LOGINPesan terakhir Mbah Wiryo cuma satu: jangan Ragil yang memandikan jenazahnya. Tapi satu desa menolak menyentuh mayat pemandi jenazah yang sudah empat puluh tahun mengurus orang mati. Terlilit pinjol dan dicap "anak mayit" sejak kecil, Ragil terpaksa mengangkat siwur itu sendiri. Saat air pertama menyentuh kulit Mbah, tulisan aksara Jawa muncul di tubuh mayat itu. Salah satunya merayap pindah ke pergelangan tangan Ragil. Sejak malam itu, Ragil bisa membaca rahasia orang mati: cara mereka meninggal, utang yang belum lunas, dan nama asli yang disembunyikan. Tapi setiap membaca, suhu tubuhnya turun. Semakin dingin, semakin dekat dia dengan dunia yang seharusnya tidak ia lihat. Pocong mulai mengetuk pintu. Juragan keramba yang memelihara pesugihan mengincar pekarangan Mbah. Dan seorang dalang ruwat paling dihormati di Wonogiri tersenyum setiap kali menyebut nama Ragil. Kemarau tak kunjung reda. Waduk Gajah Mungkur terus surut. Dari dasar lumpurnya, muncul sebuah nisan tua. Nisan itu bertuliskan nama Ragil.
View MoreGaris itu sampai di nama Wiryo dan tidak berhenti.Pensilnya menebal saat melewati huruf pertama. Kertasnya melesak. Ragil bisa melihat cekungannya, seperti ada yang menekan terlalu keras dengan tangan yang sudah tidak yakin seberapa keras itu cukup. Garis itu menembus nama Mbah sampai ujung, lalu terangkat.Di ujung kanan muncul satu kata kecil. Huruf biasa, bukan huruf Jawa.*Lunas.*Hurufnya gemetar di tengah, di u dan n, tapi kuat di ujung. Huruf s terakhirnya ditarik panjang miring ke bawah, persis tanda tangan Mbah di rapor SD Ragil.Kinan dan Ragil sama-sama tidak bergerak. Seekor ayam masuk ke halaman sekolah, mematuk sesuatu di bawah ketapang, lalu pergi."Biasanya," kata Kinan akhirnya, "yang nyoret itu yang pegang pensil.""Iya.""Ini nggak ada yang pegang.""Iya, Nan. Aku lihat."Ragil tidak tahu harus lega atau tidak. Di warung Mas Tris, lunas artinya orangnya bebas, boleh ngutang
Gerendel itu hangat.Bab Besi di pintu dapur seharusnya dingin. Dapur Mbah tidak pernah kena matahari, dan dulu tiap kali demam Ragil menempelkan pipinya ke gerendel itu karena cuma benda itu yang dinginnya bisa diandalkan. Sekarang besinya hangat. Hangat tangan orang. Seperti baru dilepas seseorang yang menggenggamnya lama sekali dari sisi sebelah. Padahal gerendel cuma ada di sisi dalam. "Buka, Nak," kata suara itu. "Nanti Ibu ceritakan semuanya." Jempol Ragil sudah menggeser besi itu sepanjang satu ruas jari. Kinan berdiri di ambang ruang tengah. Tidak melarang, tidak mendekat. Lama sesudahnya Ragil masih ingat itu: Kinan cuma berdiri dan menunggu dia memilih sendiri. Ragil menarik jempolnya. "Maaf, Bu." Sepi. Lalu tawa kecil, tawa perempuan yang ditutup telapak tangan. Tawa itu memanjang, kemudian retak jadi dua. Yang satu berat dan serak, tawa laki-laki yang kebanyakan rokok. Yang satu lagi tipis, terlalu tinggi untuk orang dewasa. Mereka tertawa berbarengan tapi ti
Ember Mbah bunyinya salah.Ragil baru sadar waktu berlari mengejar tangki air dengan ember hitam bekas cat di tangan kanan, dan sopir tangki cuma menggeleng dari balik setir. "Habis, Mas. Sore lagi." Ragil berhenti di tengah jalan yang masih basah luberan keran. Ia mengetuk dinding ember dengan buku jari, kebiasaan lama, dan bunyinya *tuk*.Dulu bunyinya *dung*.Waktu umur tujuh, ember ini drum Ragil. Ia memukulnya pakai sendok sayur di bawah meja sampai Mbah pulang, dan Mbah tidak pernah marah soal itu. Cuma soal sendoknya yang bengkok.*Tuk.*Ia membalik ember itu di teras. Dari luar tidak ada yang aneh: hitam, retak halus di bibirnya, sisa cat tembok putih di pegangan. Empat puluh tahun Mbah menenteng ember ini pulang tiap habis memandikan mayat, dan Ragil tidak pernah sekalipun melongok ke dalamnya.Dasarnya terlalu tinggi. Dua jari lebih tinggi dari seharusnya.Ada piringan seng dipaku miring di sana, tepinya ditutup lakban hitam yang sudah mengeras. Ragil mengambil sendok makan
Selasa jatuh di jari manis.Ragil menghitungnya dua kali, jempol menekan ruas demi ruas di dalam saku celana, karena sekali tidak pernah cukup kalau yang dihitung itu hari. Sabtu, Minggu, Senin, Selasa. Kotak keenam di kalender Mbah."Kok bengong?" tanya Harjo. "Gampang, Gil. Tanda tangan, beres. Kamu pulang ke Jakarta naik bus yang AC-nya kenceng."Di depan rumah Bu Sumi, keran tangki air masih mengucur ke jeriken yang sudah penuh. Airnya luber, membasahi jalan, mengalir ke parit. Tidak ada yang menutupnya. Tujuh ibu sedang pura-pura sibuk dengan tutup jeriken masing-masing, dan semuanya mendengarkan.Ragil ingat Yanto.Yanto yang Kamis malam, waktu tahlilan pertama Mbah, duduk paling dekat pintu dengan kaus caleg kebesaran. Tiap kali Pak Mudakir berhenti menarik napas, Yanto ngedumel ke orang di sebelahnya dari samping mulut, bahasa Jawanya cepat dan kasar. Ragil, yang duduk dekat termos, cuma menangkap separuh.Tiga minggu, Mas. Sembilan ratus. Ditanya malah disuruh ngurus ikan bes
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.