INICIAR SESIÓNGara-gara mengantar paket sore-sore, Arya malah mendapat suntikan ilmu dukun tak terduga dari Kakek tua yang sekarat. Sejak itu, hidup Arya yang semula pas-pasan dan lempeng malah berubah menjadi dikelilingi wanita cantik dari berbagai kalangan untuk memasang susuk dan lain-lain. Tapi, ternyata semua tidak berhenti di sana. Dunia gaib yang selama ini tidak pernah Arya percayai itu benar-benar membuatnya hampir gila!
Ver más“Tolong … Tolong!”
Aku menoleh cepat ke segala arah ketika mendengar suara itu. Tangan kiriku yang hendak mengetuk pintu milik terduga customer bernama Marni Sukaesih itu pun mendadak kaku, sementara tangan kananku meremas sebungkus paket hitam yang sepertinya berisi pakaian. Di gang ini, hanya ada tiga rumah yang jaraknya agak lumayan dekat, selebihnya berjarak hampir 250 meter. Aku sendiri tinggal di kampung sebelah, jadi tidak begitu mengenal warga di sini. Hanya beberapa orang yang kukenal karena sering kuantar paket, salah satunya pemilik rumah di sebelah kanan yang tadi sempat berpapasan denganku di jalan. Sementara rumah di sebelah kiri … aku tidak tahu siapa pemiliknya karena rumah itu bahkan terlihat seperti tidak berpenghuni. Aku buru-buru menggelengkan kepala, lalu kembali menggenggam erat paket di tanganku dan kembali memanggil, “Paket atas nama Marni Sukaesih!” Namun, belum ada jawaban dari orang yang kupanggil, tiba-tiba— BRAK! Aku langsung menelan ludah. Pandanganku perlahan kembali beralih ke rumah di sebelah kiri. Pintu depannya tertutup rapat, jendelanya juga tertutup semua. Tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. “Jangan-jangan …” Bulu kudukku semakin berdiri. Aku langsung teringat omongan bocil-bocil yang sering kulihat di lapangan. Mereka pernah bilang kalau penunggu rumah ini adalah kakek-kakek peot dengan badan bungkuk, wajah keriput, dan jenggot panjang sampai ke dada. “Ah, udahlah. Nanti balik lagi, tinggal bilang ada kendala gaib waktu pengiriman paket!” Aku langsung menaiki motorku. Namun, saat tanganku baru saja hendak memutar kunci itu, suara tadi kembali terdengar. “To … long … saya … uhuk!” Aku langsung membeku. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih jelas. Bukan sekadar rintihan yang samar, melainkan suara seseorang yang benar-benar sedang meminta pertolongan. Tanganku perlahan turun dari kunci motor. Bagaimana kalau memang ada orang di dalam sana? Bagaimana kalau orang itu sedang sakit atau terluka dan aku malah pergi begitu saja? Aku menatap rumah tersebut dari kejauhan, lalu tanpa sadar teringat pada nenekku. Sebelum meninggal, beberapa tetangga bilang kalau nenek sempat beberapa kali meminta tolong. Sayangnya, saat itu tidak ada orang yang datang dan aku juga sedang bekerja mengantar paket. Aku menggaruk kepala dengan gelisah. Akhirnya, dengan berat hati aku mematikan motor dan mengambil napas dalam-dalam. “Alah, udah lah coba liat dulu,” gumamku frustasi sebelum akhirnya turun dari motor dan berlari kecil ke arah rumah itu. Bahkan setiap kali angin berembus, aku refleks menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada sesuatu yang tiba-tiba muncul. “Permisi?” Tidak ada jawaban. Aku mendekati pintu perlahan, lalu kembali memanggil. “Permisi, ada orang?” Karena tak kunjung ada jawaban dan suara lain lagi, aku berencana untuk pergi. Namun, baru saja aku hendak berbalik— “Tolong …” Glek! Aku menelan ludah, lalu akhirnya memberanikan diri membuka pintu tersebut. Begitu pintu terbuka, pandanganku langsung tertuju pada seorang kakek tua yang tergeletak di tengah ruang tamu. “Ya ampun! Beneran manusia!” Aku buru-buru menghampirinya dan mencoba membangunkannya, tetapi kakek itu sama sekali tidak merespons. Aku langsung mengambil ponsel dan menelepon Mang Saman, petani kaya yang juga salah satu pelanggan