LOGINBab 5
Cakra berlutut di atas lantai papan serambi yang dingin. Kedua tangannya terulur hendak menyentuh pundak kurus Sari Kembang untuk membantunya berdiri.
Namun, baru saja jemarinya menyentuh kain kebaya wanita itu, Sari Kembang tersentak dan meringis kesakitan. Lengan baju batiknya tersingkap sedikit ke atas siku, memperlihatkan gurat luka cambukan panjang yang telah mengering menghitam di kulit putihnya.
Seketika itu juga, sekelebat ingatan kelam menyengat kepala Cakra.
Malam itu turun hujan lebat, dan sang pangeran asli baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat selepas menelan kekalahan besar di meja judi. Pria keji itu melampiaskan seluruh amarahnya dengan menyabetkan sabuk kulit tebal berkali-kali ke tubuh Sari Kembang yang meringkuk di sudut kamar.
“Dasar bajingan!" geram Cakra.
Rasa mual yang amat pekat mendadak menekan ulu hatinya. Dia menarik tangannya kembali seraya melangkah mundur dengan napas tertahan, merasa jijik pada perbuatan biadab pemilik raga ini.
Melihat suaminya menjauh, Sari Kembang buru-buru menyeka air matanya seraya menundukkan kepala sedalam-dalamnya.
"Hamba ... hamba mohon undur diri ke paviliun, Gusti."
Tanpa menunggu persetujuan, wanita malang itu bangkit berdiri dan berlari kencang menyusuri lorong paviliun. Sosoknya menghilang di balik kelokan serambi dengan langkah kaki yang teramat panik.
Ratu Kencana Wulan melangkah maju dari ambang pintu seraya menatap punggung Sari Kembang yang menjauh. Kedua tangannya terlipat anggun di depan perut, menyiratkan wibawa seorang permaisuri utama istana.
“Kanda kelihatan nggak baik-baik saja,” ujar Ratih tiba-tiba, seraya mencondongkan tubuh ke arah Cakra.
“Apa mau aku tenangkan, Kanda?" bisiknya sambil meraba-raba dada Cakra.
"Tidak perlu, Ratih. Aku baik-baik saja," sahut Cakra sambil melepas tangan Ratih dari tubuhnya. Tetapi wanita itu malah terus menempel padanya seperti ulat bulu.
"Kanda butuh ditenangkan. Ayo, habis ini ke kamarku ya,” goda Ratih sambil menciumi dada Cakra yang terbungkus pakaian rapi dan ribet ala-ala kerajaan.
Kencana Wulan menatap Ratih dan para istri pangeran satu per satu dengan pandangan tajam.
“Kalian semua kembalilah ke paviliun masing-masing,” ucapnya datar, “biarkan Kanda beristirahat dahulu.”
Ratih mencibir pelan seraya merapikan selendangnya, tapi tetap melempar satu kedipan jahil ke arah Cakra sebelum berbalik.
Anjani hanya mendengus, melangkah pergi menuju lapangan latih tanpa membantah, meski sempat menoleh sekali lagi dengan seringai yang belum sepenuhnya hilang.
Putri Andini membungkuk hormat kepada sang permaisuri sebelum melangkah lambat mengekor di belakang mereka.
Sebelum membalikkan tubuhnya, Kencana menatap Cakra dengan pandangan berjarak.
"Siang nanti Kanda ditunggu di pendopo utama untuk membicarakan urusan jadwal kediaman."
"Baik, aku akan ke sana," jawab Cakra seraya mengangguk canggung.
Kencana menyatukan jemarinya sekilas, lalu beranjak pergi tanpa menambah obrolan basa-basi.
Sepeninggal para wanita itu, hawa di dalam kamar tidur terasa begitu menyesakkan dada Cakra.
“Sepertinya Cakrabuana itu memang manusia paling buruk yang pernah ada." Ia bergumam pelan.
Cakra merasa tidak betah terus berdiam diri di ruangan megah yang penuh dengan bayang-bayang dosa masa lalu sang pangeran.
Ia memutuskan melangkah keluar serambi, berniat mengitari kompleks kediaman luas ini. Dia perlu mencocokkan kepingan memori pangeran dengan wujud nyata lorong, halaman, dan bangunan di istana Wanapura.
Namun, perjalanan paginya sama sekali tidak berlangsung menyenangkan. Setiap kali berpapasan dengan pelayan yang sedang membawa nampan, orang-orang itu langsung melempar tubuh ke lantai dan bersujud gemetar.
Bahkan saat melewati taman samping, seorang tukang kebun tua seketika menjatuhkan sapu lidinya ke tanah. Pria tua itu gemetar hebat seraya merapatkan keningnya ke bebatuan kerikil pekarangan.
Cakra menghentikan langkah seraya mengusap tengkuknya yang terasa dingin. Memori pangeran asli kembali memberi jawaban pahit atas kepanikan massal yang terjadi.
“Gila! Pemilik tubuh ini benar-benar tidak waras! Dia kejam sekali."
Dalam ingatan Cakrabuana, ia melihat pangeran yang dulu ternyata pernah menendang rusuk seorang pelayan hingga patah tulang, hanya karena pelayan malang itu melintas terlalu dekat di depannya.
Mengingat hal itu, Cakra pun memilih mempercepat langkah agar tidak membuat orang-orang tua itu mati ketakutan.
Langkah kakinya yang sembarangan membawanya tersesat melewati gang-gang sempit beratap sirap.
Semakin jauh berjalan, aroma wangi dupa melati perlahan memudar, berganti dengan bau kayu bakar dan uap beras aron.
Pandangan Cakra akhirnya tertumbuk pada sebuah bangunan berdinding anyaman bambu tebal di bagian belakang kediaman.
Di dekat gentong tanah liat berukuran besar, seorang gadis berparas manis sedang membungkukkan badan.
Dia Sekar, yang sedang mengerahkan seluruh tenaga untuk mengangkat tong air kayu yang penuh terisi menuju bibir tungku dapur.
Melihat kemunculan seorang pria bangsawan di pintu dapur, Sekar hanya menundukkan kepala sekilas tanpa ekspresi berlebihan.
Selepas menaruh tong tersebut, gadis itu mendelik ke arah lantai papan serambi dapur seraya mengomel pelan.
"Lantai ini baru saja selesai dipel, sekarang malah diinjak-injak sandal kotor."
“Hah?" Cakra mematung di tempatnya seraya mengedipkan mata beberapa kali.
Otaknya mendadak buntu karena serpihan ingatan milik sang pangeran sama sekali tidak menyimpan rupa maupun nama gadis ini.
Pangeran bangsawan yang gila kehormatan itu memang tidak pernah sudi menginjakkan kakinya ke area dapur kotor tempat para budak bekerja.
Cakra yang biasanya sangat canggung menghadapi wanita cantik, kini justru terpaku mengamati gerak-gerik Sekar. Kedua lengan baju lurik gadis itu digulung rapi hingga ke atas siku, memperlihatkan otot tangannya yang kencang dan cekatan.
Cara gadis itu bekerja keras memindahkan beban berat tanpa mengeluh, seketika menyentuh relung ingatan Cakra.
Pemandangan bersahaja itu mengingatkannya pada ketangguhan rekan-rekan perawat wanita di ruang gawat darurat rumah sakit masa lalunya. Mereka terbiasa bergulat dengan infus, darah, dan pasien sekarat sepanjang giliran jaga malam tanpa mempedulikan riasan wajah.
Sebaliknya, Sekar memandang kehadiran sang pangeran dengan sorot mata yang dipenuhi rasa muak.
Baginya, pria tampan berpakaian sutra di hadapannya tidak lebih dari seorang pemabuk keji yang gemar menyiksa wanita dan merusak ketenteraman kediaman.
“Untuk apa dia berdiri di sana? Mengganggu pemandanganku saja," gumam Sekar yang sayup-sayup bisa didengar oleh Cakra.
Melihat gadis itu bersiap mengangkat satu tong air kayu lainnya yang teramat berat, naluri perawat Cakra langsung terpancing. Pemuda itu melangkah maju seraya mengulurkan kedua tangannya untuk membantu mengambil alih pegangan tong tersebut.
"Sini, biar kubantu angkat sampai ke dekat tungku," ujar Cakra dengan nada bersahabat.
Melihat sang pangeran mendadak mendekat, Sekar terperanjat kaget dan langsung melompat mundur sejauh dua langkah.
"Berhenti!”
Tangannya menyambar gayung batok kelapa bergagang kayu dari dalam gentong air, lalu mengacungkannya ke depan dada seperti sebilah senjata penusuk. Tatapan matanya menyala waspada, siap menghantamkan gayung tersebut jika pria bangsawan itu berani menjamahnya.
"Jangan berani-berani mendekat, Gusti Cakra," desis Sekar dengan gigi terkatup rapat.
Tepat pada detik menegangkan itu, pintu bilik belakang dapur mendadak terdorong terbuka lebar.
Mbok Darmi melangkah masuk seraya memanggul keranjang anyaman bambu yang penuh muatan sawi hijau dan ketela pohon. Begitu pandangannya menangkap sosok sang junjungan berdiri teramat dekat dengan putrinya, napas wanita paruh baya itu seketika tercekat di tenggorokan.
“Astaga! Pangeran Cakrabuana!"
Braakkk!
Keranjang sayur itu terlepas dari genggamannya, menumpahkan sawi dan ketela ke seluruh penjuru lantai tanah.
Wajah Mbok Darmi pucat pasi laksana mayat saat menerjang maju ke arah sang putri. Tangannya menyambar pergelangan tangan Sekar dengan sentakan kasar, lalu menyeret paksa tubuh gadis itu jatuh berlutut mencium lantai dapur.
"Sekar, cepat bersujud pada Pangeran!”
Sambil menekan kepala Sekar rapat-rapat ke lantai tanah, wanita tua itu memukulkan dadanya sendiri seraya meratap histeris.
"Ampun, Gusti Pangeran! Hamba mohon ampun beribu ampun! Jangan bunuh anak hamba, mohon ampuni Sekar yang bodoh dan tidak tahu sopan santun ini!" Suaranya serak, seperti hendak menangis.
"Apa? Bunuh?” Cakra tercengang.
BAB 6"Berdirilah, Mbok. Bangun, jangan terus bersujud seperti ini," pinta Cakra dengan suara memohon. Mendengar permintaan itu, Mbok Darmi justru semakin gemetar hebat. Wanita paruh baya itu menekan keningnya lebih rapat ke tanah seraya memegangi betis putrinya yang membisu. "Ampun, Pangeran! Mohon jangan murka, hamba bersumpah anak hamba tidak berniat lancang!" ratap Mbok Darmi dengan suara serak bercampur tangis. Semakin disuruh berdiri, wanita tua itu tampak semakin ketakutan setengah mati. Cakra menghela napas panjang, menyadari bahwa keramahannya justru dianggap sebagai awal dari amarah besar sang pangeran bajingan. Pada akhirnya, ia mengalah demi meredakan kepanikan tersebut. "Sudahlah, Mbok, aku ke sini hanya karena merasa haus." "A-air, Gusti?" tanya Mbok Darmi seraya mengangkat kepalanya sedikit dengan wajah basah air mata."Iya, tolong ambilkan aku segelas air tempayan," ucap Cakra seraya tersenyum ramah. Mbok Darmi buru-buru menyikut pinggang anak perempuannya. "Sek
Bab 5Cakra berlutut di atas lantai papan serambi yang dingin. Kedua tangannya terulur hendak menyentuh pundak kurus Sari Kembang untuk membantunya berdiri.Namun, baru saja jemarinya menyentuh kain kebaya wanita itu, Sari Kembang tersentak dan meringis kesakitan. Lengan baju batiknya tersingkap sedikit ke atas siku, memperlihatkan gurat luka cambukan panjang yang telah mengering menghitam di kulit putihnya. Seketika itu juga, sekelebat ingatan kelam menyengat kepala Cakra.Malam itu turun hujan lebat, dan sang pangeran asli baru saja pulang dalam keadaan mabuk berat selepas menelan kekalahan besar di meja judi. Pria keji itu melampiaskan seluruh amarahnya dengan menyabetkan sabuk kulit tebal berkali-kali ke tubuh Sari Kembang yang meringkuk di sudut kamar. “Dasar bajingan!" geram Cakra.Rasa mual yang amat pekat mendadak menekan ulu hatinya. Dia menarik tangannya kembali seraya melangkah mundur dengan napas tertahan, merasa jijik pada perbuatan biadab pemilik raga ini. Melihat sua
