
Gue menggebrak meja Arkan dengan buku tulis bersampul cokelat yang sudah lecek. Buku keramat OSIS.
Cowok bertubuh bongsor itu langsung menciut, menelan ludah kasar. "Yaelah, Nar. Besok deh, beneran. Duit jajan gue dipotong gara-gara ketahuan bolos bimbel."
"Gue nggak peduli lo bolos bimbel, bolos napas, atau bolos hidup sekalian. Aturan adalah aturan. Dua puluh ribu, sekarang!" bentak gue. Suara gue menggema di ruang kelas XI-IPA 2 yang perlahan mulai sepi karena bel istirahat baru saja berbunyi.
Nita, sahabat gue sekaligus Sekretaris OSIS yang berdiri di belakang gue, mencolek lengan gue pelan. "Nar, santai dikit napa.. Anak orang bisa jantungan tuh."
Gue mendelik ke arah Nita. "Santai kata lo? Kalau uang kas kelas ini seret, anggaran proker OSIS bulan depan bakal dipotong. Terus gue yang disalahin sama Dimas? Nggak sudi!"
Menyebut nama Dimas, sang Ketua OSIS yang perfect itu, entah kenapa membuat dada gue sedikit berdesir. Tapi gue cepat-cepat menepisnya. Ini bukan waktunya mikirin gebetan yang nggak peka. Ini waktunya nagih utang.
Berbicara soal utang, mendadak kepala gue berdenyut nyeri. Kata 'utang' selalu jadi pemicu (trigger) otomatis buat otak gue. Refleks, gue mulai mengalikan angka di kepala. Utang Bapak seratus lima puluh juta... bunga dua persen per bulan... sisa tabungan Ibu cuma dua juta...
"Nar?" teguran Arkan membuyarkan hitungan kalut di kepala gue. Dia menyodorkan selembar uang dua puluh ribu yang lecek. "Nih. Bawel banget sih lo jadi cewek. Pantas nggak laku."
Gue merampas uang itu cepat, mencatat namanya dengan pulpen merah, lalu menyeringai sinis. "Gue mending nggak laku daripada jadi parasit di kelas sendiri. Makasih kontribusinya, Loser."
Arkan mendengus kesal dan berlalu keluar kelas.
Gue menghela napas panjang, merapikan buku kas ke dalam pelukan. "Tinggal satu orang lagi," gumam gue sambil menatap daftar nama yang belum dicoret.
Nita melongok dari balik bahu gue, membaca nama yang gue tunjuk. Matanya langsung membelalak ngeri. "Nar... lo serius mau nagih ke dia? Mending lo lewat aja deh bulan ini."
"Nggak ada sejarahnya Nara Anindita ngelewatin nama siapa pun. Aturan berlaku buat semua," kata gue mantap, meski sejujurnya ada sedikit rasa malas yang menjalar.
Nama terakhir di daftar itu adalah: Elang Mahendra.
Si Biang Kerok. Pembuat onar nomor satu. Cowok yang auranya selalu seperti awan mendung yang siap menyambar siapa saja. Rumornya, dia adalah anak donatur terbesar di sekolah ini, makanya guru-guru kewalahan menghadapi kelakuannya yang sering di luar nalar. Mulai dari meretas speaker sekolah buat muterin lagu dangdut koplo di tengah upacara, sampai tidur di atap gedung saat jam pelajaran matematika.
"Terakhir gue denger, dia lagi dihukum ngepel koridor laboratorium fisika gara-gara ketahuan ngerokok di toilet," lapor Nita, suaranya dipelankan seolah takut Elang tiba-tiba muncul dari balik tembok.
"Bagus. Berarti mangsanya gampang dicari," sahut gue sambil melangkah keluar kelas dengan langkah tegap. "Lo duluan aja ke kantin, Nit. Gue mau nyelesaiin misi ini dulu."
"Hati-hati, Nar! Jangan sampai lo dimakan idup-idup!" seru Nita dari kejauhan.
Gue cuma memutar bola mata. Dimakan hidup-hidup? Hah. Elang Mahendra mungkin menyeramkan buat cewek-cewek menye-menye di luar sana, tapi buat cewek yang tiap malam harus berhadapan dengan debt collector bertato di depan rumahnya? Elang cuma anak kecil yang kurang kerjaan.
Lorong laboratorium fisika di ujung timur sekolah memang terkenal sepi dan agak suram. Semakin gue mendekat, hidung gue menangkap aroma karbol bercampur wangi peppermint yang tajam.
Dan di sanalah dia.
Elang Mahendra.
