مشاركة

Saka, kok keras?

مؤلف: Callme_Tata
last update تاريخ النشر: 2026-10-08 11:41:50

Sarah tertidur pulas dengan pipi menempel di paha Saka, dan embusan hangat dari hidungnya jatuh tepat di kain celana jin yang sudah menegang. Pemuda itu tidak berani menggeser satu otot pun, karena gerakan sekecil apa pun bisa membuat pipi itu menyenggol tonjolan di bawahnya.

Dari kolong meja, sebuah jari menusuk tulang kering Saka dua kali. Disusul bisikan Dona yang tertahan, “Kak, bangunin Mbak Sarah sekarang. Kaki Dona kesemutan, dan dari tadi jari Dona diinjak Nadia.”

“Nadia nggak nginjak,
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق

أحدث فصل

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Kabel atau ular India?

    Saka menuruni tangga dengan tiga pasang mata yang mengikuti tiap langkahnya. Di dasar tangga, Ipah menurunkan dua kantong belanja ke lantai dan menunjuk pintu samping dengan dagunya.Dengan suara yang naik setengah oktaf, Ipah memerintah, “Bapak lagi dinas, Sarah udah berangkat, dan laki-laki di rumah ini tinggal kamu. Benerin pompa itu sekarang juga, atau Ibu suruh kamu timba air seharian sampai tanganmu copot!”Belum sempat Saka menjawab, Ipah menoleh ke Dona yang berdiri di anak tangga terakhir dengan handuk melilit dada. “Dona! Masuk dan pakai baju, kamu pikir ini kolam renang?!”“Airnya mati duluan sebelum busa Dona kebilas, Bu. Kalau Dona pakai baju sekarang, sabunnya malah bikin kulit gatal,” jelas Dona dengan wajah sepolos mungkin.Ipah menghela napas dan menyuruh Dona menunggu di ambang pintu samping, lalu menyeret Saka ke sisi rumah dengan Nadia yang mengekor di belakang. Di sana, mesin pompa hijau berdebu berdiri di antara tembok dapur dan dinding paviliun, dengan kabel hit

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Keluar lewat bawah

    “Memangnya kenapa? Orang lagi dikerok, wajar teriak.” Suara Sarah teredam guling.Saka mengulang tarikan koin di sisi pinggang. “Merahnya rapi, Mbak. Anginnya keluar lewat jalur resmi, pakai surat pengantar RT.”Sarah tertawa sampai punggungnya berguncang, dan koin hampir terlepas dari jari Saka. Gerakan koin yang berulang itu membuat pemuda itu teringat ibunya di kampung, yang dulu mengerok punggungnya dengan koin lima ratusan tiap ia pulang tanding dalam keadaan demam. Selama beberapa menit, dadanya terasa tenang.“Kamu kok diam? Biasanya mulutmu jalan terus,” tanya Sarah sambil menoleh sedikit.“Lagi konsentrasi, Mbak. Ngerokin itu ada ilmunya.”Punggung Sarah kini penuh bilur merah yang mengilap oleh minyak, dan perempuan itu menghela napas panjang. “Selain masuk angin, pinggang Mbak kaku banget juga. Lanjut ke pinggang kayak waktu itu, ya? Dua titik di atas tulang ekor yang bikin kesetrum itu.”“Mbak, titik itu buat kram, bukan buat masuk angin. Beda penyakit, beda obat. Itu buka

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Saka, kok keras?

    Sarah tertidur pulas dengan pipi menempel di paha Saka, dan embusan hangat dari hidungnya jatuh tepat di kain celana jin yang sudah menegang. Pemuda itu tidak berani menggeser satu otot pun, karena gerakan sekecil apa pun bisa membuat pipi itu menyenggol tonjolan di bawahnya.Dari kolong meja, sebuah jari menusuk tulang kering Saka dua kali. Disusul bisikan Dona yang tertahan, “Kak, bangunin Mbak Sarah sekarang. Kaki Dona kesemutan, dan dari tadi jari Dona diinjak Nadia.”“Nadia nggak nginjak, tauk! Itu lutut Kak Dona sendiri yang nyasar ke jari Nadia,” bantah Nadia dengan bisikan yang ikut meninggi.Tanpa menggerakkan bibir, Saka mendesis ke arah taplak, “Diam, dua-duanya. Satu suara lagi dan Mbak Sarah bangun, kalian yang kuseret keluar lewat kolong.”Sebuah tangan kecil merayap kembali ke lutut Saka dan naik ke paha, tetapi tangan lain menepuknya keras sampai bunyinya terdengar di sela dengkur halus Sarah.“Jangan sekarang, Tocil. Mbak Sarah masih tidur di sini, nanti kita ketahuan

