Di tengah kebun pisang, di pagi hari, dengan helm yang masih terpasang di kepala, Saka merasa badannya sudah kalah total. Mulutnya terus menyuruh Nadia berhenti, tetapi tangan kanannya malah turun dan mengelus rambut Nadia.Sadar, Saka, sadar!Baru tadi subuh ia batal mengocok karena teringat Sari, dan sekarang, matahari belum juga tinggi, ia sudah pasrah di kebun orang.Melihat adiknya makin berani, Dona mendengus keras. Tanpa bicara, ia ikut jongkok di sebelah Nadia dan membuka dua kancing teratas kemeja kuliahnya."Eh Tocil, minggir dong, jangan mentang-mentang udah liat YT mau dilahap sendiri. Huft, bagi dua lah, atas-bawah!" ucap Dona ketus sambil menyikut bahu adiknya."Ih, paan sih Kak, selalu aja iri sama bocah! Aku yang nagih duluan lho, ishkah, yang tua tuh ngalah, bukan malah nyerobot antrean kayak gini!" protes Nadia sambil memanyunkan bibirnya.Jujur, melihat Nadia seperti itu, hati Saka berdesir. Nadia tampak lucu dan imut, apalagi dengan bibir manyun serta rambut kuncir
Terakhir Diperbarui : 2026-09-22 Baca selengkapnya