Bukannya mengepel lantai seperti yang diperintahkan, cowok itu malah duduk bersila di atas meja laboratorium. Jaket denim belelnya dibiarkan terbuka, seragam putihnya berantakan, dan sebuah headphone nirkabel besar bertengger di telinganya. Tangannya bergerak sangat cepat, mengetik sesuatu di atas sebuah laptop tipis berwarna perak yang entah dari mana ia dapatkan.
Gue berdeham keras.
Dia tidak merespons. Tangannya masih menari di atas keyboard. Wajahnya terlihat sangat fokus, rahangnya tegas, dan—oke, gue harus mengakui secara objektif bahwa dia lumayan tampan. Tapi ketampanannya nol besar kalau kelakuannya minus.
Gue melangkah maju, meletakkan buku kas OSIS dengan bunyi BRAK! Tepat di sebelah laptopnya.
Barulah gerakan tangannya terhenti. Perlahan, Elang mendongak. Sorot matanya yang tajam dan terkesan meremehkan langsung menusuk mata gue. Rahangnya bergerak pelan, mengunyah permen karet peppermint yang aromanya sedari tadi gue cium.
Dia melepas sebelah headphone-nya. "Ngapain lo?" Suaranya berat, serak, dan sama sekali tidak ramah.
"Ngapain lo nanya ngapain gue?" balas gue tak kalah ketus. "Hari ini tenggat waktu bayar uang kas bulanan kelas XI-IPA 2. Lo nunggak sebulan. Empat puluh ribu."
Elang menatap gue dari atas ke bawah, seolah menilai barang rongsokan. "Oh. Lo si Bendahara Galak itu. Si Kalkulator Berjalan."
"Nama gue Nara. Dan gue bukan kalkulator, gue orang yang lagi nuntut hak kelas. Duit lo mana?" Gue menadahkan tangan tepat di depan wajahnya.
Bukannya mengeluarkan dompet, Elang malah mendengus kasar. Dia menutup layar laptopnya dengan gerakan pelan namun penuh ancaman. "Gue nggak bawa cash. Lagian, buat apa uang kas? Buat fotokopi soal ujian yang ujung-ujungnya juga masuk tempat sampah?"
"Uang kas itu buat keperluan bersama, Elang! Buat beli spidol, penghapus, sapu, alat pel... yang mana harusnya lagi lo pegang sekarang, bukan malah asyik main laptop!" semprot gue, menunjuk ke arah alat pel yang tergeletak menyedihkan di sudut ruangan.
Elang menyeringai tipis, sebuah senyum miring yang entah kenapa membuat darah gue mendidih. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga wajah kami hanya berjarak beberapa jengkal. Gue bisa mencium aroma peppermint yang lebih kuat, bercampur dengan aroma parfum maskulin yang samar.
"Kalau gue nggak mau bayar, lo mau apa?" tantangnya dengan suara pelan. "Mau laporin gue ke Dimas kesayangan lo itu? Laporin aja. Gue nggak takut sama anak cupu berkedok Ketua OSIS."
Mata gue memicing tajam. Amarah sudah memuncak ke ubun-ubun. Dia boleh meremehkan gue, tapi dia nggak berhak menghina Dimas. Dan dia sama sekali nggak tahu lagi berhadapan dengan siapa.
Dengan gerakan kilat, tangan gue menyambar laptop perak yang tergeletak di atas meja, mendekapnya erat ke dada gue layaknya tameng.
Mata Elang membelalak kaget. Senyum miringnya lenyap seketika. "Heh! Lo ngapain? Balikin barang gue, cewek gila!"
"Gue bakal balikin benda mahal ini," ancam gue sambil mundur beberapa langkah menuju pintu keluar, "kalau lo udah lunasin uang kas empat puluh ribu lo ke meja gue, hari ini, sebelum bel pulang sekolah berbunyi."
"Jangan main-main sama gue, Nara! Lo nggak tahu apa isi laptop itu!" Suara Elang kini meninggi, ada kepanikan yang berusaha ia sembunyikan di balik nada marahnya. Ia melompat turun dari meja.
"Gue nggak peduli isi laptop lo. Mau isinya game, mau isinya tugas negara, terserah. Intinya, empat puluh ribu, Elang. Lo tahu di mana gue duduk."
Tanpa menunggu balasannya, gue berbalik badan dan berlari sekencang mungkin menyusuri koridor, meninggalkan Elang yang mengumpat keras di dalam laboratorium.
Jantung gue berdegup kencang. Setengah karena lari, setengah karena adrenalin.
Gue baru saja menyatakan perang terbuka dengan cowok paling berbahaya di sekolah. Tapi biarlah. Dalam kamus Nara Anindita, tidak ada yang namanya mundur kalau soal uang.
