Share

Bab 3. Dihantui

last update publish date: 2026-09-30 16:17:50

Teh Wulan semakin membusungkan pundaknya ke arahku.

Aduh, gawat! Kalau sampai aku menyentuh mawar melatinya sekali lagi, bisa-bisa dia tahu kalau si Ucup di bawah sana sudah bergetar hebat!

"Ng-nggak, Teh. Bukan begitu—"

Tanpa terduga, Teh Wulan malah makin mendekat hingga tubuh kami menempel. Aku bahkan bisa merasakan mawar melatinya yang menekan dadaku.

"Kamu ini lucu juga ya, Arya. Udah bantuin aku, tapi masih aja bilang bukan kamu yang melakukan apa-apa," bisiknya sambil terkekeh pelan. "Aku ini udah beberapa kali di-retouch sama Abah Jon, jadi paham betul kalau prosesnya udah selesai seperti apa."

Tiba-tiba, tangan Teh Wulan sengaja menyentuh bagian bawah sarungku, tepat menghampiri si Ucup. 

Kringgg! Kringgg!

Suara dering ponsel seketika memecah suasana.

Teh Wulan menghentikan tangannya. Ia menarik napas sambil berdecak pelan, lalu merogoh tas tentengnya, lalu mengangkat telepon.

"Halo? Oh ... iya, Pak. Saya segera ke sana sekarang."

Teh Wulan mengakhiri panggilan, lalu menatapku dengan senyum manis.

"Yah, aku harus pergi sekarang, Arya," bisiknya sambil menyentuh dadaku pelan.

Teh Wulan berjalan menuju pintu, lalu membukanya sedikit. Namun, sebelum benar-benar keluar, Teh Wulan sempat menoleh dan mengedipkan mata. 

"Oh iya, bulan depan aku kan harus retouch aku lagi, nanti aku kasih apem banglades deh buat bonus."

Cklek.

Pintu tertutup rapat.

Aku masih berdiri mematung di tengah ruangan, mencoba mencerna perkataannya.

“Retouch lagi? Apem bangladesh apalagi itu?” gumamku seorang diri.

Edan. Aku tidak menyangka kalau adik tiri dari suami bibiku benar-benar nggak ada remnya.

**

Jam dinding di kamar menunjukkan pukul setengah lima pagi saat mataku terbuka.

Seperti biasa, aku bangun untuk bersiap-siap. Namun, tubuhku terasa jauh lebih ringan, segar, dan bertenaga. Bahkan setelah membereskan rumah dan memasak sarapan, aku sama sekali tidak merasa lelah.

"Masa iya gara-gara kejadian semalam?" gumamku sambil mengusap dagu.

Tapi, pikiran itu langsung kubuang. Konyol sekali! 

Mana ada cuma gara-gara memegang mawar melati cewek bisa bikin stamina meningkat drastis?

Meski begitu, ucapan Teh Wulan semalam terus terngiang di kepalaku. Dia benar-benar merasa susuknya berhasil di-retouch olehku. Entah cuma kebetulan atau memang ada hubungannya, aku juga tidak tahu.

Pukul setengah tujuh pagi, aku berangkat ke kantor ekspedisi. Begitu melihat timbunan paket yang harus kuantar, aku langsung bersiap menghadapi hari yang panjang.

Namun, dugaanku salah.

Pengantaran hari ini berjalan mulus tanpa kendala. Jalanan cukup lengang, pelanggan ramah, bahkan alamat yang biasanya sulit ditemukan bisa kutemukan dengan mudah.

Yang lebih gila, seluruh paket yang biasanya baru selesai menjelang siang berhasil kutuntaskan hanya dalam waktu dua jam!

"Buset, hari ini urang kesurupan apa, ya?" gumamku sambil menatap tumpukan paket yang sudah kosong.

Keberuntunganku ternyata belum selesai.

Saat mengantarkan salah satu paket COD, seorang bapak-bapak menyodorkan uang seratus ribuan untuk membayar paket seharga delapan puluh ribu rupiah.

