Share

Bab 2

Author: Weni
Malam berikutnya, Pengasuh Ratih yang berada di sisi kakakku datang membawa lencana izin keluar dari kediaman.

“Nyonya Selir, kereta sudah menunggu di Gerbang Barat.”

“Putri Mahkota berpesan, setelah Yang Mulia sudah tidak marah lagi, beliau akan menjemput Anda kembali.”

Aku tidak membawa barang bawaan.

Aku hanya membawa sebuah tusuk konde perak peninggalan ibu serta taring harimau yang sudah retak itu.

Begitu keluar dari kediaman Putra Mahkota, barulah aku benar-benar menghela napas lega.

Aku menyibak tirai kereta dan menatap gerbang merah yang perlahan menghilang di kejauhan.

Tujuh tahun lalu, aku datang ke tempat ini sambil menangis.

Dan setelah tujuh tahun kemudian, akhirnya aku bisa meninggalkannya atas kemauanku sendiri.

Namun kereta itu tidak menuju kediaman Keluarga Dipta.

Kereta justru berbelok ke jalan yang sepi dan masuk ke sebuah gang terpencil.

Jantungku seketika menegang.

“Berhenti!”

Kusir tidak menjawab.

Sesaat kemudian, pintu kereta ditarik paksa dari luar.

Seorang pria yang bau alkoholnya menyengat menerobos masuk dan langsung mencengkeram kerah bajuku.

“Cantik, jangan pura-pura lagi.”

“Kamu sudah memberiku uang. Kamu memang memanggilku untuk melayanimu, ‘kan?”

Aku mencabut tusuk konde perak itu dan langsung menusukkannya sekuat tenaga ke punggung tangannya.

Pria itu menjerit kesakitan, lalu menamparku hingga aku terjatuh.

Punggungku membentur dinding kereta. Dadaku terasa seperti disobek dari dalam.

Aku memuntahkan seteguk darah.

Tiba-tiba, ujung gang diterangi kobaran api yang membentang luas.

Suara derap kaki kuda terdengar semakin mendekat.

Pintu kereta kembali dibuka seseorang dari luar.

Sagara berdiri di sana. Separuh wajahnya tersembunyi di balik cahaya obor, sementara tatapannya begitu dingin hingga membuatku bergidik.

Dia menerima surat rahasia yang mengatakan bahwa aku melarikan diri bersama kekasih lamaku.

Awalnya, dia tidak memercayai sepatah kata pun.

Namun, saat melihatku dengan pakaian yang berantakan dan liontin giok miliknya berada di tangan pria itu, keyakinannya mulai goyah.

Liontin giok itu diberikan Sagara kepadaku ketika dia berusia tujuh belas tahun.

Pada permukaannya terukir huruf “S”.

Tangannya mencengkeram pintu kereta begitu erat.

“Kanaya, apa ini?”

Aku sendiri tidak tahu bagaimana liontin giok itu bisa sampai berada di dada pria tersebut.

Padahal, aku jelas-jelas menyimpannya di bagian paling bawah kotak rias.

Pria itu tiba-tiba berlutut.

“Yang Mulia, ampuni nyawa hamba!”

“Nyonya Selir yang mengajak hamba melarikan diri. Katanya, di hati Yang Mulia cuma ada Putri Mahkota. Dia sudah lama muak dengan semua ini!”

Sagara langsung menendangnya hingga terlempar keluar dari kereta.

Para pengawal segera menahan pria itu, tetapi Sagara tidak lagi meliriknya.

Dia hanya menatapku.

“Kalau kau mau kembali ke Keluarga Dipta, kau bisa bilang padaku.”

“Memangnya aku pernah melarangmu?”

Aku menahan rasa sakit yang menusuk di dada.

“Aku sudah pernah bilang.”

“Kau tidak mendengarkannya.”

Amarah bergolak di mata Sagara.

“Jadi, kau mencari seorang pria, membawa liontin giok yang kuberikan kepadamu, lalu melarikan diri bersamanya?”

“Kanaya, apa aku terlalu memanjakanmu?”

Saat itu, kakakku baru bergegas datang.

Dia hanya mengenakan jubah tipis. Begitu melihat keadaan di depannya, wajahnya seketika memucat.

“Kanaya, aku cuma minta seseorang mengantarmu kembali ke Keluarga Dipta.”

“Bagaimana bisa kamu ....”

Kalimatnya terhenti di tengah jalan, matanya mulai memerah.

Pengasuh Ratih juga berlutut.

“Yang Mulia, hamba tua ini melihat sendiri Nyonya Selir menyerahkan liontin giok itu kepada pria ini.”

“Dia juga berkata, begitu keluar dari ibu kota, dia akan hidup bersama pria itu seumur hidup.”

Aku menatap kakak.

“Kau yang menyiapkan kereta ini.”

Tubuh kakak terhuyung, air matanya pun jatuh.

“Kanaya, kalau kamu menyalahkanku karena aku sudah punya anak, lalu melampiaskan amarahmu kepadaku, aku tidak akan mempermasalahkannya.”