Hanya saja... gue sama sekali tidak tahu bahwa merampas laptop itu adalah kesalahan terbesar—sekaligus takdir paling gila—yang pernah gue lakukan dalam hidup gue.
Elang mencoba menelepon balik nomor tak dikenal itu tiga kali berturut-turut begitu kami keluar dari kafetaria, tapi tiap kali sama—nada sambung datar diikuti suara operator robotik: "Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar atau sudah tidak aktif.""Nomor sekali pakai," gumam Elang, mengantongi ponselnya dengan wajah frustrasi. "Kalau bener itu Arya, dia jelas sengaja pake nomor yang gampang dibuang biar nggak bisa dilacak balik ke dia.""Kenapa dia repot-repot ngirim peringatan kalau dia kerja buat bokap lo?" gue bertanya, masih nggak bisa mencerna logika di balik pesan itu. "Kalau dia emang di pihak Baskoro, harusnya dia seneng kita makin bingung, bukan malah nyuruh kita berhenti.""Itu yang bikin gue makin curiga," Elang menyandarkan punggungnya ke loker, matanya menerawang. "Kayak yang lo bilang waktu di kedai kopi—Arya cuma kerja buat bokap gue. Bukan berarti dia setuju sama semua cara
Gue dan Elang nyampe di kafetaria sekolah jam enam lewat lima belas, lebih pagi dari biasanya, sampe satpam sekolah aja masih heran ngeliat ada anak yang udah nongol sebelum gerbang resmi dibuka. Gibran udah duduk di meja pojok, laptop tipisnya menyala, secangkir kopi hitam di depannya—gaya khas trader yang kayaknya emang lahir dengan insting kerja pagi buta."Wah, kompak amat kalian berdua," katanya begitu kami duduk, matanya melirik Elang sekilas dengan senyum yang setengah mengejek, setengah menghormati. "Nggak nyangka lo mau turun tangan langsung ngawal negosiasi bisnis pacar lo.""Kontrak," koreksi Elang datar, meski nadanya nggak sepenuhnya meyakinkan lagi, "dan gue di sini cuma mastiin nggak ada syarat aneh-aneh yang lo selipin diam-diam.""Tenang aja, gue trader, bukan lintah darat," Gibran memutar laptopnya ke arah gue, menunjukkan sebuah dokumen kosong berformat perjanjian pinjaman. "Nara, lo
Dimas berdiri dari kursinya, gerakannya tenang dan penuh perhitungan khas anak diplomat, sama sekali nggak menunjukkan kecanggungan meski suasana di meja itu udah berubah setegang tali busur."Gue rasa ini waktunya gue pamit," katanya, mengambil jaketnya dari sandaran kursi. Dia menatap Elang sekilas—bukan dengan permusuhan, tapi dengan sesuatu yang lebih mirip pengertian orang dewasa yang tau kapan harus mundur. "Elang, ini bukan yang lo pikirin. Gue cuma ngajak Nara makan sebagai temen. Sebagai Ketua OSIS yang khawatir sama bendaharanya yang kerja kayak kuda.""Gue nggak nanya," jawab Elang datar, meski rahangnya masih mengeras.Dimas nggak tersinggung. Dia cuma mengangguk kecil ke arah gue. "Makasih buat obrolannya, Nar. Traktir gue lain kali kalau semua ini udah kelar." Lalu dia berjalan keluar restoran dengan langkah tenang, meninggalkan gue dan Elang sendirian di tengah lampu lentera yang tadin
"Nara, boleh gue minta waktu lo sebentar?"Suara Dimas menyapa gue tepat waktu gue lagi beres-beres map laporan keuangan turnamen di ruang OSIS, sendirian karena semua pengurus lain udah pulang duluan. Gue mendongak, dan seperti biasa, penampilannya tetap rapi sempurna—kemeja putih yang nggak pernah kusut walau abis seharian sekolah, rambut tersisir necis, senyum diplomatis yang bikin dia kelihatan kayak sudah siap jadi calon menteri sejak umur tujuh belas tahun."Ada apa, Ketua?" Gue melipat map terakhir, berusaha keliatan santai meski dalam hati gue agak waswas—terakhir kali Dimas minta ngobrol empat mata, ujung-ujungnya jadi momen canggung penuh pernyataan cinta yang harus gue tolak."Gue cuma mau ngajak lo makan malam," katanya, langsung to the point tapi tetap dengan nada sopan khasnya. "Bukan dalam artian yang lo pikirin," dia buru-buru menambahkan, seolah bisa membaca kecurigaan di wajah gue. "Gue notice lo akhir-akhir ini keliatan capek banget. Kantong mata lo udah kayak panda
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan