Di puncak tebing, jauh di atas udara kotor dan jalanan berlumpur Distrik Bawah, Kastil Adiwangsa berdiri congkak menantang langit malam. Namun, di dalam Ruang Takhta yang diterangi ratusan lilin abadi, keheningan yang mencekik mengalahkan kemegahan ruangan tersebut. Paman Varian duduk di singgasana yang terbuat dari lelehan pedang para musuh leluhur. Wajahnya yang dihiasi bekas luka bakar kini tampak mengeras, menatap tajam ke arah patahan pedang baja yang tergeletak di atas karpet beludru merah di hadapannya. Komandan Kael berlutut di tengah ruangan. Zirahnya penyok, wajahnya pucat karena kelelahan, dan harga dirinya telah hancur berkeping-keping. Di belakangnya, selusin ksatria elit Ignis yang tersisa berdiri menunduk sebagian ditandu, sebagian lagi kehilangan anggota gerak. "Jadi, biarku luruskan cerita menggelikan ini, Kael," suara Varian rendah, namun memancarkan bahaya yang mematikan. Pria paruh baya itu bangkit dari singgasananya, melangkah pelan menuruni tangga pualam.
Last Updated : 2026-09-23 Read more