paketku yang tinggal di kampung ini. “Mang, tolong ke gang arah perkebunan! Ini ada kakek-kakek tetangganya Marni Sukaesih pingsan di rumahnya!” Namun, saat aku masih berbicara di telepon, tiba-tiba tangan kakek itu bergerak dan mencengkram tanganku. Zrttt! “Argh!” Tubuhku tersentak. Aku bahkan sampai menjatuhkan ponsel. “Apaan itu?!” tanyaku bingung. Aku mencoba melepaskan tangan, tetapi percuma. Entah apa yang dilakukan kakek itu, tubuhku tiba-tiba terasa panas dan aliran aneh seperti terus mengalir dari tangannya ke dalam tubuhku. Beberapa detik kemudian, genggamannya perlahan mengendur dan kakek itu terkulai kembali. Aku terengah-engah sambil menatap tanganku sendiri dengan bingung. Tidak sampai satu jam kemudian, rumah yang tadinya sepi itu mendadak ramai. Warga berdatangan setelah Pak RT memberi kabar tentang meninggalnya kakek tersebut. Barulah aku tahu kalau namanya Abah Komarudin, tetapi warga sekitar lebih sering memanggilnya Abah Jon, tidak tahu juga kenapa. Dan yang membuatku semakin terkejut, ternyata kakek tua yang baru saja kutemukan itu adalah seorang dukun yang cukup dikenal. “Terima kasih, ya, Nak Arya. Kalau bukan kamu yang kasih tahu, mungkin kami nggak akan tahu secepat ini,” kata Pak RT. “Iya, Pak. Sama-sama.” Setelah urusan selesai, aku langsung pamit dan kembali mengantar paket yang masih tersisa. Gara-gara kejadian tadi, pekerjaanku jadi molor sampai malam. Aku baru sampai rumah hampir pukul sembilan malam. Setelah buru-buru mandi, aku hanya memakai sarung dan berniat langsung rebahan. Namun, baru saja hendak masuk kamar, terdengar suara ketukan dari pintu depan. Tok! Tok! Tok! Aku mengernyit. Siapa yang datang malam-malam begini? Aku tinggal sendirian dan jarang ada orang yang bertamu ke rumah, apalagi selarut ini. “Alah, siapa lagi lah ini. Udah malem begini, aing capek euy!” gerutuku, tapi tetap saja bangkit dan berjalan menuju pintu. Begitu pintu kubuka, aku langsung terdiam, tapi mataku seketika membesar. ‘Semok asli …’ pikirku dalam hati begitu melihat lekuk tubuh seksi wanita itu. Aku menelan ludah susah payah. Wanita itu adalah Teh Wulan, adik tiri dari suami bibiku, seorang PNS yang bekerja di kantor kecamatan. Hanya saja, keluarga mereka sudah lama tinggal terpisah dan kami nyaris tidak pernah bertemu. Jadi, meskipun kami masih punya hubungan keluarga, ini adalah pertama kalinya aku melihat Teh Wulan secara langsung. Pantas saja kalau namanya terkenal sampai satu kecamatan. Di usianya yang baru masuk kepala tiga, wajahnya masih cantik seperti ABG baru lulus SMA. Kulitnya putih mulus, rambut hitamnya terawat, tubuhnya wangi, dan lekuk tubuhnya benar-benar semlehoy membuat pandanganku susah dialihkan. Apalagi, ditambah mawar melati yang menonjol padat di bagian depan itu … aduhai. Benar-benar membuat semua pria waras hilang akal! Selama ini kukira orang-orang cuma melebih-lebihkan soal kecantikan Teh Wulan. Tapi ternyata setelah melihat langsung … Mereka malah kurang lebay! Namun, bukannya menyapaku, Teh Wulan malah menghembuskan napas kesal. “Alah, padahal malam ini susuk aku harus di-retouch. Eh, si Abah Jon malah keburu mati.” Aku langsung mengernyit bingung. Sementara Teh Wulan malah menatapku dari atas sampai bawah. “Tapi aku lebih nggak menyangka lagi kalau ternyata keponakan kakak tiriku juga belajar ilmu dukun.” “Hah? Maksudny—” Belum selesai aku bertanya, Teh Wulan langsung memotong ucapanku. “Udah ah, bagus juga sih kalau kamu emang penerusnya Abah Jon. Berarti kamu bisa, kan, retouch susuk aku, kan?”Tapi Abah Jon malah makin mempererat cengkeramannya. Selain rambutnya yang bau karbol, kini aroma tubuhnya yang kayak terasi makin menusuk indra penciumanku."Huekkk!"Aku mual dan ingin muntah di tempat. Aku membanting tubuhku ke belakang untuk meloloskan diri, sampai