“Tapi, bagaimana bisa kamu menggunakan hal seperti ini untuk memfitnahku?”

Sagara mengulurkan tangan untuk menopangnya.

Saat kembali menatapku, yang tersisa di matanya hanyalah amarah yang tertahan.

“Cukup.”

“Demi mengantarmu pulang, Indira nyaris menanggung hukuman karena membiarkan kau keluar dari kediaman.”

“Sekarang kau masih mau menimpakan kesalahan kepadanya?”

Aku tidak menjelaskan apa-apa lagi.

Sagara mengangkatku sendiri turun dari dalam kereta.

Gerakannya tetap sangat lembut.

Namun, suara yang terdengar di dekat telingaku justru sedingin es.

“Kanaya, aku bisa membiarkanmu bertindak semaumu.”

“Tapi untuk yang satu ini, tidak bisa.”

Setelah kembali ke kediaman, dia membawaku ke aula leluhur.

Tiga puluh pukulan hukuman dijatuhkan, tetapi aku tidak sekalipun memohon ampun.

Saat pukulan kedua belas dijatuhkan, darah sudah membasahi pakaianku.

Sagara tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangan orang yang menjalankan hukuman.

“Berhenti.”

Dia menghampiriku dan berjongkok di hadapanku.

“Kalau kau mau mengakui bahwa kejadian hari ini hanyalah salah paham, aku akan membawamu kembali.”

Aku mengangkat wajahku dan menatapnya.

“Apa pun yang ingin Yang Mulia dengar, akan kukatakan.”

Wajahnya perlahan menjadi semakin muram.

“Kau masih tidak mau mengakui kesalahanmu.”

Aku tersenyum.

Di mana letak kesalahanku?

Apakah karena aku percaya kepada kakakku, atau karena aku percaya bahwa setidaknya dia akan mau mendengarkan penjelasanku sekali?

Sagara berdiri dan meninggalkanku di aula leluhur.

Sesampainya di pintu, dia berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Kanaya.”

“Selama bertahun-tahun ini, kau membuatku merasa bahwa semua kelonggaran yang kuberikan padamu ternyata hanya jadi bahan lelucon.”

Pintu tertutup di depan mataku.

Aku tidak sanggup menahan tubuhku lagi. Aku tersungkur ke lantai dan memuntahkan banyak darah hitam.

Ternyata, di matanya, ketulusanku selama tujuh tahun ini juga tidak lebih dari sebuah lelucon.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 10

    Setelah dibawa ke Pengadilan Kerajaan, Indira baru menyadari bahwa kehamilannya tidak membuatnya mendapatkan pengampunan.Anak yang dikandungnya pada akhirnya tidak dapat diselamatkan.Tabib istana mengatakan bahwa rasa cemas dan takut yang berlebihan telah membuat kandungannya terguncang parah.Mengingat jasa Keluarga Dipta, Kaisar tidak menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Gelarnya dicabut, lalu dia dikurung di kediaman terpencil dan dilarang meninggalkan tempat itu seumur hidup.Pengasuh Ratih, pengelola ruang obat, serta orang-orang yang terlibat dalam rencana pelarian itu semuanya dihukum sesuai kejahatan masing-masing.Tabib istana yang menyembunyikan kondisi penyakitnya dipecat dari jabatannya dan diasingkan.Setelah itu, Kalingga dan kedua adiknya tinggal bersama Keluarga Dipta untuk mendapatkan pengasuhan.Pada hari mereka pergi, Kalingga memeluk erat busur kecil yang telah diperbaiki itu. Setiap beberapa langkah, dia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada lagi yang tersenyum da

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 9

    Sebelum Kanaya dimakamkan, Ratna kembali ke Istana Timur.Dia meletakkan sebuah busur kecil yang masih berlumuran lumpur di hadapan Sagara.“Ini diambil dari dalam kolam.”Busur itu sudah mengembang karena terlalu lama terendam air. Di permukaannya, terukir nama Kalingga dengan tulisan yang miring dan berantakan.Sagara mengenalinya. Itu ukiran tangan Kanaya.Sejak kecil, Kanaya memang suka mengukir sesuatu pada anak panah milik Sagara. Kadang-kadang namanya sendiri, kadang pula gambar kelinci yang bentuknya jauh dari bagus.Namun setelah menikah dan tinggal di Istana Timur, dia tidak pernah lagi menyentuh busur maupun anak panah.Bukan karena dia sudah tidak bisa menggunakannya.Dia hanya mengalihkan sedikit harapan itu kepada anak-anak Sagara.Sagara kemudian pergi ke kediaman Kanaya.Ruang itu benar-benar kosong.Cambuk kudanya terselip di dasar peti, busur dan anak panah sudah lama berdebu. Sementara di dalam lemari, hanya tersisa pakaian-pakaian yang anggun tetapi terkesan suram.

