Share

Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur
Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur
Author: Weni

Bab 1

Author: Weni
Setelah tabib istana pergi, aku meminta Ratna membuang semangkuk obat itu.

Ratna menahanku dengan mata memerah.

“Nyonya, bagaimana kalau diagnosis tabib istana ternyata salah?”

“Kalau begitu, biarlah ini jadi terakhir kalinya aku bertindak sesuka hati.”

Selama tujuh tahun terakhir, aku memang tidak pernah berhenti bertindak sesuka hati.

Lucunya, sekarang ketika semuanya benar-benar akan berakhir, aku bahkan sudah tidak punya tenaga untuk membalik mangkuk obat itu sendiri.

Aku membuka kotak rias dan mengeluarkan satu per satu barang yang pernah diberikan Sagara kepadaku.

Ada mutiara dari Laut Selatan, batu delima dari Kawasan Barat, juga taring harimau yang dibawanya pulang dari medan perang saat aku berusia enam belas tahun.

Saat itu, dia memasangkan taring itu di leherku sambil tersenyum dan berkata, “Kanaya Dipta, pakai ini. Selama kamu memakainya, tidak akan ada yang berani macam-macam denganmu di ibu kota.”

Baru belakangan aku menyadari satu hal.

Orang yang paling menyakitiku justru adalah dia.

Aku meminta Ratna mencatat semua barang itu, lalu mengembalikannya ke kediaman depan.

Hanya taring harimau itu yang kusimpan.

Ratna menyeka air matanya dan bertanya, “Nyonya, masih berat melepaskannya?”

Aku mengusap retakan pada taring itu.

“Bukan.”

“Hanya saja benda ini tidak berharga. Kalau dikembalikan, toh cuma akan penuhi tempat.”

Sore itu, aku pergi ke kediaman kakakku.

Ketiga anaknya sedang berlatih memanah di bawah selasar.

Kalingga Mahawira, putra pertama Sagara dan kakakku, sudah berusia enam tahun. Alis dan matanya sangat mirip dengan Sagara.

Aku menyerahkan busur kecil yang kubuat semalaman kepadanya.

“Cobalah. Ini ringan, cocok untukmu.”

Kalingga tidak mengambilnya.

Dia menatapku, lalu tiba-tiba bertanya, “Bibi juga mau punya anak laki-laki, ‘kan?”

Suasana di halaman seketika hening.

Pengasuh yang berdiri di sisi kakakku menundukkan kepala, tetapi sudut bibirnya justru tampak menahan senyum.

Aku berjongkok.

“Siapa yang mengajarimu bicara begitu?”

Kalingga mengerucutkan bibirnya.

“Pengasuh bilang Bibi tidak bisa punya anak sendiri, makanya Bibi selalu datang ganggu kami.”

“Katanya Bibi juga mau merebut Ayah dari kami sampai Ibu sakit karena marah.”

Dia meraih busur kecil itu, lalu melemparkannya sekuat tenaga ke dalam kolam.

“Aku tidak mau barangmu!”

Busur kecil itu menghantam lapisan es tipis hingga pecah, lalu tenggelam.

Aku memandanginya cukup lama, tetapi anehnya, aku tidak merasa terlalu sedih.

Mungkin, bagian hatiku yang bisa merasa sakit sudah lama tidak lagi merasakan apa-apa.

Saat aku baru hendak pergi, suara Sagara terdengar dari belakang.

“Kanaya.”

Dia baru saja kembali dari istana. Jubahnya yang hitam pekat masih diselimuti salju di bahu.

Kalingga segera berlari menghampirinya dan memeluk kakinya.

“Ayah, Bibi memarahiku!”

Sagara lebih dulu mengusap kepala Kalingga, lalu menatapku.

“Kenapa kamu harus mempermasalahkan hal seperti itu dengan anak kecil?”

Aku tersenyum.

“Aku tidak mempermasalahkannya.”

“Lalu, ada apa dengan busur itu?”

“Aku mau berikan padanya, tapi dia tidak suka.”

Alis Sagara sedikit berkerut. Ekspresinya mengingatkanku pada saat-saat dulu ketika dia membereskan masalah yang kubuat, selalu dengan wajah tak berdaya.

“Kalau kamu suka anak-anak, aku bisa minta Kalingga dan yang lainnya sering datang ke kediamanmu untuk menemanimu.”

“Untuk apa menggunakan barang-barang kecil seperti ini demi mengambil hati mereka?”

“Kalau Indira sampai tahu, dia juga akan merasa tidak enak.”

Selama tujuh tahun, dia selalu seperti ini.

Dia membereskan masalah yang kubuat, lalu memberitahuku bahwa kakakku telah diperlakukan tidak adil.

Seolah apa pun yang kulakukan, aku selalu dianggap sedang bersaing dengan kakakku.

Aku mengangguk.

“Mulai sekarang tidak akan lagi.”

