Home / Horor / Jangan Mandikan Mayatku, Gil! / Bab 18: Cicilan Napas untuk Ragil

Share

Bab 18: Cicilan Napas untuk Ragil

Author: Murufu
last update publish date: 2026-10-07 12:02:31

"Makan dulu."

Itu yang pertama Ragil dengar. Kinan, duduk di lantai di samping dipan, buku folio Mbah terbuka di pangkuannya, sepiring nasi tertutup daun pisang di dekat kakinya.

Ragil berselimut. Selimut kotak-kotak Mbah, bau apak lemari.

"Jam berapa?"

"Satu siang. Kamu pingsan tujuh jam." Kinan tidak mengangkat kepala. "Makan dulu."

Ragil makan. Nasi dingin, sambal sisa kemarin. Kinan bercerita tanpa ditanya, dengan suara orang membacakan pengumu
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jangan Mandikan Mayatku, Gil!   Bab 20: Paku di Bantal Anak Mayat

    Ragil mencengkeram pergelangan Kinan dari belakang di langkah keenam.Kinan menjerit. Pendek, kaget. Tangan Ragil sudah sedingin gerendel yang seharusnya.Dari balik pintu, jeritan itu terdengar lagi. Persis. Sama pendeknya, sama kagetnya, dengan tarikan napas yang sama di ujung.Kinan berhenti meronta."Itu kalimatnya," kata Ragil. Napasnya pendek-pendek. "Tadi siang dia ngomong persis gitu ke aku. Ibu tahu siapa yang nulis nama Sarno. Bukain, nanti Ibu kasih tahu. Sama. Cuma ganti isinya."Kinan memandangi gerendel lama. Waktu ia bicara lagi, suaranya sudah kembali jadi suara guru honorer yang biasa menegur murid nyontek."Ibuku nggak pernah nyebut dirinya Ibu.""Hah?""Mak. Dia Mak. Seumur hidup." Kinan bicara ke pintu, bukan ke Ragil. "Kamu salah."Di luar diam. Lalu suara yang sama, logat yang sama, membetulkan dirinya tanpa malu sedikit pun."Mak tahu, Nanti."Langkah basah menja

  • Jangan Mandikan Mayatku, Gil!   Bab 19: Denda untuk Nomor Dua Belas

    Gerendel itu hangat.Besi di pintu dapur seharusnya dingin. Dapur Mbah tidak pernah kena matahari, dan dulu tiap kali demam Ragil menempelkan pipinya ke gerendel itu karena cuma benda itu yang dinginnya bisa diandalkan. Sekarang besinya hangat. Hangat tangan orang. Seperti baru dilepas seseorang yang menggenggamnya lama sekali dari sisi sebelah.Padahal gerendel cuma ada di sisi dalam."Buka, Nak," kata suara itu. "Nanti Ibu ceritakan semuanya."Jempol Ragil sudah menggeser besi itu sepanjang satu ruas jari.Kinan berdiri di ambang ruang tengah. Tidak melarang, tidak mendekat. Lama sesudahnya Ragil masih ingat itu: Kinan cuma berdiri dan menunggu dia memilih sendiri.Ragil menarik jempolnya."Maaf, Bu."Sepi. Lalu tawa kecil, tawa perempuan yang ditutup telapak tangan. Tawa itu memanjang, kemudian retak jadi dua. Yang satu berat dan serak, tawa laki-laki yang kebanyakan rokok. Yang satu lagi tipis, terlalu tinggi untuk orang dewasa. Mereka tertawa berbarengan tapi tidak kompak. Yang t

  • Jangan Mandikan Mayatku, Gil!   Bab 18: Cicilan Napas untuk Ragil

    "Makan dulu."Itu yang pertama Ragil dengar. Kinan, duduk di lantai di samping dipan, buku folio Mbah terbuka di pangkuannya, sepiring nasi tertutup daun pisang di dekat kakinya.Ragil berselimut. Selimut kotak-kotak Mbah, bau apak lemari."Jam berapa?""Satu siang. Kamu pingsan tujuh jam." Kinan tidak mengangkat kepala. "Makan dulu."Ragil makan. Nasi dingin, sambal sisa kemarin. Kinan bercerita tanpa ditanya, dengan suara orang membacakan pengumuman di masjid.Sarno ada di balai RT, di bak pikap Pak Kadus, ditutup terpal biru. Pak Mudakir tidak mau memandikan. Orang-orang Harjo juga tidak. Harjo menunggu. Katanya sampai magrib."Dodik?""Pulang jam sepuluh. Anaknya panas lagi." Kinan membalik halaman. "Dia minta maaf tiga kali. Aku hitung."Ragil menaruh piring. "Kamu dari tadi baca itu?""Aku nggak tidur dari semalam." Akhirnya ia mengangkat kepala. Pinggir matanya merah. "Sini."Ia

