"Aku cuma nyopir, Gil."Suara Sarno turun ke bawah. Ragil bisa mendengar punggungnya merosot di papan pintu sampai ia terduduk di teras."Juragan nyuruh nyopir, aku nyopir. Nggak pernah nanya isinya apa.""Nyopirin siapa?" tanya Ragil.Tidak dijawab. Yang terdengar cuma napas, basah, seperti orang bernapas lewat sedotan di dasar gelas."Haus," kata Sarno. "Tenggorokanku kering. Air, Gil. Dikit aja."Ragil menoleh ke bufet. Gayung batok Mbah ada di sana, setengah penuh, bening. Tangannya sudah setengah terangkat waktu Dodik menahan bahunya."Gayung itu buat orang mati," bisik Dodik.Ragil menurunkan tangan. Ia menempelkan dahi ke papan pintu, di tempat yang ia kira sejajar dengan kepala Sarno di luar."Maaf, Mas."Di luar, Sarno tertawa. Pendek. Sekali. Lalu ada bunyi air tumpah ke papan, banyak, seperti ember ditendang. Bau lumut menyelip lewat celah bawah pintu."Gi..." kata Sarno. "G
Last Updated : 2026-10-07 Read more