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 8

    Saat fajar tiba, Keluarga Dipta datang.Jenderal Besar Bathara tidak mengenakan pakaian resmi, melainkan hanya zirah lamanya.Itu adalah zirah yang dikenakannya saat berperang di perbatasan.Dia masuk ke kamar tidur. Begitu melihat putri bungsunya terbaring di atas dipan, langkahnya tiba-tiba terhenti.Pada hari Kanaya menikah, dia juga pernah berdiri di tempat ini.Saat itu, Kanaya menangis sambil memeluk lengannya dan berkata bahwa dia tidak ingin berbagi suami dengan kakaknya.Namun, titah Kaisar sudah ditetapkan.Keluarga Dipta bahkan telah menyerahkan setengah kekuasaan atas pasukan mereka, tetapi tetap tidak bisa menukar kembali kebebasan yang diinginkan putrinya.Jenderal Besar Bathara berjalan ke sisi dipan dan menyibak helaian rambut yang berantakan dari wajah putrinya.Dia terdiam cukup lama, hingga akhirnya berkata dengan suara serak, “Ayah datang terlambat.”Sagara berlutut di luar ruangan.Saat Jenderal Besar Bathara keluar, Sagara segera mengulurkan tangan hendak membantu

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 7

    Wajah Indira seketika pucat.“Apa maksud Yang Mulia?”Dia memaksakan seulas senyum.“Kanaya itu adik kandungku. Mana mungkin aku mencelakainya?”“Pengurus ruang obat dan tabib istana sudah mengaku.”Sagara berjalan mendekatinya, selangkah demi selangkah.“Haruskah aku membawa Pengasuh Ratih kemari juga?”Kepanikan sempat melintas di mata Indira, tetapi dia segera menenangkan diri.“Mungkin Pengasuh Ratih bertindak atas kemauannya sendiri.”“Dia selalu khawatir Kanaya akan melahirkan seorang putra dan mengancam kedudukan Kalingga. Aku tidak pernah menyuruhnya mencelakai siapa pun.”Dari luar pintu terdengar suara rantai besi yang diseret di lantai.Pengasuh Ratih dibawa masuk oleh para pengawal.Baru sepuluh pukulan dijatuhkan, dia sudah mengakui semuanya.Obat pemutus keturunan itu diberikan atas perintah Indira.Tabib istana itu diancam olehnya.Bahkan kereta yang masuk ke gang sepi itu juga sudah dia siapkan sebelumnya.Setelah mendengar semuanya, wajah Sagara tetap tanpa ekspresi.“

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 6

    Saat Ratna dibawa masuk ke kamar tidur, dia mendekap sebuah kotak kayu di dadanya.Begitu melihat Kanaya di atas dipan, kedua kakinya langsung lemas dan berlutut di lantai.“Nyonya ....”Sagara mengangkat matanya yang memerah.“Apa ini?”Ratna memeluk erat kotak kayu itu.“Ini barang-barang yang Nyonya minta hamba kembalikan ke Keluarga Dipta.”Ketika tutup kotak dibuka, di dalamnya terdapat perhiasan yang selama bertahun-tahun diberikan Sagara kepada Kanaya.Setiap perhiasan telah dibersihkan hingga mengilap. Di sampingnya juga terdapat sebuah buku catatan.Tahun dan waktu pemberiannya, beserta harganya, semuanya tercatat dengan sangat jelas.Seolah-olah dia ingin memperhitungkan dengan jelas segala keterikatan yang telah terjalin di antara mereka selama tujuh tahun.Sagara membalik hingga ke halaman terakhir, tetapi tidak menemukan taring harimau itu.“Di mana taring harimaunya?”Ratna menatapnya sambil menangis.“Nyonya membakarnya.”Sagara menundukkan kepala dan meraba pinggangnya.

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 5

    Saat Sagara tiba di kandang kuda, Kanaya sedang bersandar pada tubuh Seta.Tubuhnya tertutup selapis salju tipis. Wajahnya tampak tenang, seperti hanya kelelahan setelah berlari, lalu bersandar pada sahabat lamanya untuk tidur sejenak.“Kanaya.”Sagara berjalan mendekat dan menyentuh wajahnya.Ujung jarinya seketika terasa dingin membeku.Dia segera menarik tangannya. Namun, beberapa saat kemudian, dia membungkuk dan mengangkat Kanaya ke dalam pelukannya.“Panggil tabib istana.”Pengawal itu berlutut di atas salju dan tidak berani mengangkat kepala.“Yang Mulia, tabib istana sudah memeriksanya, Nyonya Selir ....”“Aku menyuruhmu panggil tabib istana!”Sagara memotong ucapannya dengan suara menggelegar.Tubuh yang ada dalam pelukannya terasa begitu ringan.Saat membawanya melewati selasar, Sagara baru menyadari betapa ringan tubuhnya, hampir tidak berbobot.Tujuh tahun lalu, ketika dia menggendong Kanaya memasuki kediaman Putra Mahkota, Kanaya masih akan merangkul lehernya sambil meront

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status