  • Jangan Mandikan Mayatku, Gil!   Bab 17: Mati di Depan Pintu Anak Mayat

    "Aku cuma nyopir, Gil."Suara Sarno turun ke bawah. Ragil bisa mendengar punggungnya merosot di papan pintu sampai ia terduduk di teras."Juragan nyuruh nyopir, aku nyopir. Nggak pernah nanya isinya apa.""Nyopirin siapa?" tanya Ragil.Tidak dijawab. Yang terdengar cuma napas, basah, seperti orang bernapas lewat sedotan di dasar gelas."Haus," kata Sarno. "Tenggorokanku kering. Air, Gil. Dikit aja."Ragil menoleh ke bufet. Gayung batok Mbah ada di sana, setengah penuh, bening. Tangannya sudah setengah terangkat waktu Dodik menahan bahunya."Gayung itu buat orang mati," bisik Dodik.Ragil menurunkan tangan. Ia menempelkan dahi ke papan pintu, di tempat yang ia kira sejajar dengan kepala Sarno di luar."Maaf, Mas."Di luar, Sarno tertawa. Pendek. Sekali. Lalu ada bunyi air tumpah ke papan, banyak, seperti ember ditendang. Bau lumut menyelip lewat celah bawah pintu."Gi..." kata Sarno. "G

  • Jangan Mandikan Mayatku, Gil!   Bab 16: Jari Siapa yang Menulis Nama Sarno?

    Goresan itu tidak berwarna merah.Dodik mengarahkan senter HP ke punggung bulus yang tinggal separuh di atas lumpur. Di baris kedua belas, di depan ekor panjang yang dulu ditarik Mbah, muncul garis-garis abu-abu. Mengilap. Warna pensil 2B yang ditekan terlalu keras di kertas buram.*Sret.* Berhenti. *Sret.*Sepuluh baris di atasnya kabur seperti tulisan di kaca berembun. Baris Yanto paling terang, tepat di atasnya. Dan di bawah baris Yanto, huruf demi huruf, ada yang sedang mengeja.Paraf di pergelangan kiri Ragil berdenyut. Satu denyut, satu goresan. Seperti dua jam dinding di satu ruangan yang lama-lama detaknya jadi sama."Gil," kata Dodik. "Tanganmu."Ragil menunduk.Telunjuk kanannya ada di luar bingkai jendela, masih basah air gayung. Dan telunjuk itu bergerak. Kecil. Naik, turun, menyamping, persis bersamaan dengan bunyi di tempurung.Ia tidak menyuruhnya.Ia menarik tangan itu ke dada dan mengge

  • Jangan Mandikan Mayatku, Gil!   Bab 15: Tulisan Mbah di Punggung Bulus

    Moncong itu masuk ke celah jendela. Tidak buru-buru. Seperti tangan yang menyelip ke saku orang lain dan tahu persis isinya. Daun jendela terdesak sampai mentok ke kalender, dan setiap kali bulus itu menghirup udara dapur, paraf di pergelangan Ragil berdenyut panas, seperti cap yang ditekan ulang. "Lari," kata Dodik. "Ke rumah Pak Mudakir. Sekarang." "Pintu depan nggak boleh dibuka." "Gil!" "Kamu sendiri yang lihat jejak kakinya muter tiga kali, Dik. Mau keluar ke situ?" Dodik diam. Ragil menoleh ke bufet. Gayung batok Mbah ada di sana, di samping HP yang dicas. Sejak Jumat pagi gayung itu tidak pernah kosong. Setengah penuh, bening, bau kapur barus. Menetes dari dasar, lalu terisi lagi sendiri. Ragil sudah berhenti bertanya dari mana airnya. Kepalanya menghitung. Selalu menghitung. Tiga puluh lima koma empat. Setengah derajat untuk Yanto. Setengah derajat dikali b

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status