LOGINGaris itu sampai di nama Wiryo dan tidak berhenti.
Pensilnya menebal saat melewati huruf pertama. Kertasnya melesak. Ragil bisa melihat cekungannya, seperti ada yang menekan terlalu keras dengan tangan yang sudah tidak yakin seberapa keras itu cukup. Garis itu menembus nama Mbah sampai ujung, lalu terangkat.Di ujung kanan muncul satu kata kecil. Huruf biasa, bukan huruf Jawa.*Lunas.*Hurufnya gemetar di tengah, di u dan n, tapi kuat di ujung. Huruf s teraKinan menguleg sambal seperti orang memarahi cobek.Cobek batu Mbah sudah tipis di tengah, tipis sekali sampai Ragil takut tembus kalau ulekannya mendarat terlalu keras. Kinan tidak peduli. Cabai rawit dari sakunya, garam kasar dari kaleng Khong Guan, terasi yang ia bakar sendiri di ujung tungku sampai Ragil bersin dua kali."Cobekmu kecil," katanya."Punya Mbah.""Cobek orang yang makan sendirian."Ragil tidak menjawab. Ia menyendok nasi dari dandang ke dua piring seng. Beras Harjo pulen dan wangi, lebih wangi dari beras apa pun yang pernah dimasak di dapur ini, dan itu membuatnya sedikit mual.Buku Mbah terbungkus sarung batik di atas dipan ruang tengah. Dari tadi tidak ada yang menyentuhnya. Seperti tamu yang belum disuguhi.Kinan makan pakai tangan, cepat, tanpa bicara. Ragil mengambil termometer dari saku dan menyelipkannya ke ketiak kiri sambil pura-pura menggaruk. Kinan melihat. Ia mengunyah, lalu menunjuk piring
Garis itu sampai di nama Wiryo dan tidak berhenti.Pensilnya menebal saat melewati huruf pertama. Kertasnya melesak. Ragil bisa melihat cekungannya, seperti ada yang menekan terlalu keras dengan tangan yang sudah tidak yakin seberapa keras itu cukup. Garis itu menembus nama Mbah sampai ujung, lalu terangkat.Di ujung kanan muncul satu kata kecil. Huruf biasa, bukan huruf Jawa.*Lunas.*Hurufnya gemetar di tengah, di u dan n, tapi kuat di ujung. Huruf s terakhirnya ditarik panjang miring ke bawah, persis tanda tangan Mbah di rapor SD Ragil.Kinan dan Ragil sama-sama tidak bergerak. Seekor ayam masuk ke halaman sekolah, mematuk sesuatu di bawah ketapang, lalu pergi."Biasanya," kata Kinan akhirnya, "yang nyoret itu yang pegang pensil.""Iya.""Ini nggak ada yang pegang.""Iya, Nan. Aku lihat."Ragil tidak tahu harus lega atau tidak. Di warung Mas Tris, lunas artinya orangnya bebas, boleh ngutang
Gerendel itu hangat.Bab Besi di pintu dapur seharusnya dingin. Dapur Mbah tidak pernah kena matahari, dan dulu tiap kali demam Ragil menempelkan pipinya ke gerendel itu karena cuma benda itu yang dinginnya bisa diandalkan. Sekarang besinya hangat. Hangat tangan orang. Seperti baru dilepas seseorang yang menggenggamnya lama sekali dari sisi sebelah. Padahal gerendel cuma ada di sisi dalam. "Buka, Nak," kata suara itu. "Nanti Ibu ceritakan semuanya." Jempol Ragil sudah menggeser besi itu sepanjang satu ruas jari. Kinan berdiri di ambang ruang tengah. Tidak melarang, tidak mendekat. Lama sesudahnya Ragil masih ingat itu: Kinan cuma berdiri dan menunggu dia memilih sendiri. Ragil menarik jempolnya. "Maaf, Bu." Sepi. Lalu tawa kecil, tawa perempuan yang ditutup telapak tangan. Tawa itu memanjang, kemudian retak jadi dua. Yang satu berat dan serak, tawa laki-laki yang kebanyakan rokok. Yang satu lagi tipis, terlalu tinggi untuk orang dewasa. Mereka tertawa berbarengan tapi ti