Aku pun segera mencari uang kembalian di tas selempangku. "Ini kembaliannya 20 ribu, Pak."

Namun, bapak itu malah mengibaskan tangan sambil tersenyum. "Sudah, Aa. Ambil saja kembaliannya. Lumayan buat beli es teh."

Aku sempat melongo sebelum akhirnya tersenyum lebar. "Eh ... serius, Pak?"

"Iya. Anggap saja rezeki Aa hari ini." Bapak itu tersenyum sambil mengusap bahuku.

"Wah, terima kasih banyak, Pak!"

Setelah berpamitan, aku kembali ke motor dengan perasaan senang tanpa rasa curiga sedikitpun.

Tak jauh dari rumah bapak tadi, aku menemukan warung kecil di pinggir jalan. Setelah membeli satu es cekek, pandanganku tertuju pada sebuah pohon kersen yang tumbuh rindang tidak jauh dari warung.

Aku memarkirkan motor di bawahnya, lalu duduk bersandar pada batang pohon sambil menyeruput es teh.

"Hhhh … Rejeki urang bener-bener bagus ini. Habis ini sekalian lah beli nisan bagus buat nenek."

Angin sepoi-sepoi membuat daun-daun kersen bergoyang pelan. Setelah sejak pagi berkeliling mengantar paket, rasanya menyenangkan bisa duduk santai sebentar tanpa harus memikirkan pekerjaan.

Aku menatap es teh yang tinggal setengah.

Aku tersenyum sendiri membayangkan keberuntunganku ini. Namun, tak lama kemudian, kelopak mataku mulai terasa berat. Entah karena perut sudah terisi atau memang tubuhku baru merasakan lelah setelah seharian bekerja, rasa kantuk tiba-tiba datang begitu kuat.

"Merem sebentar kayaknya nggak apa-apa."

Aku menyandarkan kepala pada batang pohon. Gelas es teh plastik masih kugenggam di tangan. Sampai tanpa sadar, aku tertidur. 

Aku tidak tahu sejak kapan suasana di sekitarku berubah. Ketika membuka mata, aku sudah berada di sebuah ruangan yang dipenuhi asap kemenyan. Bau dupa yang menyengat bercampur dengan aroma bunga dan tanah basah. Di tengah ruangan, seorang lelaki tua duduk bersila di depan beberapa benda yang ditata di atas kain hitam.

Aku mengerutkan kening. Pemandangan di depanku benar-benar seperti praktik dukun yang sering kulihat di film-film.

Belum sempat aku bertanya sedang berada di mana, seseorang berjalan menghampiriku dari belakang.

“Abah Jon? Lah iya, bener!”

Aku langsung mengenali lelaki tua itu. Abah Jon tersenyum canggung sambil mengusap tengkuknya.

“Punten, Arya. Sebenarnya Abah juga teu nyangka bakal begini. Ada sedikit kesalahan waktu mengirim kekuatan, harusnya kekuatan itu dikirim ke orang lain, tetapi malah sampai ke kamu karena kamu yang di situ pas Abah meninggal, tapi kalau sudah terlanjur masuk, ya sudah, teu bisa diambil lagi.”

Aku menatapnya dengan dahi berkerut. “Heh? Kekuatan apa, Bah?”

Abah Jon tersenyum, lalu menepuk pundakku. “Ada pokoknya, kamu jangan takut. Anggep aja ini hadiah buat kamu karena udah nolongin Abah. Yang penting nanti dipakai baik-baik, ulah sembarangan. Soalnya kalau sudah ada di kamu, berarti kamu juga yang harus bertanggung jawab.” 

Aku masih belum benar-benar memahami perkataannya. “Ini maksudnya saya jadi dukun kayak Ab—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimat, tubuhku tiba-tiba terasa panas. Sensasi aneh menjalar dari telapak tangan, naik ke lengan, lalu menyebar ke seluruh tubuh. Dadaku mendadak berdebar kencang sampai aku refleks memegangnya. 

