"Nad, Liga Kakak itu nggak ada hadiahnya. Juara satu dapet panci aja nggak," ucap Saka putus asa.Dona bangun dari tengkurapnya, mendengarkan sebentar ke arah pintu, lalu duduk di tepi kasur. "Hadiahnya Kakak, lho. Dona jaga pintu dari sini aja ya, soalnya Dona kan udah kebagian. Tapi Dona nonton dari deket."Diam-diam Saka menggapai bungkus rokok di paku sebagai alasan kabur ke luar, tetapi Nadia lebih cepat menyambarnya dan menyembunyikannya di balik punggung."Rokoknya disita. Kakak nggak boleh kabur," ucap Nadia sambil mendorong dada Saka sampai terduduk di tepi kasur.Nadia berlutut di tikar di antara kedua lutut Saka, lalu membuka kancing dan resleting celana jinnya.Saka memegang pergelangan tangan Nadia sebelum celananya turun. "Nad, kamu sendiri yang mau, kan? Bukan karena ditantang Dona? Kalau nggak nyaman, tepuk pahaku dua kali, nanti aku berhenti.""Iya, iya, Kakak bawel. Aku mau karena aku mau, tauk," sahut Nadia, lalu menarik celana jin dan celana dalam Saka sampai ke lu
Terakhir Diperbarui : 2026-09-26 Baca selengkapnya