Saka melepas celana jin dan kolor hitam lamanya, lalu memakai kolor merah marun itu di bawah tatapan Ningsih. Kain barunya lembut dan pas di pinggang, tetapi bagian depannya sudah terdorong penisnya yang menegang.Ningsih berjongkok dan menekan jahitan depan kolor itu dengan telunjuk. “Sesak di sini. Jahitanku kurang longgar.”“Bukan jahitannya yang sesak, Mbak. Isinya yang ngeyel,” gerutu Saka.Ningsih berdiri, menatap Saka lurus, lalu mengangkat rok batiknya sampai ke pinggang. Tidak ada celana dalam di baliknya.“Mbak jualan celana dalam sebanyak ini, tapi sendiri nggak pakai. Itu namanya tukang roti yang puasa.”“Puasanya batal dari kemarin, Mas. Lima menit, aku hitung dari sekarang,” balas Ningsih datar, tetapi telinganya sudah memerah.Anehnya, Saka tidak ingin kabur. Perempuan di depannya meminta dengan jelas, menyebut batas waktu, dan tidak membawa-bawa alasan dari manga.Saka menelan ludah. “Boleh, Mbak? Kalau mau berhenti, tepuk tiga kali, sama kayak kemarin.”“Masih kuingat
Terakhir Diperbarui : 2026-10-10 Baca selengkapnya