"Lo yakin nggak lagi halu, Nar?" Elang mengelap keringat di lehernya, duduk di sebelah gue di pinggir lapangan begitu sesi latihan sore itu selesai, semua anak lain udah bubar ke ruang ganti. "Kursi kosong nggak selalu berarti ada yang ngilang secara ajaib. Bisa aja lo emang lagi capek terus otak lo ngarang-ngarang sosok yang mirip Arya.""Gue tau bedanya orang capek sama orang yang beneran liat sesuatu, Elang." Gue menyilangkan tangan, kesel karena dia kelihatan lebih santai dari yang seharusnya. "Dan gue yakin banget itu Arya. Setelan jasnya, cara dia duduk, cara dia ngetik di HP tanpa noleh sedikit pun—itu ciri khas dia banget."Elang menghela napas, tapi sebelum dia sempat membantah lebih jauh, matanya tiba-tiba tertumbuk ke celah kecil di bawah bangku tribun paling ujung—tempat yang gue tunjuk tadi."Tunggu," katanya, berjongkok, tangannya meraih sesuatu yang terselip di antara besi penyangga bangku. Sebuah korek api Zippo perak, mengilap, dengan ukiran inisial kecil di bagian ba
Dernière mise à jour : 2026-09-26 Read More