“Aduh! Apa-apaan lagi ini, Gusti?! Urang mati kah ini?!”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 39. Dedemit kepo

    Setelah selesai mandi dan badan terasa segar, aku berjalan ke ruang tamu dan duduk selonjoran di atas karpet.Aku merogoh ponsel di saku celana dan menyalakannya. Layar ponsel langsung dipenuhi dering notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab. Aku baru ingat kalau aku belum sempat membalas pesan dari Melisa sejak tadi siang.Ketik cepat: [Maaf Melisa, hari ini sepertinya tidak bisa ketemu. Mungkin besok saja ya.]Tak butuh waktu lama, Melisa langsung membalas pesanku.Balasan Melisa: [Ya sudah Kak, gak apa-apa kalau sibuk. Besok sepulang kerja, aku tunggu di rumah Bu Wulan ya, Kak!]Aku membalasnya dengan mengatakan bahwa jam pulang kerjaku tidak menentu. Tapi Melisa tetap bersikeras dan memaksa ingin tetap bertemu denganku besok.Selain dari Melisa, ada juga pesan masuk dari nomor lain, salah satunya dari Bu Priska.Pesan Bu Priska: [Arya, maaf ya soal kejadian tadi sore... Aku tadi sempat kebawa nafsu. Untungnya kamu langsung gercep kabur, ternyata yang datang itu suamiku padahal

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 38. Hantunya so akrab

    "Kok pulangnya telat, Bos?" sapa Umay sambil mengangkat kuas cat yang dipegangnya, menyeka keringat di dahinya yang belepotan cat putih."Iya, tadi paketnya lumayan banyak, May. Eh, kalian kok belum pada pulang? Ini kan udah mau magrib," tanyaku heran melihat mereka berdua masih merapikan perkakas."Kan nungguin Bos dulu. Kita berdua khawatir kalau-kalau warga kampung datang lagi buat gangguin kamu," jawab Jupri sambil menyalakan sebatang rokok, memasang muka sok pahlawan."Gak kok, Pri, semuanya aman sentosa. Oh ya, sebelum pulang mending makan dulu di dalam, masih banyak sisa masakan," tawarku ramah."Udah, Ar, baru saja makan tadi. Wah, kan kamu masaknya porsi tukang hajatan, sisa makanannya masih banyak banget itu! Tapi syukurlah kalau keadaan aman. Kalau gitu, urang pamit pulang sekarang ya, Ar, udah mau magrib nih," kata Jupri sambil menepuk celananya yang kotor."Iya nih, Ar, urang juga mau duluan. Takut keburu malam di jalan," timpal Umay mengemas tas kerjanya."Eh, tunggu seb

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 37. Godaan atasanku

    Begitu kuterawang menggunakan kemampuan batinku, "Ternyata penyebab semua ini ada pada suami Ibu," kataku menjelaskan akar permasalahannya."Maksud kamu apa Arya? Ah, jangan-jangan suamiku mandul?" terang Bu Priska dengan wajah serius menatapku.Aku menggelengkan kepala, "Bukan, tapi sepertinya suami Ibu ada masalah di ranjang ya? Menurutku dia mengalami ejakulasi dini, makanya gak tahan lama saat melayani Ibu dan mungkin ditambah faktor kelelahan akibat sibuk kerja." jelasku padanya menceritakan apa yang aku ketahui.Aku sendiri gak ngerti bisa tahu semua itu, tiba-tiba saja muncul di kepalaku dan mengetahui masalahnya. Hebat juga kekuatannya, entah apalagi kemampuanku ini yang belum aku tahu.Raut wajahnya seketika berubah matanya membelalak lebar, "Benar, hebat kamu bisa tahu Arya. Dia emang payah, baru aja mulai udah keluar duluan di tambah ukurannya kecil, mana kerasa. Eh ada obatnya kan, tapi di luar sana takutnya abal-abal.""Kalau gitu Ibu tenang saja, aku bisa meracik ramuan

