Share

Bab 4. Penampakan

Penulis: Galaxybimasakti
last update Tanggal publikasi: 2026-09-30 16:22:01

Sampai akhirnya—

Byur!

Air dingin tiba-tiba mengguyur seluruh wajah dan tubuhku.

“Bangun, Jang! Jangan tidur di sini!”

Aku langsung tersentak. Napasku terengah-engah, sementara perkataan Abah Jon masih terngiang di kepala. 

Aku mengusap wajah dan menatap perempuan paruh baya yang berdiri di depanku. Beberapa detik kemudian, barulah aku sadar kalau semua yang terjadi tadi hanyalah mimpi.

“Ma-maaf, Bu. Tadi aku numpang istirahat dan nggak sadar sampai ketiduran,” kataku gugup.

“Ya sudah, sana pergi. Aku mau buka lapak di sini,” ujar ibu itu sambil menarik tali rafia yang diikatkan pada pohon kersen.

Aku mengangguk, lalu mendorong motor menjauh dari sana. Namun, ucapan Abah Jon masih membuatku kepikiran.

Kemarin Teh Wulan juga sempat bilang kalau aku punya sesuatu yang katanya bisa. Sekarang Abah Jon dalam mimpi malah mengatakan hal yang hampir sama. Jangan-jangan memang ada hubungannya?

Aku menggeleng pelan.

Ah, nggak mungkin. Di zaman sekarang mana ada dukun, kekuatan aneh, atau hal semacam itu?

Mungkin aku cuma terlalu lelah sampai bermimpi yang aneh-aneh.

“Ah, sudahlah.”

Aku pun menyalakan motor dan pergi. Tujuanku sekarang adalah tempat penjualan batu nisan yang biasanya banyak di pinggir jalan. Aku harus membeli satu untuk makam nenekku.

Aku melanjutkan perjalanan hingga menemukan tempat penjualan batu nisan di pinggir jalan. Di halaman, berbagai model batu nisan dan kerangka makam berjajar dengan bentuk yang berbeda-beda. Melihat pintu di depan sedikit terbuka, sepertinya pemiliknya ada di dalam.

“Assalamualaikum!” salamku sambil mengetuk pintu.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya berjubah dan berpeci putih keluar.

“Waalaikumsalam. Ada apa, Jang?” tanyanya ramah.

“Saya mau pesan batu nisan untuk nenek saya, Pak Haji,” jawabku sambil menunjuk deretan nisan di halaman.

“Oh, silakan dilihat dulu.” Ia kemudian mengajakku melihat beberapa model yang tersedia.

Aku sebenarnya ingin memilih yang paling bagus untuk Nenek agar awet. Namun, teringat pesan orang-orang tua bahwa nisan tidak perlu terlalu berlebihan dan sebaiknya sederhana.

Mataku kemudian tertuju pada kerangka makam berwarna hitam dengan ukiran emas.

“Kalau yang ini berapa, Pak Haji?” tanyaku sambil menunjuknya.

“Kalau sepaket delapan ratus ribu, Jang. Kalau cuma bagian kepalanya saja, empat ratus ribu,” jelasnya sambil menunjukkan bagian nisan tersebut.

Aku mengangguk. “Kalau gitu yang kepala saja, saya ambil yang ini.”

“Muhun. Berarti empat ratus ribu.” Pak Haji kemudian mengajakku masuk ke dalam. “Sekalian saya catat datanya.”

Aku duduk di kursi yang disediakan, sementara Pak Haji mengambil buku catatan.

“Nama lengkap neneknya siapa, Jang?” tanyanya sambil membuka halaman kosong.

Aku menyebutkan nama lengkap Nenek, kemudian dilanjutkan dengan tanggal lahir dan tanggal wafatnya. Setelah semua data dicatat, aku menyerahkan uang muka.

“Paling lama lima hari, Jang, baru bisa diambil. Kalau cuacanya bagus, bisa lebih cepat,” katanya sambil menyimpan uang tersebut.

“Muhun, Pak Haji. Hatur nuhun,” balasku sambil berdiri.

Setelah urusan nisan selesai, aku kembali menaiki motor dan melanjutkan perjalanan ke toko kelontong untuk membeli kebutuhan pokok serta beberapa barang yang sudah habis di rumah.

Setelah membeli beberapa kebutuhan pokok, aku melanjutkan perjalanan melewati pasar yang mulai ramai. Bau bunga dan dupa yang terbawa angin membuat pikiranku kembali tertuju pada Abah Jon.

“Apa aku ini memang penerusnya ya?”

Aku terkekeh pelan. Pertanyaan itu terdengar konyol bahkan di kepalaku sendiri.

“Sini, A! Mau beli dupa?” seru seorang pedagang dari pinggir jalan sambil mengangkat beberapa batang dupa. “Lagi diskon. Beli tiga, gratis buku panduan jadi dukun!”

Aku menoleh sekilas, lalu menggeleng.

“Nggak, Mang. Makasih,” jawabku sambil kembali memutar gas.

Namun, baru saja motor bergerak, pedagang itu menahan stang motorku.