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Ajari aku main

    Tiga ronde kemudian, tidak ada lagi yang peduli pada kartu. Kaus tipis Nadia, BH hitam Dona, dan celana pendek Nadia sudah berpindah ke karpet, sehingga keduanya hanya memakai celana dalam.Dona dan Nadia menempelkan bibir ke leher Saka, satu di kiri dan satu di kanan. Kedua tangan Saka berada di pinggang mereka, tidak bergerak, tidak mendorong, dan tidak berani turun.Dona menyelipkan tangan ke balik kaus Saka dan mengusap dadanya yang keras, sementara Nadia mencium rahang Saka sampai ke sudut bibir. Napas Saka tertahan, dan kedua tangannya mencengkeram pinggang mereka lebih erat daripada yang ia maksudkan.Saka menghafal urutan jurus silat dari jurus pertama untuk mengalihkan pikiran, tetapi ia sudah lupa urutannya.Nadia, yang duduk di paha kanan Saka, menahan senyum karena tonjolan di celana jin Saka mulai mengeras.Dengan suara tertahan, Saka menggerutu, "Woy, kalian ini jin botol, ya? Disuruh tidur malah nongol di paha orang. Kalau ada yang nggak nyaman, bilang sekarang, soalnya

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Itu bukan perintah!

    "Ibu sama Mbak Sarah lagi tidur, lho. Kalian ikut tidur sana, biar besok nggak bangun kesiangan," kata Saka dengan wajah segalak yang ia bisa."Kamar gelap begini, yang kepikiran cuma anting itu, Kak." Dona menunduk menatap lilin, dan bahunya merosot.Nadia buru-buru menarik tangan Saka ke karpet. "Makanya main kartu aja, ya, Kak? Satu ronde doang. Yang kalah nggak boleh nyebut nama Bapak!"Saka menatap dua adik tirinya bergantian, lalu menghela napas panjang. Lagi pula, sebagai juara silat, Saka pantang mundur dari tantangan apa pun, apalagi tantangan kartu. Dona dan Nadia juga tidak tahu bahwa di pos ronda kampungnya dulu, Sakamukti hampir tidak pernah kalah main cangkulan.Setelah duduk bersila di karpet dan bersandar ke sofa, Saka mengacungkan satu jari dan berkata, "Satu ronde. Habis itu kalian tidur, titik."Dona membagikan tujuh kartu kepada masing-masing, lalu menumpuk sisanya di tengah karpet. Nadia menatap kartunya dengan mata berbinar, sedangkan Saka menyusun kartunya tanpa

  • Cukup, Aku Gak Tahan!   Main cangkulan!

    Saka Jr. sudah menegang di balik celana jin. Sambil menggeser pinggulnya menjauh dari tepi ranjang, Saka berbisik, "Bu, ibu saya cuma di ujung lorong. Suara Bu Retno tadi pasti kedengaran sampai sana.""Biar saja. Dia sendiri yang minta pintunya dibuka. Sayang sekali ya, ibumu sampai rela berdiri di ujung lorong." Bu Retno terkekeh pelan."Itu bukan sayang, Bu. Itu patroli," sahut Saka datar.Bu Retno tertawa sampai bahunya berguncang, lalu membalikkan badan dan menarik tangan Saka ke dadanya. Dada itu penuh dan hangat di telapak tangan Saka. "Suami saya sudah dua tahun nggak pernah masuk ke kamar saya, Mas. Malam ini dia juga pulang lewat tengah malam, seperti biasa.""Bu Retno, kesepakatan dari ibu saya cuma urut saraf. Pegang-pegang dada nggak termasuk," bisik Saka dengan tangan yang tidak berani bergerak."Kesepakatannya belum ada tanda tangan, Mas. Masih bisa saya ubah." Bu Retno menekan tangan Saka lebih erat ke dadanya.Saka menelan ludah, lalu bertanya pelan, "Bu Retno yakin?

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status