kakiku tiba-tiba menginjak tanah makam yang amblas dan gembur. Sontak hilang keseimbangan, aku terjungkal dan meluncur jatuh ke dalam jurang!"Aaaaa…!"BYUR!"Hah! Hah! Hah!"Saat aku membuka mata, aku sudah terbaring telentang di atas lantai semen rumahku. Napasku terengah-engah, dadaku naik turun, dan badanku basah kuyup oleh keringat.Rupanya aku tadi terjatuh dari atas ranjang. Ternyata semua itu cuma mimpi. "Gusti nu agung… mimpi kok rasanya kayak beneran," gumamku sambil mengusap dadaku yang masih berdebar kencang.Setelah mengantar paket nanti, aku harus segera menemui Teh Wulan di kantornya untuk menanyakan kejelasan mimpi ini. Aku sudah dua kali didatangi Abah Jon secara berturut-turut, dan ini benar-benar t
Aku langsung membeku di tempat. Rasanya seluruh tubuhku mendadak kaku dan aku bahkan tidak sanggup menggerakkan satu jari pun. Aku hanya menatap sosok itu dengan napas tertahan, sebelum akhirnya berkedip beberapa kali karena tidak percaya dengan apa yang kulihat.Namun, saat mataku kembali terbuka, sosok Abah Jon sudah tidak ada.“Lah…?”Aku menelan ludah, pandanganku berkeliling ruang tengah yang kini kembali kosong. Tadi siang aku sudah dimimpiin Abah Jon, dan sekarang orangnya malah muncul di rumahku. Jangan-jangan… benar kata orang-orang, aku memang sudah mendapatkan ilmu dari Abah Jon?Tapi, mana mungkin? 2026 begini mana ada dukun-dukunan sih!Kata Nenek dulu, percaya begitu bisa syirik. Jadi, sampai sekarang ya aku tidak pernah percaya hal seperti itu.Aku langsung menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran buruk itu. “Ah udahlah, ini pasti gara-gara mimpi aneh tadi siang, makanya urang jadi halu begini!”Kemudian aku kembali memperhatikan sekeliling rumahku yang memang ha
Sampai akhirnya—Byur!Air dingin tiba-tiba mengguyur seluruh wajah dan tubuhku.“Bangun, Jang! Jangan tidur di sini!”Aku langsung tersentak. Napasku terengah-engah, sementara perkataan Abah Jon masih terngiang di kepala. Aku mengusap wajah dan menatap perempuan paruh baya yang berdiri di depanku. Beberapa detik kemudian, barulah aku sadar kalau semua yang terjadi tadi hanyalah mimpi.“Ma-maaf, Bu. Tadi aku numpang istirahat dan nggak sadar sampai ketiduran,” kataku gugup.“Ya sudah, sana pergi. Aku mau buka lapak di sini,” ujar ibu itu sambil menarik tali rafia yang diikatkan pada pohon kersen.Aku mengangguk, lalu mendorong motor menjauh dari sana. Namun, ucapan Abah Jon masih membuatku kepikiran.Kemarin Teh Wulan juga sempat bilang kalau aku punya sesuatu yang katanya bisa. Sekarang Abah Jon dalam mimpi malah mengatakan hal yang hampir sama. Jangan-jangan memang ada hubungannya?Aku menggeleng pelan.Ah, nggak mungkin. Di zaman sekarang mana ada dukun, kekuatan aneh, atau hal se
Teh Wulan semakin membusungkan dadanya ke arahku.Aduh, gawat! Kalau sampai aku menyentuh mawar melatinya sekali lagi, bisa-bisa dia tahu kalau si Ucup di bawah sana sudah memberontak!"Ng-nggak, Teh. Bukan begitu—"Tanpa terduga, Teh Wulan malah makin mendekat hingga tubuh kami menempel. Aku bahkan bisa merasakan mawar melatinya yang kenyal dan padat menekan dadaku."Kamu ini lucu juga ya, Arya. Udah bantuin aku, tapi masih aja bilang bukan kamu yang melakukan apa-apa," bisiknya sambil terkekeh pelan. "Aku ini udah beberapa kali di-retouch sama Abah Jon, jadi paham betul kalau prosesnya udah selesai seperti apa."Tiba-tiba, tangan Teh Wulan sengaja menyentuh bagian bawah sarungku, tepat menghampiri si Ucup. Kringgg! Kringgg!Suara dering ponsel seketika memecah suasana.Teh Wulan menghentikan tangannya. Ia menarik napas sambil berdecak pelan, lalu merogoh tas tentengnya, lalu mengangkat telepon."Halo? Oh ... iya, Pak. Saya segera ke sana sekarang."Teh Wulan mengakhiri panggilan, l












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.