“Eh, dengerin saya dulu, A. Lihat ini, dupa yang ini cocok buat Aa.” Bapak itu buru-buru mengambil beberapa batang dupa, salah satunya sudah menyala dan mengeluarkan asap tipis. “Aura Aa sudah kuat, loh. Tinggal diasah sedikit lagi. Kalau pakai dupa ini, Aa bisa lebih fokus dan bakat yang sudah ada jadi lebih gampang keluar.”

Aku menatap dupa yang menyala itu dengan dahi berkerut. Asapnya mulai membuat hidungku terasa geli. Aku menggeleng sambil mengibaskan tangan di depan wajah untuk mengusir asap yang mengarah ke hidungku.

“Aduh, Mang, saya nggak paham beginian. Saya permisi, ya. Hidung saya gatel kalau cium bau yang terlalu menyengat begini,” kataku sambil sedikit menjauh.

Pedagang itu masih menatapku seolah belum menyerah. Namun, aku buru-buru memutar gas dan meninggalkan tempat itu.

“Naon aih, gak jelas!” gerutuku sambil terus memutar gas motor dan melaju ke arah rumah.

Beberapa menit kemudian, aku tiba di rumah. Aku masuk ke halaman, mematikan mesin, lalu turun dari motor untuk memarkirkannya.

Baru saja tanganku hendak meraih gagang pintu, tiba-tiba terdengar suara seseorang memanggil namaku. 

“Arya …”

Refleks aku langsung menoleh ke arah jalanan depan dan rumah-rumah tetanggaku. Tapi, semua terlihat sepi, bahkan kucing lewat pun tidak ada. Memang saat akan masuk waktu magrib, lingkungan di sini memang sepi, orang-orang tidak ada yang keluar rumah.

Aku menggaruk kepala sambil mengernyitkan dahi. “Ah, urang halu aja mereun!”

Sambil menggelengkan kepala, aku memasukkan kunci ke lubang pintu rumah. Tapi, saat itu juga tiba-tiba seperti ada angin kecil yang berhembus di leher belakangku.

Wushh!

Seketika bulu kudukku berdiri. Aku kembali menoleh cepat. Tapi, aku tidak melihat satu daun pun yang bergoyang karena angin.

Keringat dingin langsung merembet cepat dari pelipis, bertolak belakang dengan hawa leherku yang terasa semakin beku.

“Naon, anying?!” pekikku sedikit panik.

Aku langsung buru-buru memutar kunci dan membuka pintu rumahku. Namun, begitu pintunya terbuka, langkahku mendadak terhenti. Mataku langsung membelalak saat melihat sosok seseorang berdiri diam di ruang tengah rumahku.

“A-abah Jon?”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 16. Kedatangan Teh Susi

    Setelah selesai makan, kami menyalakan rokok untuk menyegarkan badan, sementara Jupri mulai mengukur bentangan atap yang akan diganti menggunakan meteran gulung."Eh, maneh mah kerja saja atuh, Ar! Ini sudah jam tujuh lebih, nanti dicariin bos geura!" tegur Jupri mengingatkan."Urang hari ini libur, Pri, sudah izin. Hari ini batu nisan Nenek datang, jadi mau sekalian dipasangin di makam," jelasku santai."Pantesan dari tadi santai banget. Mau urang bantuin pasang batu nisannya, Ar?" tawar Jupri perhatian."Gak usah, Pri, urang juga bisa. Lagian cuma sedikit kok, cuma pasang bagian kepalanya doang, sisanya mau dipakein batu kerikil sama rumput korea," tolakku halus."Korea? Jepang meureun! Korea mah lem, bukan rumput!" celoteh Jupri tertawa menepuk bahuku."Salah sedikit ah! Ayo, Pri, kita langsung saja pasang biliknya!" ajakku mengalihkan pembicaraan.Kami pun mulai membongkar atap bilik bambu yang lama. Kami berdua memanjat naik ke atas rangka atap rumah. Pertama-tama, kami melepas

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 15. Gak mau lihat hantu!

    Aku merasa senang, sedikit demi sedikit ingin memperbaiki rumah, mudah-mudahan saja aku bisa memperbaiki seluruh rumah dengan yang baru karena ini hartaku satu-satunya peninggalan keluargaku.Semen, pasir, dan biliknya sedang diantar. Aku dan Jupri membawa keramiknya doang dengan motorku. Tak berapa lama pasir, semen, dan biliknya diantarkan, jadi besok Jupri sudah bisa langsung memperbaiki rumahku.Semuanya selesai pukul setengah tujuh malam, aku juga ikut mengangkat yang membuat tubuhku berkeringat. Aku duduk di ruang tamu hanya memakai kolor sambil merokok menunggu capeknya hilang.Hingga ponselku berdering ada notifikasi pesan masuk:[A ini dari toko batu nisan, mau ngasih tahu nisannya sudah beres dan besok akan diantar]Aku senang akhirnya batu nisan untuk nenek sudah jadi, tinggal bayar sisanya. Mungkin besok aku mau libur dulu saja sehari, aku ingin memasang batu nisannya sendiri dan juga besok hari pertama Jupri memperbaiki rumahku jadi mungkin butuh bantuan.Memikirkan banya

