Klakson membangunkannya. Tiga panjang, satu pendek.Tiga, lalu satu. Ragil kenal pola itu. Ketukan Mbah, dipinjam klakson Hilux.Ia tertidur di dipan dengan korek Mbah masih di genggaman. Gasnya habis menjelang subuh. Jempolnya melepuh, bulat dan bening, bekas memantik semalaman. Ia meniupnya, seperti dulu Mbah meniup lututnya tiap ia jatuh dari sepeda.Ia tidak ingat kapan suara-suara itu berhenti. Ia cuma ingat korek yang menyala, lalu padam, lalu ia pantik lagi, terus, sampai yang keluar cuma bunyi.Sebelum bangkit, ia menyebut namanya sendiri, pelan. "Ragil." Suaranya masih suaranya. Ia mengulanginya sekali lagi, untuk memastikan.Termometer: 35,2. Kemarin siang 35,3.Kotak nasi di bufet sudah basi. Gayung Mbah di sebelahnya masih terisi setengah.Hilux Juragan Harjo diparkir di tengah jalan lagi. Motor-motor yang mau ke tangki air harus naik ke teras Bu Sumi lagi.Harjo turun membawa beras Rojolele lima kilo, gula dua kilo, dan teh tubruk. Kemeja batiknya disetrika licin, kemeja
Zuletzt aktualisiert : 2026-10-05 Mehr lesen