Dia sempat terdiam, raut wajahnya terlihat seperti tidak menyangka aku akan menurut begitu saja.

Saat itu, Ratna datang membawa kotak kayu yang penuh dengan perhiasan.

Sagara meliriknya sekilas, lalu wajahnya menggelap.

“Ini mau diapakan lagi?”

Aku menjawab dengan datar.

“Barangnya terlalu banyak dan tidak terpakai. Mau dikembalikan ke gudang.”

“Kanaya.”

Suaranya terdengar lebih dingin.

“Indira cuma hamil lagi. Kamu tidak perlu sampai bersikap seperti ini.”

Aku menatapnya dan tiba-tiba merasa sangat lelah.

“Yang Mulia tidak perlu khawatir. Aku tidak berniat bersaing dengan Kakak.”

“Mulai sekarang, aku tidak akan bersaing lagi.”

Sagara menatapku beberapa saat, lalu mengulurkan tangan untuk merapatkan jubahku.

Gerakannya masih sama seperti biasanya.

Namun, nadanya terdengar seperti sedang membujuk seorang anak yang sedang mengamuk.

“Kembalilah ke kediamanmu. Jangan berkeliaran lagi.”

“Kalau nanti kamu sudah memikirkannya baik-baik, aku akan datang menemuimu.”

Aku menghindari tangannya.

“Yang Mulia tidak perlu datang lagi.”

Wajahnya seketika menjadi muram.

Saat dia hendak berbicara, kakakku keluar dari dalam dengan dibantu seorang pelayan.

“Yang Mulia, jangan marah. Mungkin Kanaya sedang rindu rumah,” bujuknya dengan suara lembut.

Kakakku menghampiriku dan menggenggam tanganku dengan penuh kasih.

“Kalau Adik memang mau kembali ke Keluarga Dipta dan tinggal beberapa hari, aku bisa mengaturnya.”

“Hanya saja, Yang Mulia sedang marah sekarang. Untuk sementara, jangan beri tahu dia dulu.”

Aku mendongak menatapnya.

Kakakku tersenyum lembut seperti biasanya.

“Kita adalah saudari kandung.”

“Kakak tidak mungkin mencelakaimu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 10

    Setelah dibawa ke Pengadilan Kerajaan, Indira baru menyadari bahwa kehamilannya tidak membuatnya mendapatkan pengampunan.Anak yang dikandungnya pada akhirnya tidak dapat diselamatkan.Tabib istana mengatakan bahwa rasa cemas dan takut yang berlebihan telah membuat kandungannya terguncang parah.Mengingat jasa Keluarga Dipta, Kaisar tidak menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Gelarnya dicabut, lalu dia dikurung di kediaman terpencil dan dilarang meninggalkan tempat itu seumur hidup.Pengasuh Ratih, pengelola ruang obat, serta orang-orang yang terlibat dalam rencana pelarian itu semuanya dihukum sesuai kejahatan masing-masing.Tabib istana yang menyembunyikan kondisi penyakitnya dipecat dari jabatannya dan diasingkan.Setelah itu, Kalingga dan kedua adiknya tinggal bersama Keluarga Dipta untuk mendapatkan pengasuhan.Pada hari mereka pergi, Kalingga memeluk erat busur kecil yang telah diperbaiki itu. Setiap beberapa langkah, dia menoleh ke belakang, tetapi tidak ada lagi yang tersenyum da

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 9

    Sebelum Kanaya dimakamkan, Ratna kembali ke Istana Timur.Dia meletakkan sebuah busur kecil yang masih berlumuran lumpur di hadapan Sagara.“Ini diambil dari dalam kolam.”Busur itu sudah mengembang karena terlalu lama terendam air. Di permukaannya, terukir nama Kalingga dengan tulisan yang miring dan berantakan.Sagara mengenalinya. Itu ukiran tangan Kanaya.Sejak kecil, Kanaya memang suka mengukir sesuatu pada anak panah milik Sagara. Kadang-kadang namanya sendiri, kadang pula gambar kelinci yang bentuknya jauh dari bagus.Namun setelah menikah dan tinggal di Istana Timur, dia tidak pernah lagi menyentuh busur maupun anak panah.Bukan karena dia sudah tidak bisa menggunakannya.Dia hanya mengalihkan sedikit harapan itu kepada anak-anak Sagara.Sagara kemudian pergi ke kediaman Kanaya.Ruang itu benar-benar kosong.Cambuk kudanya terselip di dasar peti, busur dan anak panah sudah lama berdebu. Sementara di dalam lemari, hanya tersisa pakaian-pakaian yang anggun tetapi terkesan suram.

