เข้าสู่ระบบSisa-sisa tirai magis yang mengelilingi tenda raksasa itu hancur berkeping-keping layaknya kaca tipis yang dilempar batu. Ribuan prajurit Garda Matahari berseragam emas dan putih merangsek masuk, senjata mereka ditarik penuh, siap membakar apa pun yang ada di dalam. Namun, langkah mereka terhenti serentak. Pemandangan di depan mereka membekukan aliran darah setiap ksatria elit tersebut. Inkuisitor Agung Valerius, salah satu entitas paling ditakuti di Kekaisaran Pusat, tergeletak tak bernyawa dengan dada berlubang. Darah keemasannya menggenangi lantai pualam. Dan berdiri di atas mayatnya, adalah seorang pemuda berjubah kulit compang-camping, menggendong seorang gadis tak sadarkan diri di bahu kirinya. Lengan kanan pemuda itu kini terbungkus sarung tangan obsidian raksasa yang memancarkan pendar ungu mematikan. "I-Inkuisitor Agung..." salah satu komandan garda tergagap, wajahnya pucat pasi di balik helmnya. Matanya beralih menatap Kaelen. "Bunuh dia! Cincang tubuhnya sampai habis
Tenda raksasa itu bergetar hebat, bukan karena badai di luar, melainkan karena tekanan energi dari Inkuisitor Agung Valerius. Enam sayap cahaya di punggungnya mengepak pelan, memancarkan gelombang Aura Suci yang begitu pekat hingga membuat Lyra jatuh berlutut. Udara di dalam ruangan itu terasa setajam silet, mengiris paru-paru setiap kali dihirup. "Kau bersembunyi di balik ketiadaan, Kaelen," suara Valerius menggema dari segala arah, seringai arogan tak lepas dari bibirnya. "Tapi di hadapan cahaya murni Sang Kaisar, ketiadaan pun akan terbakar." Valerius mengayunkan tongkatnya. Bukan proyektil atau bola api yang keluar, melainkan kilatan cahaya yang bergerak secepat kilat itu sendiri. Kaelen secara insting menyilangkan kedua lengannya di depan wajah, memusatkan Domain Null untuk menangkis. BLAAAR! Ledakan cahaya menghantam Kaelen dengan kekuatan yang melempar pemuda itu hingga menabrak dinding magis tenda. Suara daging yang melepuh terdengar mengerikan. Jubah Kaelen hancur di
Lonceng peringatan bergema membelah malam, suaranya lebih tajam daripada rentetan senapan mesin. Lampu-lampu sorot magis yang tadinya memancarkan cahaya putih kini berubah menjadi merah darah, menyapu seluruh area sektor terdalam bagai mata iblis raksasa yang mencari mangsa."Rencana siluman dibatalkan!" teriak Lyra. Tanpa membuang waktu satu detik pun, ia melemparkan bom asap beracun yang sedari tadi digenggamnya ke arah jembatan.BUM!Asap hijau pekat meledak, menelan keempat Inkuisitor yang menjaga penghalang cahaya. Namun, pasukan elit Kekaisaran Pusat itu bukanlah kroco jalanan dari Distrik Bawah. Dari dalam kepulan asap, pendar cahaya putih yang membutakan menyala terang, membakar habis partikel racun itu seketika. Topeng perak mereka sama sekali tidak tertembus asap."Biar kutebak, racun tidak mempan terhadap orang suci?!" rutuk Lyra, melompat mundur sambil mencabut kedua belatinya."Mundur, Lyra. Mereka milikku," suara Kaelen terdengar menggema, berat, dan tanpa sedikit pun ke
Kekaisaran Pusat tidak pernah bergerak tanpa kepastian absolut. Melihat puluhan ribu pasukan Garda Matahari berkemah di dasar Kawah Hitam, Silas tahu bahwa titah dari Sang Kaisar Agung bukan sekadar pencarian buta. Mereka tahu persis apa yang terkubur di bawah sana. "Ini bunuh diri," Silas memijat pelipisnya, menatap layar radarnya yang kini dipenuhi titik merah tak terhitung jumlahnya. "Kaelen, mereka itu Garda Matahari. Mereka bukan ksatria klan bangsawan biasa yang mengandalkan sihir elemen. Mereka adalah pasukan elit langsung di bawah komando Kaisar. Senjata mereka dilapisi Aura Suci energi murni yang dirancang untuk membakar apa pun yang menyerapnya. Jika kau mencoba menelan serangan mereka, artefak di dadamu akan kelebihan beban dalam hitungan detik." Lyra menyipitkan mata, menatap kamp militer raksasa di bawah dari balik teropong jarak jauhnya. "Bukan cuma itu. Lihat kapal-kapal yang bersandar di tebing. Itu bukan kapal layar udara milik Klan Angin. Itu Dreadnought berten
Mesin uap raksasa itu mengaum parau, membelah kesunyian padang gurun yang membentang tanpa batas. Kendaraan itu dulunya adalah pengangkut bijih besi raksasa dari tambang Sektor Empat, namun mekanik Rexor telah merombaknya dalam waktu semalam. Lambungnya kini dilapisi pelat baja setebal tiga inci, jendelanya diganti dengan celah pandang berlapis kaca anti-peluru, dan cerobongnya terus memuntahkan asap hitam pekat yang langsung tersapu oleh angin kering padang belantara. Mereka telah meninggalkan perbatasan wilayah Klan Adiwangsa sejak tiga hari yang lalu, melaju terus ke arah barat menjauhi peradaban. Di dalam kabin yang pengap dan berbau oli terbakar, Lyra mengemudikan monster besi itu dengan kedua tangan mencengkeram kemudi yang berat. Peluh membasahi dahi gadis itu. Mengemudi melintasi Gurun Abu, zona transisi menuju Kawah Hitam, bukanlah tugas untuk mereka yang bermental lemah. Tidak ada jalan setapak. Hanya lautan pasir kelabu, bongkahan batu obsidian sebesar rumah, dan bad
Sebelas Sky-Galleon yang tersisa menggantung membeku di udara. Awan badai yang mereka bawa kini terasa seperti kain kafan yang menyelimuti armada mereka sendiri. Dari atas geladak kapal-kapal itu, para ksatria Klan Aero menatap horor ke bawah, menyaksikan kapal bendera kebanggaan mereka hancur, dan kapten mereka tewas di tangan satu manusia tanpa elemen. Kepanikan menyebar dengan cepat bagai api liar. "Fokuskan seluruh meriam angin ke bangkai kapal utama!" Terdengar raungan perintah dari kapal kedua yang kini mengambil alih komando. "Tembakkan meriam Aero-Burst! Ratakan pemakan dewa itu menjadi debu!" Puluhan laras meriam magis dari sebelas kapal yang melayang itu serentak menyala hijau menyilaukan, mengunci target tepat ke arah Kaelen yang masih berdiri di atas geladak kapal yang hancur. Di pelataran bawah, Komandan Kael memucat. "Dia tidak akan bisa menelan tembakan meriam sebanyak itu sekaligus! Rexor, tembakkan rantai penarik lagi!" "Rantainya putus saat bantingan tadi, Pak