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 36. Ajakan Bu Priska

    Mendengar kata-kataku yang memilih jalur damai, para warga yang tadi beringas dan memukuliku kini serempak menundukkan kepala. Wajah mereka menyiratkan rasa bersalah dan ketakutan kalau-kalau aku benar-benar melaporkan mereka ke pihak berwajib.Kang Komar dengan gemetar melangkah mendekatiku, lalu tanpa diduga langsung berlutut di hadapanku."Arya... Aku benar-benar minta maaf... Tolong jangan laporin kita ke polisi ya, Ar? Tadi itu kita semua panik lihat si Toni kesakitan sampai kejang-kejang..." ucap Kang Komar memelas dengan suara bergetar."Iya, Arya... Hampura pisan, kami sudah salah paham," tambah warga lainnya ikut berlutut.Aku menatap mereka satu persatu dengan tenang, lalu tersenyum tipis. "Iya gak apa-apa, aku sudah memaafkan kalian. Lain kali jangan mudah percaya gosip atau nuduh orang sembarangan, ya."Tidak ada satupun warga yang membuka suara. Suasana mendadak jadi sangat sepi dan canggung sepanjang perjalanan pulang. Aku berjalan melangkah keluar dari rumah Mang Komar

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 35. Bukan santet!

    "Ma-maksud Kang Komar apa? Sumpah, aku gak ngerti!" sanggahku panik."Ah, jangan pura-pura bego kamu, Arya! Kamu pasti lagi cari tumbal buat ilmu hitammu, dan sekarang malah berani mengguna-gunai anakku, si Toni!" maki Kang Komar makin beringas."Nggak, Kang! Ini salah paham! Aku sama sekali gak pernah ngelakukan itu!" bela diriku berusaha melepaskan cengkeramannya."Jangan banyak ngomong kamu! Dasar dukun santetl! Kamu harus diusir sekarang juga dari desa ini! Kalau perlu, kita arak keliling kampung biar kapok!" teriak Mang Asep, memprovokasi warga lain yang ikut berkerumun membawa kayu balok."Tolong lepaskan, Mang! Sumpah demi apa pun, aku tidak melakukannya!" erangku kesal saat beberapa tangan warga mulai mendorong dan menarik tubuhku secara paksa ke luar rumah.Tenaga mereka terlalu kuat. Tangan kanan dan kiriku ditarik kasar oleh warga yang emosinya sudah tersulut provokasi. Aku terus memberontak sekuat tenaga, berusaha melepaskan diri. Aku harus membuktikan pada mereka semua

  • Dukun Magang Idaman Wanita Desa   Bab 34. Di tuduh guna-guna

    Akhirnya aku berhenti, kuntilanak itu melayang dan berdiri di depanku. Tiba-tiba dia hormat padaku."Jadikan aku muridmu, Guru!" teriak si Kuntilanak dengan suara melengking bergidik.Aku terkejut bukan kepalang karena kuntilanak itu tiba-tiba sudah berada tepat di depanku. Yang lebih aneh lagi, hantu perempuan bergaun merah itu berdiri tegap sambil memberikan gestur hormat ala upacara bendera."Heh, Kun! Kenapa hormat padaku? Aku bukan polisi, dan apa maumu sebenarnya?!" tanyaku sambil memegang stang motor erat-erat."Guru, aku hanya ingin jadi muridmu! Aku tahu persis kemampuan luar biasa yang ada dalam dirimu itu," jawab si Kuntilanak memohon-mohon dengan mata berbinar-binar menyeramkan."Ngomong apaan kamu teh? Gak ngerti! Mending pergi sana, aku mau pulang istirahat!" tolakku ketus."Kau Arya kan? Pewaris sekaligus penerusnya Abah Jon? Abah Jon itu dulu guru besar kami, aku ini dulunya peliharaan beliau... Dan mulai sekarang, izinkan aku mengabdi sepenuhnya padamu, Guru!" ucap ku

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status