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 8

    Saat fajar tiba, Keluarga Dipta datang.Jenderal Besar Bathara tidak mengenakan pakaian resmi, melainkan hanya zirah lamanya.Itu adalah zirah yang dikenakannya saat berperang di perbatasan.Dia masuk ke kamar tidur. Begitu melihat putri bungsunya terbaring di atas dipan, langkahnya tiba-tiba terhenti.Pada hari Kanaya menikah, dia juga pernah berdiri di tempat ini.Saat itu, Kanaya menangis sambil memeluk lengannya dan berkata bahwa dia tidak ingin berbagi suami dengan kakaknya.Namun, titah Kaisar sudah ditetapkan.Keluarga Dipta bahkan telah menyerahkan setengah kekuasaan atas pasukan mereka, tetapi tetap tidak bisa menukar kembali kebebasan yang diinginkan putrinya.Jenderal Besar Bathara berjalan ke sisi dipan dan menyibak helaian rambut yang berantakan dari wajah putrinya.Dia terdiam cukup lama, hingga akhirnya berkata dengan suara serak, “Ayah datang terlambat.”Sagara berlutut di luar ruangan.Saat Jenderal Besar Bathara keluar, Sagara segera mengulurkan tangan hendak membantu

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 7

    Wajah Indira seketika pucat.“Apa maksud Yang Mulia?”Dia memaksakan seulas senyum.“Kanaya itu adik kandungku. Mana mungkin aku mencelakainya?”“Pengurus ruang obat dan tabib istana sudah mengaku.”Sagara berjalan mendekatinya, selangkah demi selangkah.“Haruskah aku membawa Pengasuh Ratih kemari juga?”Kepanikan sempat melintas di mata Indira, tetapi dia segera menenangkan diri.“Mungkin Pengasuh Ratih bertindak atas kemauannya sendiri.”“Dia selalu khawatir Kanaya akan melahirkan seorang putra dan mengancam kedudukan Kalingga. Aku tidak pernah menyuruhnya mencelakai siapa pun.”Dari luar pintu terdengar suara rantai besi yang diseret di lantai.Pengasuh Ratih dibawa masuk oleh para pengawal.Baru sepuluh pukulan dijatuhkan, dia sudah mengakui semuanya.Obat pemutus keturunan itu diberikan atas perintah Indira.Tabib istana itu diancam olehnya.Bahkan kereta yang masuk ke gang sepi itu juga sudah dia siapkan sebelumnya.Setelah mendengar semuanya, wajah Sagara tetap tanpa ekspresi.“

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 6

    Saat Ratna dibawa masuk ke kamar tidur, dia mendekap sebuah kotak kayu di dadanya.Begitu melihat Kanaya di atas dipan, kedua kakinya langsung lemas dan berlutut di lantai.“Nyonya ....”Sagara mengangkat matanya yang memerah.“Apa ini?”Ratna memeluk erat kotak kayu itu.“Ini barang-barang yang Nyonya minta hamba kembalikan ke Keluarga Dipta.”Ketika tutup kotak dibuka, di dalamnya terdapat perhiasan yang selama bertahun-tahun diberikan Sagara kepada Kanaya.Setiap perhiasan telah dibersihkan hingga mengilap. Di sampingnya juga terdapat sebuah buku catatan.Tahun dan waktu pemberiannya, beserta harganya, semuanya tercatat dengan sangat jelas.Seolah-olah dia ingin memperhitungkan dengan jelas segala keterikatan yang telah terjalin di antara mereka selama tujuh tahun.Sagara membalik hingga ke halaman terakhir, tetapi tidak menemukan taring harimau itu.“Di mana taring harimaunya?”Ratna menatapnya sambil menangis.“Nyonya membakarnya.”Sagara menundukkan kepala dan meraba pinggangnya.

  • Tak Ada Lagi Musim Semi di Istana Timur   Bab 5

    Saat Sagara tiba di kandang kuda, Kanaya sedang bersandar pada tubuh Seta.Tubuhnya tertutup selapis salju tipis. Wajahnya tampak tenang, seperti hanya kelelahan setelah berlari, lalu bersandar pada sahabat lamanya untuk tidur sejenak.“Kanaya.”Sagara berjalan mendekat dan menyentuh wajahnya.Ujung jarinya seketika terasa dingin membeku.Dia segera menarik tangannya. Namun, beberapa saat kemudian, dia membungkuk dan mengangkat Kanaya ke dalam pelukannya.“Panggil tabib istana.”Pengawal itu berlutut di atas salju dan tidak berani mengangkat kepala.“Yang Mulia, tabib istana sudah memeriksanya, Nyonya Selir ....”“Aku menyuruhmu panggil tabib istana!”Sagara memotong ucapannya dengan suara menggelegar.Tubuh yang ada dalam pelukannya terasa begitu ringan.Saat membawanya melewati selasar, Sagara baru menyadari betapa ringan tubuhnya, hampir tidak berbobot.Tujuh tahun lalu, ketika dia menggendong Kanaya memasuki kediaman Putra Mahkota, Kanaya masih akan merangkul lehernya sambil meront

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status