"Tapi... tapi Teh, aku buk—" kataku terbata-bata.Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, Teh Wulan sudah mendorong pelan tubuhku ke dalam. Sentuhan tangannya yang lembut dan hangat membuatku seketika membisu. Dia bergegas menutup pintu depan, tetapi sebelum kunci diputar, matanya menyapu sekeliling pekarangan luar dengan gesit."Kalau ada yang lihat aku ke sini bisa gawat, Arya. Cepat bantu aku, kalau soal bayaran tenang saja," kata Teh Wulan berbisik cepat."Tapi aku nggak bisa, Teh. Sepertinya Teteh salah paham, aku tidak tahu caranya bagaimana," kataku bingung."Kamu jangan merendah gitu, masa tega sih sama sodara sendiri? Pas Abah Jon meninggal, cuma kamu yang ada sama dia, kan? Udah, kamu nggak usah nyangkal terus," cerocos Teh Wulan tanpa memberi celah."Tapi waktu itu cuma kebetulan, Teh! Aku lagi antar paket ke rumah Bu Marni Sukaesih dan..."“Ah udahlah, cepetan retouch susuk aku! Kalau terlambat bisa gawat!" potongnya tidak sabar.Tanpa aba-aba, kedua tanganku ditarik dan
آخر تحديث : 2026-09-30 اقرأ المزيد