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 14. Muncul sosok ghaib

    "Belegug maneh mah!" bisik suara itu terkekeh usil.Sontak aku langsung berdiri karena kesal, tanganku masih memegang paha ayam bakar sambil melihat sekeliling."Saha nu belegug? Kalau berani tunjukkan pesonamu... eh wujudmu!" teriakku kesal sambil menunjuk ke arah sudut dapur.Tiba-tiba kursi yang aku duduki barusan bergerak sendiri memutar ke arahku.Tiba-tiba sesosok perempuan cantik duduk di depanku memakai daster bermotif daun ganja dengan posisi duduk tumpang kaki, kedua tangannya memegang mawar melatinya yang besar.Mataku melotot, kakiku mendadak kaku tidak bisa digerakkan."Lihat wanita aja payah maneh mah, masa dideketin cewek ampe keluar keringet dingin?" goda perempuan itu sambil tersenyum miring dan menatapku remeh."Si-siapa kamu?!" tanyaku terbata-bata dengan wajah panik.Suara tikus di atas atap seketika membuatku mendongak ke atas dan wanita tadi tiba-tiba menghilang."Allohuma barik lana..." gumamku cepat sambil merapatkan kedua tangan dan membaca doa.Sambil mencari

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 13. Siapa yang ketawa?

    "Kata Bu Wulan, setelah Abah Jon meninggal, Aa ini yang menggantikannya ya?" kata si pria itu membuka obrolan begitu aku meletakkan cangkir di depan mereka."Sebenarnya aku bukan penggantinya, Pak. Jadi waktu itu pas Abah meninggal, beliau mengira aku cucunya. Terus sebelum hembusan napas terakhir, beliau ngasih pesan kalau aku pewarisnya," jelasku sejujurnya."Oh, begitu ya... Tapi katanya Aa ini malah lebih jago dari Abah Jon," timpal si pria sambil mengangguk-angguk paham."Iya, selain itu Aa ini masih muda, ganteng banget lagi," puji si wanita sambil tersenyum lebar, membuatku makin salah tingkah.Kami pun saling mengobrol dan berkenalan. Pria itu bernama Pak Darman dan istrinya Bu Hetin. Mereka adalah pengusaha kaya dari kota yang memiliki beberapa cabang rumah makan cukup besar."Jadi begini, A... Sebelumnya kan kami sudah berlangganan sama Abah Jon. Kami ini mau memperbarui penglaris supaya rumah makan kami makin ramai pengunjung," terang Pak Darman menyampaikan maksud kedatang

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 12. Tamu baru

    "Waduh! Mau dibawa ke mana ini?! Tolong turunkan aku!" jeritku panik menatap daratan yang makin menjauh di bawah sana. Wanita cantik di sebelah kananku tersenyum manja sambil mengedipkan mata. "Bukannya tadi Arya bilang mau belajar terbang? Sekarang kita mau ajak kamu terbang menuju Kampung Janda!" Wanita di sebelah kiriku ikut menimpalinya dengan suara mendesah halus. "Kamu akan merasakan kenikmatan surgawi di sana, Arya... Selamat ya, kamu resmi terdaftar sebagai Dukun Terfavorit Tahun 2027!" "Hah.... Embung ah.. turunkan aku!" Aku berusaha menghempaskan tubuhku dan mengibaskan kedua tanganku sekuat tenaga hingga pegangan kedua wanita itu terlepas! Sontak tubuhku meluncur jatuh bebas dari ketinggian. "Akkkhhh...!" BRAG! Saat mataku terbuka lebar, aku melihat sekeliling. Aku kembali terbaring telentang di atas kasur busa di dalam kamarku sendiri, dengan napas terengah-engah dan jantung yang berdegup kencang. "Apa-apaan ini... Mimpi lagi? Kenapa lagi-lagi mimpiin si Abah sama

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 11. Muncul aki-aki mulu

    Di tengah kegelapan malam dekat makam, mendadak terdengar suara melengking wanita tertawa cekikikan dari arah rimbunan pohon kamboja! Suaranya mengalun dingin, membuat bulu kuduk di leher dan lenganku mendadak berdiri tegak. Tapi aku terus memaksa kakiku melangkah, aku harus berani dan yakin jika itu semua hanyalah halusinasi. "Arya... Arya..." Kini terdengar suara pria memanggil namaku dari arah kuburan. Suaranya serak berat dan terkesan bergema. Aku tetap berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun ke belakang. "Apa manggil-manggil?! Percuma saja, urang gak bakalan takut!" teriakku lantang tetap maju ke depan. Langkahku makin kupercepat hingga akhirnya tiba di depan pekarangan rumah Pak Ustadz Danu. "Assalamualaikum!" salamku sambil mengetuk pintu kayu rumahnya. Tak berapa lama kemudian, pintu terbuka. Pak Ustadz Danu muncul mengenakan peci putih dan kain sarung, menyambutku dengan senyuman ramahnya. "Waalaikumsalam! Eh, Jang Arya. Mari, silakan masuk dulu!" sambut Pak Ustadz r

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status