"Mmhh." Cakra sudah hilang kendali, begitu larut sampai-sampaitak sadar jika masih ada Anjani dan Andini di dalam kamar yang sama.Mata Andini bahkan sampai membelalak melihat adegan itu. Wajahnya terasapanas. Kedua tangannya saling meremas sisi gaun dengan gemetar."Ehem! Gimana, Kanda? Enak kan?"Suara deheman Anjani membuat Cakra tersentak kaget. Kesadarannya punakhirnya kembali, mengambil alih pikirannya yang semula sudah kacau."Astaga, Ratih!" Cakra membuka mata lebar-lebar. Dia buru-burumelepas pelukannya dan mendorong tubuh wanita itu menjauh. Wajah Cakra sudahmerah padam saat dia rapatkan selimut ke tubuhnya."Jangan di sini, Ratih! Ada Anjani sama Andini! Buat aku malusaja," sungut Cakra kesal."Tapi tadi Kanda sudah ketagihan kan? Enak kan, Kanda?" Ratihtertawa puas, seraya mengancingkan kembali kebayanya."Itu … itu …." Cakra tergagap."Lagipula justru asyik kalau ada saksi," potong Ratih sambilterkikik. "Kanda nggak biasanya malu-malu begini. Padahal dulu Kandapa
Cakra baru saja selesai meminta seorang pelayan mengambilkan air ketikaseorang wanita lain muncul dari balik pintu.“Kanda.” Suara lembut itu membuat Cakra menoleh.Seorang gadis dengan kebaya biru muda berjalan perlahan memasuki kamar.Rambut panjangnya tersanggul sederhana, wajahnya tenang, kedua tangannyamembawa mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap tipis. Ingatan Cakrabuana pun langsung mengenalinya.Itu Putri Andini si istri keempat, putri Kerajaan Sagara yang dinikahkandengannya sebagai bagian dari perjanjian damai.“Kanda sudah sadar,” ucap Andini dengan senyum tipis, menyerahkanmangkuk itu. “Ini ramuan penghangat badan. Cobalah.”“Terima kasih." Cakra menerimanya. Aroma jahe dan kencur memenuhi hidung. Sebagai mantanperawat IGD, dia terbiasa memperhatikan kondisi pasien.Tubuh ini baru saja mengalami sesuatu yang mencurigakan, jadi diamengendus ramuan itu lebih lama dari wajar sebelum akhirnya menyeruputnya.Rasanya normal. Pedas dan hangat seperti pada umumnya.“Ap
BAB 2Jeritan cempreng Ratih masih terngiang di telinga Cakra, disusul suara grasak-grusuk puluhan sandal pelayan dari arah serambi.Dan yang lebih memalukan lagi, suara wanita itu dengan riang menceritakan detail ranjang mereka kepada siapa pun yang mau dengar.“Ya ampun. Bikin malu aja,” gerutu Cakra sambil buru-buru merapikan kain sarungnya, wajahnya masih panas mengingat kejadian barusan.Belum sempat dia mencerna bagaimana caranya mati lalu terbangun di zaman kerajaan, sekarang dia harus menghadapi lima istri seorang pangeran. Dan satu di antaranya baru saja mengumumkan urusan ranjang mereka ke seantero paviliun.Tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang berhenti tepat di ambang pintu. Cakra mengangkat wajah, menatap asal suara itu.Seorang wanita bergaun ungu bersulam benang perak berdiri di sana, punggung lurus, dagu sedikit terangkat, menatap Cakra dari ujung kepala sampai kaki.“Salam hormat untuk Pangeran Cakrabuana,” ucapnya, menangkupkan kedua tangan di depan dada.Da
Saat terbangun, tiba-tiba Cakra melihat seorang gadis cantik sedang berada di sisinya!“Kanda Cakrabuana, kenapa kamu masih belum sadar?”Teriakan heboh itu menjadi hal pertama yang menyambut kesadaran Cakra saat kelopak matanya perlahan terbuka. Pemuda itu mengerjap beberapa kali, dan berusaha mencerna sekelilingnya. Ia berada di kamar luas beraroma melati, berbaring di atas ranjang kayu jati berukir, dan ada seorang wanita cantik yang duduk di sampingnya dengan wajah terkejut sekaligus geli.“Kanda kenapa bisa secepat itu?” Ratih menutup mulutnya sendiri, matanya masih membelalak nggak percaya. “Aku bahkan belum apa-apa, tau-tau udah selesai duluan!”“Hah?” Cakra mengerutkan dahi, kepalanya masih terasa berat dan telinganya berdenging. “Apa maksudmu?”“Ih, Kanda ini pura-pura lupa, ya?” Ratih terkikik, sembari menyeka tangannya sendiri dengan ujung selimut. Cakra semakin bingung. Kepalanya berdenyut, dan dia sama sekali tidak punya ingatan tentang apa yang baru saja terjadi.“Aku .