Ember Mbah bunyinya salah.Ragil baru sadar waktu berlari mengejar tangki air dengan ember hitam bekas cat di tangan kanan, dan sopir tangki cuma menggeleng dari balik setir. "Habis, Mas. Sore lagi." Ragil berhenti di tengah jalan yang masih basah luberan keran. Ia mengetuk dinding ember dengan buku jari, kebiasaan lama, dan bunyinya *tuk*.Dulu bunyinya *dung*.Waktu umur tujuh, ember ini drum Ragil. Ia memukulnya pakai sendok sayur di bawah meja sampai Mbah pulang, dan Mbah tidak pernah marah soal itu. Cuma soal sendoknya yang bengkok.*Tuk.*Ia membalik ember itu di teras. Dari luar tidak ada yang aneh: hitam, retak halus di bibirnya, sisa cat tembok putih di pegangan. Empat puluh tahun Mbah menenteng ember ini pulang tiap habis memandikan mayat, dan Ragil tidak pernah sekalipun melongok ke dalamnya.Dasarnya terlalu tinggi. Dua jari lebih tinggi dari seharusnya.Ada piringan seng dipaku miring di sana, tepinya ditutup lakban hitam yang sudah mengeras. Ragil mengambil sendok makan
Selasa jatuh di jari manis.Ragil menghitungnya dua kali, jempol menekan ruas demi ruas di dalam saku celana, karena sekali tidak pernah cukup kalau yang dihitung itu hari. Sabtu, Minggu, Senin, Selasa. Kotak keenam di kalender Mbah."Kok bengong?" tanya Harjo. "Gampang, Gil. Tanda tangan, beres. Kamu pulang ke Jakarta naik bus yang AC-nya kenceng."Di depan rumah Bu Sumi, keran tangki air masih mengucur ke jeriken yang sudah penuh. Airnya luber, membasahi jalan, mengalir ke parit. Tidak ada yang menutupnya. Tujuh ibu sedang pura-pura sibuk dengan tutup jeriken masing-masing, dan semuanya mendengarkan.Ragil ingat Yanto.Yanto yang Kamis malam, waktu tahlilan pertama Mbah, duduk paling dekat pintu dengan kaus caleg kebesaran. Tiap kali Pak Mudakir berhenti menarik napas, Yanto ngedumel ke orang di sebelahnya dari samping mulut, bahasa Jawanya cepat dan kasar. Ragil, yang duduk dekat termos, cuma menangkap separuh.Tiga minggu, Mas. Sembilan ratus. Ditanya malah disuruh ngurus ikan bes
Klakson membangunkannya. Tiga panjang, satu pendek.Tiga, lalu satu. Ragil kenal pola itu. Ketukan Mbah, dipinjam klakson Hilux.Ia tertidur di dipan dengan korek Mbah masih di genggaman. Gasnya habis menjelang subuh. Jempolnya melepuh, bulat dan bening, bekas memantik semalaman. Ia meniupnya, seperti dulu Mbah meniup lututnya tiap ia jatuh dari sepeda.Ia tidak ingat kapan suara-suara itu berhenti. Ia cuma ingat korek yang menyala, lalu padam, lalu ia pantik lagi, terus, sampai yang keluar cuma bunyi.Sebelum bangkit, ia menyebut namanya sendiri, pelan. "Ragil." Suaranya masih suaranya. Ia mengulanginya sekali lagi, untuk memastikan.Termometer: 35,2. Kemarin siang 35,3.Kotak nasi di bufet sudah basi. Gayung Mbah di sebelahnya masih terisi setengah.Hilux Juragan Harjo diparkir di tengah jalan lagi. Motor-motor yang mau ke tangki air harus naik ke teras Bu Sumi lagi.Harjo turun membawa beras Rojolele lima kilo, gula dua kilo, dan teh tubruk. Kemeja batiknya disetrika licin, kemeja







